JAKARTA, Dentmas.id – Siapa sangka, kecerdasan buatan (AI) buatan OpenAI yang bernama Codex ini benar-benar menggebrak pasar Indonesia sepanjang tahun 2026. Pertumbuhannya luar biasa cepat dan bahkan tembus ke berbagai sektor di luar dunia pemrograman.
Fakta mengejutkan ini langsung diungkapkan oleh Head of Policy OpenAI untuk kawasan Asia Tenggara, Sandy Kunvatanagarn. Ia memaparkan data tersebut dalam acara peluncuran laporan bertajuk “Closing Indonesia’s AI Capability Gap” yang berlangsung di Hotel Morrissey, Jakarta Pusat, pada Kamis (3/9/2026) lalu.
Menurut penjelasan Sandy, jumlah pengguna aktif mingguan Codex di Tanah Air kini melonjak hingga 12 kali lipat dibandingkan awal tahun 2026. Bayangkan, dalam kurun waktu kurang dari sembilan bulan, antusiasme masyarakat terhadap agen AI ini meroket tajam. Bahkan, Indonesia berhasil masuk dalam jajaran lima besar negara di dunia yang paling sering memanfaatkan ChatGPT untuk keperluan Codex dan analisis data.
Lebih mencengangkan lagi, keterlibatan pengguna berdasarkan data pengguna aktif harian juga menunjukkan peningkatan yang fantastis, yakni mencapai 16 kali lipat hingga April 2026. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat tidak sekadar mencoba-coba, melainkan benar-benar menjadikan Codex sebagai bagian dari rutinitas kerja mereka.
“Momentum ini sangat besar dan semakin banyak orang yang terus memakai Codex secara berkelanjutan, bukan hanya sekali pakai lalu ditinggalkan,” ujar Sandy dengan penuh optimisme di hadapan para undangan.
Di Luar Ekspektasi: Codex Justru Digandrungi Divisi Non-Teknis
Yang menarik, Codex yang memang diciptakan khusus untuk membantu proses pengkodean atau coding secara otomatis, ternyata memiliki kejutan besar. Berdasarkan data internal OpenAI, lebih dari separuh total token, prompt, dan berbagai use case yang diberikan pengguna ke Codex, sama sekali tidak berhubungan dengan aktivitas pemrograman. Persentasenya bahkan tembus di atas 50 persen! Sungguh di luar dugaan, bukan?
Lantas, apa saja yang dilakukan pengguna jika bukan coding? Sandy membeberkan bahwa aktivitas tersebut justru berkaitan dengan tugas-tugas profesional lainnya, terutama dalam pekerjaan berbasis pengetahuan. Contohnya, menyusun laporan yang rumit, melakukan analisis data yang mendalam, hingga membuat grafis dan materi presentasi yang menarik. Dengan kata lain, Codex telah bertransformasi menjadi asisten serba bisa bagi para pekerja kantoran.
Fenomena serupa ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Secara global, pola penggunaan Codex di kalangan enterprise atau perusahaan besar juga menunjukkan tren yang sama. Bahkan, divisi-divisi non-teknis seperti tim legal, sales, marketing, hingga rekrutmen justru menjadi pengguna yang paling aktif.
Sektor legal, misalnya, mencatat lonjakan penggunaan Codex yang luar biasa, yakni meningkat hingga 108 kali lipat berdasarkan jumlah pengguna aktif mingguan sejak Februari 2026. Angka ini menunjukkan bahwa profesi yang identik dengan dokumen dan kontrak hukum pun mulai merasakan manfaat besar dari agen AI ini.
Fenomena ini memberikan gambaran jelas mengenai potensi produktivitas yang bisa diraih apabila perusahaan-perusahaan di Indonesia mulai mengadopsi agentic AI untuk berbagai pekerjaan non-teknis. Tidak hanya efisien, tetapi juga membuka peluang baru dalam cara kita bekerja.
