Dentmas.id – Bayangkan, Anda ditegur karena ketahuan nyontek, lalu meminta maaf… tapi malasnya sampai-sampai surat perminta maafnya pun Anda contek juga! Inilah kisah nyata yang sedang viral dan menjadi buah bibir di dunia maya. Sebuah skandal akademik yang cukup ironis baru-baru ini mengguncang University of Illinois, Amerika Serikat. Ratusan mahasiswa terbukti melakukan aksi “nitip absen” atau proxy attendance dalam sebuah mata kuliah. Namun, yang justru bikin geleng-geleng, saat diminta pertanggungjawaban, mereka kembali mengulang kesalahan yang sama dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menulis surat permintaan maaf! Kisah ini pun meledak di media sosial dan bahkan diangkat oleh media ternama sekelas The New York Times, menunjukkan betapa fenomenalnya kasus ini.

Sistem Clicker yang Canggih Ternyata Bisa Dikelabui
Selanjutnya, mari kita tilik lebih dalam latar belakang kejadiannya. Kasus ini bermula dari kelas Data Science Discovery yang diajar oleh dua profesor, yaitu Karle Flanagan dan Wade Fagen-Ulmschneider. Perlu Anda ketahui, kelas ini begitu populer sehingga diikuti oleh lebih dari 1.000 mahasiswa. Untuk mengelola presensi sejumlah besar mahasiswa ini, kedua profesor tersebut menggunakan sistem canggih bernama Data Science Clicker. Secara singkat, sistem ini mengharuskan setiap mahasiswa memindai QR-code yang ditampilkan di dalam kelas, lalu mereka harus menjawab sebuah pertanyaan pilihan ganda dalam waktu singkat, hanya 90 detik. Dengan demikian, kehadiran mereka akan tercatat secara otomatis.
Akan tetapi, kecurian mulai menghampiri kedua profesor hanya beberapa minggu setelah semester berjalan. Mereka dengan cepat menyadari adanya kejanggalan yang mencolok. Ternyata, jumlah mahasiswa yang berhasil menjawab pertanyaan dan terekam sistem hadir jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yang secara fisik terlihat memadati ruang kuliah. Fakta ini tentu saja menimbulkan tanda tanya besar. Bagaimana mungkin ada mahasiswa yang “hadir” secara digital, tetapi tidak hadir secara fisik?
Investeksi Digital Ungkap Modus Operandi Nitip Absen
Akibatnya, kedua profesor itu pun memutuskan untuk melakukan penyelidikan mendalam. Mereka segera melacak bukti-bukti digital seperti alamat IP para pengakses, log server, dan bahkan frekuensi refresh pada situs presensi. Hasil investigasi mereka pun sungguh mencengangkan! Ternyata, sejumlah mahasiswa ketahuan melakukan kecurangan dengan cara memindai kode QR dari luar kelas dan mengisi pertanyaan presensi dari lokasi yang tidak seharusnya. Dengan kata lain, mereka “nitip absen” agar terlihat hadir padahal sebenarnya tidak.
Kemudian, sebagai bentuk tindak lanjut, kedua profesor tersebut menghubungi sekitar 100 mahasiswa yang paling kuat indikasi kecurangannya. Mereka meminta para mahasiswa ini untuk memberikan penjelasan secara detail mengenai apa yang telah mereka lakukan. Pada fase ini, suasana sempat mengharukan. Awalnya, para dosen mengaku merasa terharu karena banyak dari mahasiswa yang secara jujur mengakui kesalahan dan dengan sigap mengirimkan surel berisi permintaan maaf. Mereka mengira para mahasiswa telah menyadari kesalahan dan bertanggung jawab.
