Dentmas.id – Sungguh sakit hati yang luar biasa! Seorang mantan Karyawan perusahaan teknologi di Singapura akhirnya mendekam di balik jeruji besi setelah nekat menghapus 180 server virtual milik bekas kantornya. Aksi balas dendam ini dilancarkannya beberapa bulan usai mendapat surat pemecatan.
Pria bernama Kandula Nagaraju ini dulu bekerja sebagai cloud consultant di perusahaan teknologi bernama NCS. Pihak perusahaan mengambil keputusan tegas pada Oktober 2022 karena performa kerjanya dinilai buruk. Namun, ironisnya, akses administratif miliknya tidak langsung mereka cabut setelah kontrak kerja diputus. Celah kecil inilah yang kemudian berubah menjadi malapetaka besar.
Akses Lupa Dicabut, Petaka Datang
Berdasarkan laporan Channel News Asia, Nagaraju dengan cerdik memanfaatkan akses yang masih aktif tersebut untuk menyusup kembali ke sistem perusahaan secara ilegal. Setelah dipecat, dia sempat terbang pulang ke India. Dari negeri sana, dia dengan berani mengakses sistem internal NCS berkali-kali antara Januari hingga Maret 2023 menggunakan laptop pribadinya.
Dia sengaja mempelajari setiap celah keamanan sistem. Dia juga menguji apakah semua aktivitas mencurigakannya dapat terdeteksi oleh tim keamanan perusahaan. Semua dilakukan dengan tenang dan terencana.
Kembali ke Singapura, Serangan Dimatangkan
Pada Februari 2023, Nagaraju kembali lagi ke Singapura. Dia memutuskan tinggal bersama mantan rekannya yang masih bekerja di NCS. Sungguh licik! Dia kemudian memanfaatkan jaringan WiFi rumah sang rekan untuk menyamarkan seluruh aktivitas akses ilegalnya ke sistem perusahaan. Dengan cara ini, jejaknya berusaha dia tutupi rapat-rapat.
Selama masa persiapan itu, dia rajin mencari script penghapus server di Google. Dengan tekad bulat, dia mulai mengembangkan program khusus untuk menghapus server virtual satu per satu. Tidak ada keraguan sedikit pun di hatinya.
Akhir Pekan Mencekam, 180 Server Raib
Serangan dahsyat itu akhirnya dia luncurkan pada Maret 2023. Dengan sekali eksekusi, Nagaraju menjalankan script buatannya untuk menghapus total 180 virtual server di lingkungan quality assurance (QA) milik NCS. Bayangkan, 180 server lenyap dalam sekejap!
Karena aksi keji ini terjadi saat akhir pekan, tidak ada satu pun tim yang menyadarinya. Pihak perusahaan baru mengetahui kerusakan parah pada Senin berikutnya, ketika tim QA mendadak tidak bisa mengakses sistem mereka. Panik dan kacau balau pasti melanda saat itu!
Terendus! Tim Keamanan Bergerak Cepat
Investigasi internal yang dilakukan NCS kemudian berhasil menemukan aktivitas mencurigakan dari akun administrator lama yang ternyata masih aktif. Tim keamanan perusahaan segera melacak log akses sistem. Hasilnya mengejutkan! Mereka menemukan adanya koneksi ilegal yang bersumber dari jaringan rumah rekannya di Singapura.
Polisi Singapura pun langsung dilibatkan untuk menyelidiki kasus pelik ini. Saat penggerebekan berlangsung, aparat dengan sigap menyita laptop pribadi milik Nagaraju yang dia gunakan untuk mengakses sistem perusahaan. Bukti sudah ada di tangan!
Hasil Forensik Digital: Tak Ada Ampun!
Dari hasil pemeriksaan forensik digital yang mendalam, polisi menemukan barang bukti lengkap. Script penghapus server, riwayat akses ilegal ke sistem NCS, hingga pencarian Google tentang cara menghapus virtual server secara massal semuanya tersimpan rapi di laptopnya. Semua bukti digital ini akhirnya membuat Nagaraju mengakui seluruh perbuatannya kepada penyidik. Dia tak bisa berkutik lagi.
Kerugian Fantastis, Hukuman Berat Menanti
Akibat ulah nekatnya tersebut, NCS mengalami kerugian hingga 917.832 dolar Singapura. Jika dirupiahkan, jumlah itu setara dengan sekitar Rp 11 miliar! Satu angka yang sungguh mencengangkan.
Meski begitu, perusahaan memastikan tidak ada data sensitif pelanggan yang tersimpan di server yang dihapus. Untunglah, sistem tersebut hanya mereka pakai untuk lingkungan pengujian software. Jadi, meski rugi besar, kebocoran data pelanggan berhasil mereka hindari.
Pada Juni 2024, pengadilan Singapura akhirnya menjatuhkan vonis. Nagaraju harus menjalani hukuman penjara selama dua tahun delapan bulan atas akses ilegal ke sistem komputer perusahaan. Karma sungguh datang cepat!
Ancaman dari Dalam: Pelajaran Berharga bagi Perusahaan
Kasus panas ini kembali menyoroti risiko insider threat atau ancaman dari orang dalam di perusahaan teknologi. Bahayanya nyata dan bisa menimpa siapa saja, terutama ketika akses administratif mantan pegawai tidak segera mereka cabut setelah keluar.
Para pakar keamanan siber dari konsultan Waterstons memberikan peringatan tegas. Perusahaan seharusnya memiliki prosedur offboarding atau pencabutan akses yang super ketat ketika pegawai keluar.
“Semua akun, termasuk akun administrator, idealnya langsung kami nonaktifkan setelah karyawan mengundurkan diri atau dipecat,” ujar pakar keamanan dari Waterstons dengan nada serius.
Prinsip Keamanan yang Wajib Diterapkan
Perusahaan juga sangat disarankan untuk segera menerapkan prinsip least privilege. Prinsip sederhana ini berarti pegawai hanya mendapatkan akses minimum sesuai dengan kebutuhan pekerjaannya. Tidak lebih!
Selain itu, akses administrator harus secara berkala mereka audit. Tujuannya jelas, untuk memastikan tidak ada akun lama yang masih aktif atau memiliki hak akses berlebihan. Jangan sampai ada “kartu mati” yang bisa disalahgunakan.
Untuk akun layanan (service account) dan akses admin lokal, perusahaan juga sebaiknya memakai sistem manajemen password terpusat seperti Microsoft LAPS. Dengan cara ini, password dapat segera mereka ganti ketika pegawai dengan akses khusus keluar dari perusahaan.
Lapisan Keamanan Ekstra Jadi Keharusan
Pakar keamanan juga menyarankan perusahaan untuk menambahkan lapisan keamanan tambahan. Autentikasi dua faktor menggunakan perangkat fisik (misalnya YubiKey) bisa menjadi tameng yang efektif. Mereka juga perlu segera melakukan pembatasan sumber akses tertentu melalui IP allow list atau conditional access.
Menurut analisis para ahli keamanan, kombinasi antara prosedur pencabutan akses yang lambat dan hak administrator yang terlalu luas menjadi penyebab utama insiden memalukan seperti kasus NCS ini bisa terjadi. Semoga kasus ini menjadi pelajaran pahit tapi berharga bagi semua perusahaan!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










