Dentmas.id – Dunia maya kembali berguncang! Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dengan lantang mengklaim bahwa mereka baru saja meluncurkan rentetan rudal jelajah mematikan yang membidik pusat data strategis milik raksasa teknologi Amerika, Amazon, yang berlokasi di Bahrain. Bahkan, mereka dengan tegas menyatakan bahwa serangan dahsyat ini berhasil meluluhlantakkan fasilitas canggih tersebut secara total. Insiden panas ini tentu saja langsung menjadi pemicu baru yang membuat ketegangan antara Teheran dan Washington yang sempat mereda, kini kembali memanas membara, meskipun hingga detik ini pihak Amazon, pemerintah Amerika Serikat, maupun otoritas Bahrain masih memilih untuk tutup mulut dan belum memberikan satu pun pernyataan resmi yang dapat memastikan kebenaran klaim menggegerkan ini.
Lebih lanjut, Pasukan Luar Angkasa IRGC dengan percaya diri menyebutkan bahwa sasaran utama mereka adalah infrastruktur data center Amazon yang vital di Bahrain. Kabar mengejutkan ini pun langsung menyebar luas setelah media pemerintah Iran mengumumkannya secara resmi pada Selasa (21/7) lalu. Tidak hanya berhenti di situ, mereka juga menambahkan bahwa sistem pertahanan udara dan instalasi radar milik Amerika Serikat yang tersebar di kawasan Muharraq dan Riffa, Bahrain, turut menjadi bulan-bulanan sengit dalam gelombang serangan besar-besaran ini.
Tindakan Balasan atas Serangan Fasilitas Nuklir
Pemerintah Iran dengan cepat memberikan alasan di balik operasi militer nekat ini. Mereka bersikukuh bahwa serangan rudal ini merupakan langkah pembalasan yang setimpal atas serangan Amerika Serikat yang sebelumnya menghantam pembangkit listrik tenaga nuklir Darkhovin yang masih dalam tahap pembangunan di barat daya Iran. Sejak konflik kembali memanas di awal bulan ini, pasukan AS sendiri diketahui telah melakukan serangan rutin setiap malam di berbagai wilayah Iran. Namun, Teheran tidak tinggal diam dan merespons dengan berani dengan membidik fasilitas militer serta situs-situs yang diduga kuat terafiliasi dengan AS di seluruh kawasan Teluk yang strategis.
Hingga saat ini, belum ada satu pun bukti independen yang kredibel yang dapat membenarkan klaim spektakuler dari IRGC ini. Ketika dihubungi oleh awak media, pihak Amazon dengan dingin memilih untuk tidak memberikan komentar sedikit pun. Sementara itu, para pejabat tinggi di Bahrain dan Amerika Serikat juga masih berlaku sama dan memilih bungkam seribu bahasa, seperti yang dilansir detikINET dari Techspot pada Jumat (24/7/2026).
Menariknya, berdasarkan pemantauan ketat pada dasbor kesehatan publik Amazon Web Services (AWS), wilayah Timur Tengah yang dikenal dengan kode me-south-1 dan berlokasi di Bahrain, memang saat ini terbaca tidak tersedia. Namun, fakta ini belum tentu menjadi bukti otentik bahwa serangan dahsyat pada hari Selasa lalu benar-benar terjadi. Pasalnya, wilayah tersebut telah berstatus offline selama berbulan-bulan akibat rentetan serangan siber dan fisik sebelumnya yang berkaitan dengan konflik berkepanjangan ini. Pembaruan publik terakhir dari AWS terkait situasi kritis tersebut bahkan tercatat diunggah pada 30 April lalu, yang menunjukkan bahwa masalah ini bukanlah hal yang baru.
Perusahaan Teknologi AS Masuk Daftar Incaran Iran
Sebelum insiden ini mengguncang dunia, Iran telah berulang kali menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan teknologi raksasa asal Amerika Serikat kini dianggap sebagai target potensial dalam konflik yang semakin meruncing ini. Pada bulan April lalu, laporan dari TechSpot sempat mencatat bahwa IRGC dengan terang-terangan mengancam sejumlah perusahaan teknologi AS karena dituduh secara terang-terangan mendukung operasi militer terhadap Iran. Bahkan, mereka dengan keras mengimbau seluruh karyawan untuk segera mengevakuasi tempat kerja mereka demi keselamatan jiwa. Beberapa perusahaan raksasa yang masuk dalam daftar hitam ancaman mengerikan tersebut meliputi Nvidia, Microsoft, Intel, Apple, Google, Meta, dan Oracle. Daftar ini tentu saja membuat industri teknologi global ikut bergidik ngeri.
Beberapa hari setelahnya, Iran kembali mengeluarkan ancaman serius yang tidak kalah mengerikan. Mereka mengancam akan menyerang data center AI Stargate senilai 30 miliar dolar AS yang megah di Abu Dhabi. Fasilitas berkapasitas 1GW yang masih dalam tahap perencanaan ini diketahui mendapat dukungan penuh dari perusahaan-perusahaan teknologi papan atas seperti OpenAI, Oracle, Nvidia, Cisco, G42, dan SoftBank. Ancaman ini jelas menunjukkan bahwa Iran tidak main-main dan siap menyerang kepentingan AS di mana pun mereka berada.
Dengan situasi yang semakin memanas dan ketidakpastian yang menyelimuti, dunia kini menunggu dengan napas tertahan apakah klaim Iran ini benar adanya atau hanya sekadar gertakan semata. Akankah AS dan sekutunya mengambil tindakan balasan yang lebih keras? Saksikan terus perkembangan terbaru hanya di sini!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










