Dentmas.id – Moonshot, perusahaan kecerdasan buatan asal Tiongkok, merilis model terbarunya yang diberi nama Kimi K3.1 Pro. Model ini diklaim memiliki kemampuan lebih unggul dalam memahami persoalan kompleks, menulis kode program, hingga menuntaskan pekerjaan secara otomatis. Berdasarkan pengujian Artificial Analysis Intelligence Index versi 4.3.2, Kimi K3.1 Pro berhasil meraih skor 55 poin.
Angka tersebut hanya terpaut tiga poin dari Claude Opus 5.5 besutan Anthropic yang menempati posisi puncak dengan 58 poin. Lebih mencengangkan lagi, skor tersebut melonjak 11 poin dibandingkan pendahulunya, Kimi K3.
Baca Juga: Vivo Rilis TWS Premium Buds Ultra, Bawa Fitur ANC Pintar dan Audio Spasial
Kemampuan agen AI dan coding meningkat
Peningkatan paling signifikan terlihat ketika Kimi K3.1 Pro dihadapkan pada tugas beruntun yang harus dikerjakan secara mandiri hingga tuntas. Kemampuan semacam ini merupakan ciri khas agen AI generasi terkini. Untuk mengukur kapabilitas tersebut, model ini diuji melalui Terminal-Bench 4.0, yaitu tes yang menilai seberapa piawai AI menuntaskan pekerjaan menggunakan terminal komputer, termasuk pemrograman dan operasi sistem. Hasilnya, membukukan skor 65,7 persen.
Angka ini melampaui GPT-6 Astra yang hanya meraih 58,2 persen, walau sedikit tertinggal di bawah Claude Opus 5.5 dengan skor 66,4 persen. Sebagai pembanding langsung, model lamanya, Kimi K3, nyatanya hanya mampu mengantongi 13 persen pada tes serupa. Dengan demikian, data tersebut menegaskan bahwa Kimi K3.1 Pro benar-benar melompat cukup jauh dalam soal penyelesaian tugas teknis melalui terminal. Namun perlu dicatat, skor unggul ini tidak otomatis berarti model tersebut menjadi yang terbaik di seluruh jenis pekerjaan pemrograman.
Baca Juga: Honor Win 2 Debut di Tiongkok: Usung Chipset 2nm Snapdragon dan Baterai 10.100 mAh
Selain itu juga diuji melalui GDPval-AA yang mengukur kemampuan AI dalam menyelesaikan pekerjaan profesional. Pada tes tersebut, model asal Tiongkok itu menyabet skor Elo 1.846 poin, naik 312 poin dibandingkan pendahulunya, Kimi K3. Skor ini juga sudah mendekati Anthropic Claude Opus 5.5 yang meraih 1.866 poin, serta Meta Muse Wonder Full dengan 1.857 poin. Dengan kata lain, jarak antara pendatang baru Tiongkok dengan pemegang takhta papan atas kini tinggal sejengkal.
Tingkat halusinasi diklaim menurun
Tidak berhenti pada urusan coding, Moonshot AI juga mengklaim bahwa Kimi K3.1 Pro lebih jarang berhalusinasi. Istilah halusinasi di sini merujuk pada momen ketika AI memberikan informasi yang terdengar sangat meyakinkan, padahal faktanya keliru. Untuk membuktikan klaim tersebut, pihak pengembang menggelar pengujian internal bernama Kimi Hallu Bench Hard. Hasilnya cukup menggembirakan, yaitu tingkat klaim keliru anjlok dari 23,4 persen di era Kimi K3 menjadi 8,3 persen pada Kimi K3.1 Pro. Namun demikian, GPT-6 Astra masih lebih unggul dengan angka 5,5 persen pada tes yang sama. Dengan demikian, walau terlihat lebih jujur, Kimi K3.1 Pro belum sepenuhnya menjadi juara dalam hal akurasi informasi.
Baca Juga: Resmi Meluncur! Samsung Galaxy Tab S12 Ultra dan S12+ Dibanderol Mulai Rp22 Jutaan di Indonesia
Selain Kimi K3.1 Pro, Moonshot AI juga menghadirkan varian lain bernama Kimi K3.1 Pro Highspeed. Versi ini diklaim sanggup beroperasi dua hingga tiga kali lebih cepat dibandingkan versi standar. Untuk urusan keturunan, Kimi K3.1 Pro sebenarnya dikembangkan dari Kimi K3, model yang memiliki hampir tiga triliun parameter. Sekadar informasi, parameter merupakan komponen yang dipelajari AI selama proses pelatihan agar ia mampu memberikan jawaban atau menuntaskan tugas tertentu. Di sisi lain, Moonshot AI juga menyatakan telah menghapus materi pelatihan terkait serangan siber sebelum merilis model berbobot terbuka ini. Langkah tersebut sengaja diambil guna mempersempit celah penyalahgunaan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Kabar baiknya, kini telah tersedia melalui layanan Kimi.ai, Kimi Work, Kimi Code, dan Kimi API, sebagaimana dihimpun dari The Decoder. Lebih lanjut, Moonshot AI telah menjadwalkan rilis bobot model secara terbuka alias open-weight pada 4 November 2026 mendatang. Artinya, para peneliti dan pengembang bakal bebas mengkaji, meneliti, hingga memodifikasi isi model ini ke depannya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