Indonesia Punya Pengguna AI Kelas Dunia, Tapi Ada Celah Besar
Secara umum, tingkat kemampuan penggunaan AI di Indonesia sudah masuk dalam kategori lanjutan. Masyarakat kini mulai memanfaatkan AI untuk mengerjakan tugas-tugas yang kompleks dan bernilai tinggi. Bahkan, pengguna AI tingkat lanjut di Indonesia telah beroperasi pada salah satu tingkat tertinggi atau frontier di dunia.
Data OpenAI dengan tegas menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat lima besar global dalam penggunaan ChatGPT untuk Codex dan analitik data. Sekelompok pengguna dalam kategori ini juga telah menerapkan AI secara tepat guna, sehingga produktivitas mereka melonjak drastis. Mereka tidak hanya sekadar bertanya, tetapi sudah menggunakan AI untuk memecahkan masalah yang rumit.
Akan tetapi, di balik prestasi tersebut, terdapat kesenjangan atau gap yang cukup mencolok antara kelompok pengguna AI tingkat lanjut dengan rata-rata pengguna AI di Indonesia. Data mengungkapkan bahwa 5 persen pengguna teratas memakai token penalaran 11 kali lebih banyak dibandingkan rata-rata pengguna lainnya. Perbedaan ini sangat signifikan dan patut menjadi perhatian serius.
Secara sederhana, masih banyak pengguna yang hanya memakai AI untuk tugas-tugas yang relatif sederhana dan belum memanfaatkan kecerdasan buatan secara optimal. Mereka mungkin hanya menggunakan AI untuk pertanyaan dasar atau pekerjaan administratif ringan, tanpa menggali potensi penuh dari teknologi ini.
OpenAI menyebut kondisi ini sebagai “kesenjangan kapabilitas” atau capability gap. Kesenjangan ini diukur melalui beberapa indikator penting, seperti kedalaman penalaran yang digunakan, ragam tugas yang dikerjakan dengan bantuan AI, serta tingkat adopsi teknologi AI secara keseluruhan.
Sandy menjelaskan bahwa kelompok pengguna teratas di Indonesia telah memanfaatkan AI untuk berbagai kebutuhan kompleks, seperti coding, analisis data mendalam, riset ekstensif, menulis konten berkualitas, hingga perencanaan strategis. Mereka benar-benar menggunakan AI sebagai mitra kerja yang andal.
Tantangan Nyata: Bukan Sekadar Tambah Pengguna, Tapi Perluas Manfaat AI Tingkat Lanjut
Karena itu, tantangan Indonesia ke depan bukan hanya sekadar meningkatkan jumlah pengguna AI. Lebih dari itu, kita harus memperluas pemanfaatan AI tingkat lanjut kepada lebih banyak masyarakat dan perusahaan. Jangan sampai hanya segelintir orang yang menikmati keuntungan maksimal dari teknologi ini.
“Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana kita memperluas jangkauan dari kelompok frontier ini ke seluruh lapisan masyarakat dan dunia bisnis lainnya. Dengan begitu, kita dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi secara merata,” kata Sandy dengan tegas.
OpenAI pun memaparkan dua komponen utama yang diperlukan untuk menutup kesenjangan kapabilitas AI di Indonesia. Pertama, memperluas akses terhadap teknologi AI. Menurut OpenAI, keterbatasan akses terhadap teknologi AI yang mumpuni, baik bagi pekerja maupun institusi, dapat menghambat peningkatan produktivitas yang seharusnya bisa diraih. Akses yang luas akan membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk belajar dan beradaptasi.
Kedua, mendorong penggunaan AI tingkat lanjut dengan membekali masyarakat dengan keterampilan dan kapasitas yang memadai. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk menerapkan AI pada pekerjaan yang kompleks dan memberikan dampak besar. Pendidikan dan pelatihan menjadi kunci agar AI tidak hanya menjadi alat, tetapi juga solusi cerdas untuk berbagai tantangan.
Dengan langkah-langkah strategis ini, Indonesia berpeluang besar untuk tidak hanya mengejar ketertinggalan, tetapi juga menjadi pemimpin dalam pemanfaatan AI di kawasan Asia Tenggara. Potensinya sangat besar, dan saatnya kita semua bergerak bersama untuk mewujudkannya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










