Dentmas.id – Dunia teknologi saat ini benar-benar diguncang oleh isu kelangkaan memori (RAM) dan media penyimpanan (storage), yang secara langsung telah memaksa raksasa elektronik seperti Asus untuk berpikir keras mencari solusi. Sebagai informasi, kedua komponen ini adalah nyawa bagi berbagai gadget kesayangan kita, mulai dari smartphone hingga laptop. Lebih lanjut, fenomena langka ini ternyata dipicu oleh meledaknya permintaan dari pusat data AI yang serakah akan RAM! Selain itu, beberapa produsen memori besar pun kini lebih fokus memproduksi komponen khusus AI, sehingga mereka secara perlahan mengabaikan pasokan untuk produk konsumen biasa yang menjadi tulang punggung bisnis Asus.
Baca Juga: Inilah RAM yang Harganya Disejajarkan dengan Mobil Mewah Denza D9
Harga Melambung dan Vendor Kelimpungan
Kondisi tersebut jelas-jelas membuat stok RAM dan storage menipis drastis. Akibatnya, harganya pun meroket tak terkendali, bahkan mencapai kenaikan ratusan persen! Di sisi lain, vendor PC dan laptop tentu saja dibuat pusing tujuh keliling. Pasalnya, mereka harus putar otak mencari solusi, mengingat komponen tersebut merupakan jantung dari produk mereka.
Baca Juga: Nvidia Bersiap Ekspor 80.000 Unit GPU H200 ke Pasar China
Namun, kabar mengejutkan datang dari vendor ternama asal Taiwan, Asus. Belakangan ini, beredar rumor bahwa Asus berencana memproduksi komponen RAM sendiri demi mengatasi kelangkaan global ini. Menurut informasi, model memori yang akan mereka garap adalah RAM DDR5, dengan menyentuh level manufaktur chip DRAM yang lebih rumit.
Bocoran Pabrik RAM Asus dan Strategi Bisnisnya

Bocoran ini pertama kali diungkap oleh media teknologi asal Iran, Sakhtafzarmag. Dalam laporannya, mereka menyebutkan bahwa Asus berpeluang besar membuka pabrik chip DRAM pada 2026. Tujuannya jelas: mengurangi ketergantungan pada pemasok memori raksasa dunia. Tak hanya itu, langkah strategis ini juga diklaim dapat menekan biaya produksi mereka secara signifikan.
Baca Juga: Bug pada Firmware Motherboard Buka Celah untuk Serangan Saat Booting
Sebagai hasilnya, Asus berpotensi menjaga harga produknya tetap kompetitif di pasaran, di tengah badai lonjakan harga RAM dan storage global. Oleh karena itu, beberapa analis pun menilai bahwa langkah Asus memproduksi chip DRAM sendiri terlihat ekstrem, tetapi tetap masuk akal jika krisis memori ini berlangsung dalam jangka panjang.
Tantangan Berat dan Klarifikasi Pihak Asus
Meski terdengar menjanjikan, kita harus tahu bahwa memproduksi RAM sendiri bukanlah perkara mudah. Proses ini jelas membutuhkan investasi modal yang sangat besar serta dukungan teknologi canggih dari pemain DRAM yang sudah mapan. Mengingat besarnya tantangan tersebut, laporan tadi juga menyebut bahwa Asus tengah mempertimbangkan opsi lain, yaitu menjalin aliansi strategis dengan perusahaan asal China, CMXT.
Baca Juga: Mau Ganti HP atau PC Tahun Depan? Siap-siap dengan Harga yang Tak Bersahabat
Perlu diketahui, CMXT baru-baru ini memperkenalkan produk memori DDR5 dan LPDDR5X. Walaupun berpotensi menjadi alternatif penyeimbang dominasi raksasa memori global, CMXT sendiri masih dikabarkan menghadapi kendala kapasitas produksi. Selain itu, hambatan regulasi ekspor peralatan manufaktur dari Amerika Serikat juga membayangi mereka. Alhasil, pasokan RAM dari China belum bisa diandalkan untuk menekan harga secara signifikan di pasar global.
Kembali ke isu utama, Asus akhirnya memberikan klarifikasi resmi menanggapi kabar panas dari Sakhtafzarmag. Dalam pernyataannya kepada media CNYES Taiwan, Asus dengan tegas menyatakan bahwa mereka saat ini tidak memiliki rencana untuk berinvestasi atau membangun lini produksi RAM DDR5 sendiri. Namun, pihak perusahaan juga menegaskan bahwa mereka akan terus memantau dinamika industri komponen global dengan cermat sebelum menentukan strategi bisnis ke depannya.
Baca Juga: Diduga Jual Data ke Kompetitor, 10 Eks-Pegawai Samsung Ditangkap
Lalu, bagaimana nasib kita sebagai konsumen? Tampaknya, fenomena kelangkaan memori dan storage ini diprediksi masih akan berlangsung cukup lama. Sebagai contoh, salah satu produsen memori besar, SK Hynix, bahkan pernah memprediksi krisis RAM bisa berlanjut hingga 2028! Dengan kata lain, kita harus bersiap-siap menghadapi kenyataan pahit: harga laptop dan PC dalam beberapa tahun ke depan berpotensi menjadi lebih mahal.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










