Dentmas.id – Siapa sangka, raksasa semikonduktor asal Amerika Serikat, Advanced Micro Devices (AMD), baru saja memukau para investor dengan kinerja keuangannya yang luar biasa gemilang pada kuartal II 2026. Perusahaan yang selama ini dikenal sebagai penantang berat Intel ini berhasil mencatatkan lonjakan pendapatan yang fantastis, yakni melesat hingga 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sungguh sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol di tengah persaingan industri chip yang semakin sengit!
Pada periode tiga bulanan yang berakhir pada 27 Juni 2026, AMD membukukan pendapatan sebesar 11,54 miliar dolar AS. Jika kita konversikan ke dalam rupiah dengan kurs Rp 17.970 per dolar AS, angka ini setara dengan sekitar Rp 207,3 triliun. Jumlah yang sangat menggiurkan ini tentu menjadi kabar gembira bagi para pemegang saham dan pengamat industri teknologi. Sebagai perbandingan, pada kuartal II 2025, pendapatan AMD masih berada di angka 7,69 miliar dolar AS atau sekitar Rp 138,2 triliun. Artinya, dalam kurun waktu satu tahun, mereka berhasil menambah pundi-pundi pendapatannya secara signifikan.
Tak hanya pendapatan yang meroket, laba bersih AMD pun ikut melonjak tinggi. Perusahaan yang bermarkas di Santa Clara, California ini mencatatkan laba bersih sebesar 2,3 miliar dolar AS, yang setara dengan Rp 41,3 triliun. Bayangkan, pada kuartal II 2025 lalu, laba bersih mereka hanya tercatat 872 juta dolar AS atau sekitar Rp 15,6 triliun. Kenaikan laba yang hampir tiga kali lipat ini tentu menjadi bukti nyata bahwa strategi bisnis sedang berada di jalur yang tepat.
Data Center Jadi Mesin Uang Andalan AMD
Apakah Anda penasaran apa yang menjadi pendorong utama pertumbuhan AMD? Jawabannya adalah divisi Data Center. Segmen bisnis inilah yang kini menjadi mesin uang baru bagi AMD, menyumbang porsi terbesar dari total pendapatan perusahaan. Divisi Data Center berhasil membukukan pendapatan sebesar 6,7 miliar dolar AS, atau mengalami pertumbuhan yang sangat impresif mencapai 107 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Lonjakan permintaan ini tidak terjadi begitu saja. mereka mengungkapkan bahwa kenaikan tersebut ditopang oleh tingginya permintaan terhadap prosesor server Epyc dan GPU AI Instinct. Kedua produk andalan ini memang sedang diburu oleh berbagai perusahaan teknologi karena dibutuhkan untuk mengembangkan kecerdasan buatan atau AI. Seiring dengan semakin masifnya adopsi AI di berbagai sektor, tidak heran jika produk-produk laris manis di pasaran.
Chief Financial Officer (CFO) AMD, Jean Hu, bahkan dengan percaya diri menyatakan bahwa pertumbuhan bisnis data center diprediksi akan semakin kuat pada paruh kedua tahun 2026. “Kami melihat tren positif yang terus berlanjut. Penjualan Data Center akan semakin meningkat pada paruh kedua 2026, yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan pendapatan yang lebih kuat dan ekspansi laba perusahaan,” ujar Jean Hu dalam paparannya kepada para analis.
Optimisme Lisa Su: Pertumbuhan Berlipat Ganda di 2027
CEO AMD, Lisa Su, juga turut menyuarakan optimisme yang sama. Bahkan, wanita jenius yang dikenal sebagai salah satu pemimpin paling berpengaruh di industri teknologi ini memprediksi bahwa tren pertumbuhan akan terus berlanjut hingga tahun depan. Dalam presentasinya kepada para investor, Lisa Su dengan tegas menyampaikan bahwa penjualan data center AMD diperkirakan akan kembali berlipat ganda pada tahun 2027.
“Permintaan terhadap AI accelerator maupun CPU saat ini tumbuh jauh di atas perkiraan kami sebelumnya,” ungkap Lisa Su dengan nada antusias. Pernyataan ini tentu menjadi sinyal kuat bahwa AMD tidak hanya puas dengan pencapaian saat ini, tetapi juga sedang menyiapkan strategi jitu untuk merebut pangsa pasar yang lebih besar di masa depan.
Lisa Su juga menambahkan bahwa peningkatan bisnis data center ini berbarengan dengan sejumlah penyedia layanan cloud atau yang biasa disebut hyperscaler yang terus memperluas penggunaan prosesor Epyc untuk infrastruktur internal maupun layanan cloud publik. Beberapa nama besar yang disebutkan Lisa Su adalah raksasa teknologi seperti Amazon Web Services (AWS), Microsoft, Google, Oracle, dan masih banyak lagi. Kerja sama dengan perusahaan-perusahaan kelas kakap ini semakin memperkuat posisi AMD di kancah persaingan global.
Bisnis PC dan Gaming Tumbuh Tipis, Embedded Ikut Menanjak
Meskipun data center menjadi bintang utama, AMD juga masih mencatatkan pertumbuhan di segmen bisnis lainnya. Divisi client dan gaming AMD, yang mencakup prosesor laptop, PC, dan konsol game, berhasil mencatatkan pendapatan sebesar 3,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 68,3 triliun. Angka ini mengalami kenaikan tipis sebesar 6 persen dibandingkan tahun lalu. Meskipun pertumbuhannya tidak sedrastis data center, namun tetap menunjukkan bahwa produk-produk AMD masih diminati oleh para gamer dan pengguna PC di seluruh dunia.
Sementara itu, segmen embedded yang mencakup chip untuk kebutuhan industri juga menunjukkan performa yang cukup baik. Segmen ini tumbuh sebesar 19 persen menjadi 977 juta dolar AS atau sekitar Rp 17,5 triliun. Pertumbuhan di sektor industri ini menunjukkan bahwa AMD berhasil mendiversifikasi produknya tidak hanya terpaku pada satu sektor saja.
AMD Genjot Belanja Modal, Proyeksi Kuartal III Makin Optimis
Untuk mendukung ekspansi bisnisnya, AMD juga meningkatkan belanja modal atau capital expenditure (capex) menjadi 808 juta dolar AS (sekitar Rp 14,5 triliun) pada kuartal II 2026. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar 282 juta dolar AS (sekitar Rp 5 triliun). Bahkan, jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang mencapai 389 juta dolar AS (sekitar Rp 7 triliun), peningkatan capex ini menunjukkan keseriusan AMD dalam memperluas kapasitas produksinya.
Melihat prospek bisnis yang semakin cerah, AMD pun memberikan proyeksi pendapatan yang optimis untuk kuartal III 2026. Perusahaan memprediksi pendapatan sekitar 13 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 233,5 triliun. Angka ini masih dengan toleransi plus minus 300 juta dolar AS (sekitar Rp 5,3 triliun). Proyeksi yang sangat ambisius ini diambil berdasarkan kepercayaan diri AMD terhadap permintaan pasar yang terus meningkat, terutama di sektor data center dan AI.
Dengan berbagai pencapaian impresif ini, AMD semakin menunjukkan taringnya sebagai salah satu pemain utama di industri semikonduktor global. Kesuksesan AMD tidak lepas dari visi kepemimpinan Lisa Su yang mampu membaca peluang pasar dan menghadirkan inovasi produk yang tepat sasaran. Kini, semua mata tertuju pada seberapa jauh AMD akan melangkah dalam persaingan dengan raksasa lainnya seperti Nvidia dan Intel.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










