Dentmas.id – Wah, kabar panas datang dari Amerika Serikat! Meta, perusahaan raksasa di balik Facebook dan Instagram, kini kembali terjerat kasus hukum yang bikin geleng-geleng kepala. Bukan main-main skandalnya, karena kali ini mereka digugat oleh 29 negara bagian AS sekaligus!
Bayangkan, para penggugat menuduh Meta dengan sengaja merancang platformnya bak jebakan mematikan yang membuat anak-anak dan remaja terus terpaku pada layar ponsel mereka. Dampaknya sungguh mengerikan! Tuduhan tersebut menyebutkan bahwa desain kecanduan ini ikut memperparah berbagai masalah kesehatan mental, mulai dari kecemasan yang menghantui, depresi yang membelenggu, hingga risiko bunuh diri yang mengancam generasi muda.
Berdasarkan laporan Reuters yang terpercaya, empat negara bagian yang memimpin perkara ini—California, Colorado, Kentucky, dan New Jersey—turut menuduh Meta melanggar hukum federal terkait pengumpulan dan penggunaan data pribadi anak. Wah, ini benar-benar serangan bertubi-tubi!
Hukuman Fantastis: Rp 25 Kuadriliun Siap Menguras Kantong Meta!
Jika nantinya dinyatakan bersalah, perusahaan teknologi yang didirikan oleh Mark Zuckerberg ini bakal menghadapi denda yang benar-benar mencengangkan! Meta sendiri memperkirakan nilai maksimal dendanya bisa mencapai 1,4 triliun dollar AS. Coba bayangkan angka itu dalam rupiah—sekitar Rp 25 kuadriliun! Dengan kurs Rp 17.811 per dollar AS, jumlah ini hampir setara dengan seluruh nilai pasar perusahaan. Sungguh angka yang sulit dibayangkan oleh kita semua!
Namun, jangan kaget dulu! Para jaksa agung negara bagian justru memperkirakan denda yang lebih “realistis”, yakni sekitar 200 miliar dollar AS atau kurang lebih Rp 3.562 triliun. Angka ini kira-kira setara dengan tiga tahun laba bersih Meta setelah pajak. Meski masih sangat besar, jumlah ini jelas jauh lebih rendah dari perkiraan Meta sendiri.
Bukan Cuma Denda: Meta Terancam Ubah Total Sistem Facebook dan Instagram!
Yang bikin kian pusing, para penggugat tidak hanya menuntut denda uang semata. Mereka menginginkan perubahan besar-besaran pada cara kerja Facebook dan Instagram! Beberapa tuntutan yang diajukan sungguh radikal, seperti menghilangkan fitur likes dan infinite scroll yang terbukti membuat pengguna kecanduan. Tak hanya itu, mereka juga meminta menerapkan batas waktu penggunaan bagi pengguna muda serta memperketat pembatasan agar anak di bawah 13 tahun tidak bisa mengakses platform tersebut.
Persidangan kasus ini kini sudah mulai berjalan di pengadilan federal Oakland, California, pada Selasa (18/8/2026) waktu setempat. Proses hukum ini dijadwalkan berlangsung selama sekitar enam minggu atau 1,5 bulan ke depan. Sungguh persidangan yang akan menyita perhatian dunia!
“Instagram Itu Narkoba!”—Tudingan Mengerikan dari Jaksa!
Dalam argumen pembuka yang mengejutkan, Wakil Jaksa Agung California Megan O’Neill melontarkan pernyataan kontroversial. Ia menggambarkan model bisnis Meta sebagai upaya sistematis untuk membuat pengguna terus betah di platform selama mungkin. Menurut O’Neill yang vokal, Meta ingin “mengait” pengguna, mempertahankan mereka dengan segala cara, mengumpulkan data mereka, kemudian menyembunyikan fakta tersebut dari publik.
Strategi ini, tegas O’Neill, bekerja sangat efektif terhadap anak-anak yang masih mudah terpengaruh. “Meta membutuhkan anak-anak, dan mereka perlu meyakinkan orang-orang yang peduli terhadap anak-anak tersebut bahwa mereka aman,” ujar O’Neill dengan nada tajam.
Yang lebih mencengangkan lagi, tim penggugat menyoroti sejumlah komunikasi internal perusahaan yang bocor ke publik. Salah satunya adalah e-mail internal kepada bos Instagram Adam Mosseri yang secara gamblang menyatakan bahwa “teen time spent” atau waktu yang dihabiskan remaja di platform menjadi salah satu tujuan utama mereka. Bahkan lebih parah lagi, dalam komunikasi internal lainnya, karyawan Meta pernah dengan gamblang menggambarkan Instagram sebagai “drug” atau narkoba dan menyebut diri mereka sebagai “pushers” atau pengedar!