Momen Memalukan: Surat Maaf “Template AI” Dipajang di Depan Kelas
Namun, rasa haru itu segera berubah menjadi kekecewaan yang dalam begitu mereka menyadari ada sesuatu yang aneh dari surat-surat maaf tersebut. Rupanya, sebagian besar permintaan maaf itu ditulis dengan gaya bahasa yang seragam dan sangat kaku, sehingga sangat kuat indikasinya dihasilkan oleh chatbot AI. Para profesor dengan mudah mengenali ciri-ciri tulisan buatan mesin itu. Betapa tidak, sekitar 80 persen dari surel permintaan maaf itu memiliki susunan kata yang hampir identik dan terkesan seperti template. Ungkapan “I sincerely apologize” atau “Saya dengan tulus meminta maaf” muncul berulang-ulang di hampir setiap surel, dengan struktur kalimat dan pilihan diksi yang nyaris sama persis.
Selanjutnya, untuk memberikan pelajaran yang tak terlupakan, kedua profesor mengambil langkah edukatif yang dramatis. Dalam sesi kuliah pada tanggal 17 Oktober lalu, mereka menampilkan isi semua surel permintaan maaf itu di layar proyektor kelas. Bayangkan malu yang mereka rasakan! Tindakan ini bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk menunjukkan betapa transparannya proses ini. Salah satu profesor bahkan mengunggah kronologi kejadian ini ke media sosial Instagram, yang kemudian menjadi viral dan dibahas ribuan netizen. Meskipun demikian, tidak ada hukuman berat yang dijatuhkan. Justru, kedua profesor menyebut peristiwa ini sebagai “pelajaran hidup” yang sangat berharga bagi para mahasiswa tentang integritas dan kejujuran.
Fenomena AI Slop: Wabah Kecanduan AI di Kalangan Kampus
Yang lebih mencengangkan lagi, kasus ini ternyata bukanlah sebuah insiden yang berdiri sendiri. Seperti yang dirangkum dari Arstechnica, budaya “kecanduan AI” sudah merajalela di kampus tersebut. Di forum Reddit khusus Universitas Illinois, banyak asisten dosen dan mahasiswa yang membenarkan bahwa penggunaan AI untuk urusan akademik merupakan hal yang sangat umum. Seorang asisten dosen dengan gamblang menyebut bahwa “AI slop”, sebuah istilah slang untuk menyebut karya sampah buatan AI, terdeteksi dalam 75 persen tugas yang dikumpulkan mahasiswa!
Selain itu, banyak mahasiswa yang dengan terang-terangan mengaku menggunakan ChatGPT untuk menulis berbagai tugas esai. Bahkan, yang lebih parah, ada yang menggunakan AI untuk menyelesaikan soal-soal pemrograman dasar yang seharusnya bisa mereka kerjakan sendiri. Fenomena ini menggambarkan ketergantungan yang berbahaya.
Akan tetapi, kita juga harus mendengarkan sisi lain dari cerita ini. Beberapa mahasiswa merasa dirugikan karena dituduh menggunakan AI tanpa bukti yang kuat. Mereka berargumen bahwa alat pendeteksi AI yang digunakan oleh kampus sering kali tidak akurat dan bisa saja menjebak mahasiswa yang benar-benar mengerjakan tugasnya sendiri. Akibatnya, sebagian dosen akhirnya hanya mengandalkan feeling atau intuisi pribadi untuk menilai apakah sebuah tulisan benar-benar orisinal atau hasil jiplakan mesin. Situasi ini menciptakan ketidakpastian dan rasa tidak adil di kalangan mahasiswa.
Pada akhirnya, kisah nitip absen dan surat maaf ala AI ini menjadi cermin besar bagi dunia pendidikan di era digital. Di satu sisi, teknologi menawarkan kemudahan, tetapi di sisi lain, teknologi juga menggoda orang untuk mencari jalan pintas yang merugikan. Integritas dan kejujuran akademik harusnya tidak tergantikan oleh kecanggihan algoritma apa pun. Pelajaran berharga ini, meski diawali dengan aksi mempermalukan diri sendiri, semoga bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu mengutamakan kejujuran di atas segalanya.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Exposenews.id










