Dentmas.id – Baru-baru ini, jagat maya Indonesia dihebohkan oleh sistem klasifikasi game berdasarkan usia yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), yakni Indonesia Game Rating System (IGRS). Wah, bukannya memudahkan masyarakat, sistem ini malah menuai sorotan tajam dari warganet di berbagai platform media sosial, lho!
Coba bayangkan, para gamer Tanah Air mendadak dibuat garuk-garuk kepala saat melihat label rating umur IGRS yang terpampang di Steam, platform distribusi game digital paling populer di dunia. Kok bisa? Karena penilaiannya terkesan bolak-balik dan tidak masuk akal. Banyak pihak menilai penerapan rating ini janggal banget. Sepanjang penelusuran, sejumlah game yang jelas-jelas mengandung konten dewasa dan seharusnya hanya dikonsumsi oleh orang tua, malah diberi label super aman untuk anak-anak. Ironisnya, di sisi lain, deretan game populer yang dinanti-nantikan justru mendapatkan status “tidak layak” untuk diedarkan. Aneh, kan?
Bukannya Melindungi Anak, Rating 3+ Justru Disematkan ke Game Berkonten Seksual!
Kondisi yang sungguh memprihatinkan ini langsung memicu keramaian luar biasa di platform X (yang dulu kita kenal sebagai Twitter). Gamer Indonesia yang geram dan bingung berbondong-bondong membagikan tangkapan layar yang memperlihatkan betapa absurdnya sistem klasifikasi tersebut. Melalui unggahan-unggahan mereka, kita bisa melihat langsung bukti keanehan itu.
Di etalase Steam, mata warganet langsung tertuju pada fakta mengejutkan: sejumlah game dengan konten seksual eksplisit—yang jelas-jelas tidak pantas untuk balita—justru dengan santainya diberi rating 3+. Iya, 3+! Artinya, game-game tersebut dianggap cocok dan aman untuk dikonsumsi oleh anak-anak yang baru berusia tiga tahun ke atas. Bayangkan, anak seusia TK yang seharusnya belajar mengenal huruf dan angka, berpotensi terpapar konten dewasa karena kesalahan klasifikasi ini. Parah banget, kan? Di sisi lain, kabar buruk datang untuk game-game AAA populer yang telah meraih berbagai penghargaan. Judul sekelas Clair Obscure: Expedition 33 dan Metal Gear Solid Delta: Snake Eater yang dinanti-nanti para fans, malah mendapat label “tidak layak untuk didistribusikan di Indonesia”. Waduh, pemain jadi kecewa berat!
Akhirnya! Komdigi Buka Suara dan Klarifikasi Soal Kekacauan Rating IGRS
Menghadapi polemik yang semakin panas dan viral ini, Kemkomdigi akhirnya angkat bicara. Pemerintah tidak bisa tinggal diam karena sudah banyak pihak yang dirugikan dan bingung. Dalam klarifikasinya, Komdigi dengan tegas menyatakan bahwa label usia yang saat ini muncul dan membuat heboh publik di Steam, ternyata bukan merupakan hasil klasifikasi resmi yang sudah diverifikasi dan disahkan oleh pemerintah Indonesia. Nah, ini baru kejelasan!
Sonny Hendra Sudaryana, selaku Direktur Pengembangan Ekosistem Digital di Direktorat Jenderal Ekosistem Digital, memberikan penjelasan yang cukup mengejutkan. Menurutnya, rating kacau yang beredar dan ditampilkan di platform Steam tersebut saat ini masih berasal dari mekanisme internal berbasis self-declare. Artinya, pihak pengembang atau penerbit game yang memasukkan rating tersebut secara mandiri, tanpa melalui verifikasi ketat dari pemerintah. Bisa dibilang, mereka seperti “menilai diri sendiri”.
“Rating yang beredar tersebut bukan merupakan hasil klasifikasi resmi IGRS. Hal ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman publik yang sangat besar, terutama terkait kelayakan usia suatu game,” tegas Sonny dalam keterangan resmi yang diterima pada Senin (06/04/2026). Dengan pernyataan ini, Komdigi berharap publik tidak lagi salah kaprah menyalahkan sistem IGRS yang sebenarnya.
Komdigi Naik Pitam: Steam Wajib Beri Klarifikasi, Jangan Menyesatkan Publik!
Lebih lanjut, Komdigi tidak hanya berhenti pada klarifikasi. Pemerintah menunjukkan ketegasannya dengan mengingatkan bahwa setiap pelaku usaha digital di Indonesia memiliki kewajiban hukum untuk menyajikan informasi yang akurat, jelas, dan tidak menyesatkan. Selain itu, mereka juga harus memastikan adanya perlindungan optimal bagi seluruh penggunanya, terutama anak-anak sebagai kelompok rentan.
Kewajiban ini sesungguhnya sudah diatur dengan jelas dalam sejumlah regulasi nasional. Beberapa di antaranya adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 sebagai revisi dari UU ITE yang secara spesifik menekankan perlindungan anak dalam sistem elektronik. Kemudian ada juga Peraturan Menteri Kominfo Nomor 2 Tahun 2024 tentang Klasifikasi Gim yang mewajibkan pencantuman hasil klasifikasi resmi dari pemerintah. Tak ketinggalan, Permen Kominfo Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat juga mengatur hal serupa. Jadi, Steam seharusnya sudah paham aturan main di Indonesia.
Karena itulah, Sonny menyatakan bahwa Komdigi akan segera mengambil tindakan nyata. Pihaknya akan meminta klarifikasi resmi dari Valve selaku pengelola Steam. Setelah itu, akan dilakukan pembahasan lebih lanjut untuk memastikan platform raksasa tersebut mematuhi seluruh regulasi yang berlaku di Indonesia. Targetnya jelas: tidak ada lagi informasi keliru yang membahayakan anak-anak.
Ancaman Sanksi Mengintai! Jika Bandel, Steam Bisa Kena Hukuman Administratif
Pemerintah sama sekali tidak main-main dalam kasus ini. Komdigi dengan lantang meminta platform untuk memastikan bahwa setiap informasi yang ditampilkan kepada publik itu akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Ini bukanlah sekadar urusan teknis atau kepatuhan administratif biasa. Lebih dari itu, ini adalah soal tanggung jawab moral dan hukum dalam melindungi pengguna, khususnya anak-anak Indonesia dari konten yang tidak sesuai usia.
“Ini bukan hanya soal kepatuhan, tetapi juga tanggung jawab dalam melindungi pengguna, khususnya anak-anak,” lanjut Sonny dengan nada tegas. Pemerintah memberikan peringatan keras: jika dalam proses evaluasi nanti ditemukan pelanggaran yang dilakukan oleh Steam, maka pemerintah tidak akan ragu untuk menindaklanjuti sesuai aturan yang berlaku. Sanksi yang mengintai pun berlapis, mulai dari teguran tertulis hingga pemberian sanksi administratif kepada penyelenggara sistem elektronik yang tidak patuh. Steam harus segera berbenah!
Di sisi lain, Komdigi juga menyadari bahwa sistem IGRS buatannya masih perlu penyempurnaan. Pengalaman pahit ini menjadi pelajaran berharga. Karena itu, ke depannya pemerintah berjanji akan terus menguatkan mekanisme verifikasi dan pengawasan. Tujuannya satu: agar ke depannya klasifikasi game menjadi lebih akurat, terpercaya, dan tidak lagi menimbulkan kegaduhan seperti sekarang. Gamer Indonesia pun bisa bernapas lega.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