O’Neill juga menuding mereka mempelajari secara ilmiah bagaimana otak anak bekerja dan bereaksi terhadap rangsangan di dunia online. Perusahaan kemudian melacak setiap interaksi mereka di aplikasi untuk mengoptimalkan kecanduan. Sungguh keterlibatan yang sangat mengkhawatirkan!
Meta Bantah Keras: “Itu Hanya Bahasa Ceroboh Karyawan!”
Tentu saja Mereka tidak tinggal diam menghadapi serangan bertubi-tubi ini. Mereka membantah keras tudingan bahwa Facebook dan Instagram sengaja dirancang untuk membuat anak-anak kecanduan. Pengacara Meta, Paul Schmidt, tampil percaya diri dalam persidangan. Ia mengatakan bahwa memang tidak dipungkiri sebagian pengguna media sosial menghadapi berbagai masalah, namun penelitian belum menunjukkan hubungan yang jelas antara penggunaan media sosial oleh remaja dan menurunnya kesejahteraan mereka.
Schmidt juga membantah anggapan bahwa CEO Meta Mark Zuckerberg menginginkan produk perusahaannya menjadi berbahaya. Terkait penggunaan istilah “drug” dalam percakapan internal yang mengejutkan publik, Schmidt berkilah bahwa karyawan terkadang menggunakan bahasa yang “ceroboh” dalam komunikasi pribadi. Menurutnya, hal itu tidak mencerminkan kebijakan resmi perusahaan.
Saksi Pertama: Mantan Engineer Bejar Buka Fakta Mengejutkan!
Setelah argumen pembuka selesai, mantan engineer keselamatan Meta, Arturo Bejar, menjadi saksi pertama yang dihadirkan negara bagian. Bejar yang selama ini vokal mengkritik perusahaannya sendiri menyebut bahwa Meta mengetahui sejumlah perangkat perlindungan anak di platformnya tidak bekerja sebagaimana mestinya. Ia bahkan menyinggung peluncuran produk populer seperti video pendek IG Reels yang aspek keamanannya tidak selalu menjadi pertimbangan utama saat pertama kali diluncurkan.
Yang membuat sidang kian menarik, Mark Zuckerberg dan CEO Instagram Adam Mosseri diperkirakan akan ikut memberikan kesaksian di persidangan. Meta nantinya juga akan menghadiri bukti-bukti mengenai upaya yang dilakukan perusahaan untuk meningkatkan keamanan platform. Namun akankah itu cukup untuk meredam kemarahan publik dan tuntutan hukum?
Juri Memberi Rekomendasi, Hakim Menentukan Nasib!
Dalam perkara penting ini, juri beranggotakan delapan orang akan memberikan putusan yang sifatnya sebagai rekomendasi. Keputusan akhir mengenai tanggung jawab Meta sepenuhnya berada di tangan Hakim Distrik AS Yvonne Gonzalez Rogers. Apabila Meta dinyatakan bertanggung jawab, hakim dapat menjatuhkan denda perdata sekaligus memerintahkan perubahan radikal terhadap Facebook dan Instagram.
Kilas Balik: Skandal Ini Sudah Bergulir Sejak 2023!
Perlu diketahui, gugatan terhadap perusahaan yang bermarkas di Menlo Park, California ini sebenarnya telah bergulir sejak 2023. Kasus tersebut muncul sekitar dua tahun setelah mantan karyawan Meta sekaligus whistleblower Frances Haugen bersaksi di Senat AS dengan pengakuan yang menggemparkan!
Haugen membocorkan ribuan lembar dokumen rahasia perusahaan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) setempat, penegak hukum, dan outlet media Wall Street Journal. Saat itu, Haugen menuding Meta mengetahui produknya dapat membahayakan anak dan mengetahui langkah yang bisa dilakukan untuk membuatnya lebih aman, tetapi tidak mengambil tindakan yang memadai karena kepentingan bisnis semata. Industri teknologi pun gempar!
Kini, Meta juga tengah menghadapi sejumlah perkara lain terkait dampak platformnya terhadap anak dan remaja. Pada Maret lalu, juri di Los Angeles memerintahkan Meta dan Google membayar 6 juta dollar AS (sekitar Rp 106,8 miliar) kepada seorang perempuan berusia 20 tahun yang mengaku kecanduan Instagram dan YouTube sejak masih anak-anak. Sementara awal Agustus ini, hakim di New Mexico juga memerintahkan Meta membayar 567 juta dollar AS (sekitar Rp 10 triliun) terkait dampak platform perusahaan terhadap kesehatan mental remaja.
Sungguh badai hukum yang tengah menghantam Meta! Apakah ini akan menjadi titik balik bagi industri media sosial? Kita nantikan kelanjutan persidangan yang menarik ini!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










