Dentmas.id – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memang sudah menjelma menjadi kebutuhan utama masyarakat modern di era digital saat ini, baik untuk mempermudah operasional bisnis raksasa maupun sekadar membantu tugas harian perorangan. Namun, di balik semua kemudahan teknologi yang tampak sangat magis tersebut, publik jarang menyadari bahwa operasional data center raksasa membutuhkan pasokan air murni yang amat dahsyat agar tetap beroperasi tanpa henti. Akibatnya, ketergantungan yang luar biasa besar terhadap sumber daya air ini mulai memicu kecemasan mendalam di kalangan pemerhati lingkungan global.
Oleh karena itu, para ilmuwan dunia terus berusaha mengkritisi dampak tersembunyi dari ekspansi teknologi pintar ini. Berdasarkan studi kredibel yang dipublikasikan di jurnal Nature, sebuah data center berkapasitas 1 megawatt (MW) ternyata dapat menghabiskan hingga 25,5 juta liter air setiap tahunnya hanya demi menjalankan sistem pendingin mesin. Bahkan, jumlah volume air bersih yang sangat fantastis ini terus tersedot setiap detik tanpa disadari oleh para pengguna aplikasi berbasis AI.
Selain itu, laporan resmi dari World Economic Forum pada September 2026 juga menegaskan fakta yang sangat mengejutkan publik. Lembaga tersebut mengungkapkan bahwa konsumsi air tahunan dari satu data center berkapasitas 1 MW tersebut sejatinya setara dengan total kebutuhan air harian untuk 300.000 orang penduduk. Tak pelak, pengambilan air secara masif ini semakin memperparah krisis ketersediaan air bersih lokal, terutama pada wilayah-wilayah rentan yang memang sudah menghadapi ancaman kekeringan ekstrem.
Rahasia Pahit di Balik Mesin AI: Kenapa Server Bisa Sangat Haus Air?
Lantas, mengapa teknologi digital seperti AI bisa sangat haus air? Pada dasarnya, proses pelatihan model data AI yang amat kompleks membutuhkan daya listrik serta energi dalam jumlah yang sangat raksasa. Ketika jajaran server bekerja keras memproses triliunan data pada skala tersebut, mesin-mesin canggih akan menghasilkan suhu panas yang amat tinggi, sehingga pengelola fasilitas terpaksa menyemprotkan jutaan liter air dingin untuk mencegah overheating pada perangkat keras mereka.
Di samping itu, pesatnya perkembangan industri kecerdasan buatan serta ekspansi data center pendukungnya dipastikan bakal semakin memperberat krisis ekologi ini di masa depan. Sebagai gambaran konkret, model AI populer seperti GPT-3 diperkirakan mengonsumsi sekitar 500 ml air bersih hanya untuk menjawab 10 hingga 50 pertanyaan (prompt) singkat dari pengguna. Oleh sebab itu, jika kita mengalikan angka tersebut dengan miliaran interaksi pengguna aktif setiap hari, maka total jejak air (water footprint) yang dihasilkan oleh industri AI benar-benar menjadi sangat mengerikan.
Meskipun para operator data center global saat ini mulai menghitung jejak konsumsi air mereka, sayangnya aspek ekologis krusial ini kerap kali luput dari perhatian utama perusahaan. Sebagian besar raksasa teknologi justru lebih fokus memamerkan penurunan jejak karbon (carbon footprint) dalam laporan keberlanjutan mereka. Padahal, kondisi kritis ini sejatinya membuka peluang emas bagi industri untuk segera menerapkan teknologi pengelolaan air sirkular yang strategis, seperti sistem daur ulang air serta optimalisasi pendinginan tertutup secara menyeluruh di seluruh fasilitas mereka.
Proyeksi Mengerikan 2027 dan Threat Krisis Air Global
Lebih lanjut lagi, hasil riset ilmiah terbaru memberikan proyeksi yang jauh lebih mengerikan terkait masa depan lingkungan kita. Para peneliti memperkirakan bahwa seluruh operasional AI di tingkat global akan menyedot hingga 1,7 triliun galon air bersih pada tahun 2027 mendatang. Tidak diragukan lagi, lonjakan konsumsi yang tak terkendali ini bakal memberikan hantaman yang sangat merusak bagi kelestarian sumber daya air bumi.
Sementara itu, artikel analisis mendalam dari The Conversation membeberkan hasil penilaian independen yang dilakukan oleh para ahli di Stanford University. Hasil riset tersebut menunjukkan fakta bahwa dari sekitar 9.500 data center yang beroperasi di seluruh dunia saat ini, mayoritas lokasinya menumpuk di kawasan Amerika Utara dan Eropa. Ironisnya, seperempat dari total fasilitas pemrosesan data tersebut ternyata didirikan tepat di wilayah-wilayah yang permintaan airnya sudah melebihi kapasitas pasokan lokal pada bulan-bulan tertentu.
Kemarahan Publik Meledak: Warga Dunia hingga Malaysia Turun ke Jalan
Akibat hilangnya keseimbangan ekosistem ini, gelombang protes masyarakat mulai meletus secara masif di berbagai penjuru dunia. Warga lokal di kota-kota besar seperti Vancouver, kawasan permukiman di New Jersey, hingga desa-desa pertanian di Lombardy, Italia, mulai turun ke jalan untuk menyuarakan kekecewaan mereka. Masyarakat kini meragukan manfaat nyata dari keberadaan data center tersebut, mengingat berbagai bukti lapangan menunjukkan bahwa fasilitas tersebut merampas pasokan air bersih warga sekaligus memicu pencemaran air lingkungan.
Bahkan, gejolak penolakan publik terhadap pembangunan data center ini telah merembet hingga ke kawasan Asia Tenggara, tepatnya di negara tetangga kita, Malaysia. Pesatnya pertumbuhan investasi fasilitas digital di Negeri Jiran tersebut mendadak mendapat sorotan tajam pada 7 Februari 2026, ketika aksi demonstrasi warga pertama kali pecah untuk menentang proyek server raksasa tersebut.
Pada aksi tersebut, lebih dari 50 warga berkumpul dan menggelar unjuk rasa secara terbuka tepat di depan lokasi proyek data center yang berdampingan langsung dengan area permukiman di Johor, Malaysia Selatan. Warga yang resah menuntut pengembang untuk segera menghentikan polusi debu konstruksi yang mengganggu udara, serta meminta kompensasi finansial atas dampak buruk kesehatan yang berpotensi menimpa keluarga mereka. Selain itu, para demonstran secara tegas menyampaikan kekhawatiran bahwa operasional fasilitas raksasa tersebut bakal menguras habis pasokan air bersih untuk rumah tangga mereka.
Lagipula, puluhan demonstran yang hadir di lapangan tersebut menegaskan bahwa mereka menyuarakan aspirasi dari hampir 1.000 warga yang bermukim di empat kompleks perumahan distrik Gelang Patah. Lokasi proyek raksasa yang dibangun untuk perusahaan teknologi asal China, Zdata Technologies, ini memang berada kurang dari satu kilometer dari rumah tinggal warga. Sayangnya, pihak pengembang sama sekali tidak mau menemui para demonstran, hingga akhirnya massa membubarkan diri secara tertib setelah 90 menit berada di bawah pengawalan ketat puluhan personel kepolisian.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










