Dentmas.id – Siapa sangka, perusahaan roket dan satelit milik Elon Musk, SpaceX, tengah bergerak diam-diam tapi pasti. Dentmas.id baru saja mengungkap kabar panas bahwa perusahaan antariksa tersebut kabarnya sudah mengajukan penawaran umum perdana saham alias IPO di bursa saham Amerika Serikat. Setelah menelusuri lebih dalam, ternyata kabar ini bukan isapan jempol belaka karena laporan dari Bloomberg dan The Wall Street Journal (WSJ) secara gamblang menyebutkan bahwa SpaceX sudah menyerahkan dokumen pendaftaran awal ke regulator pasar modal AS, yaitu Securities and Exchange Commission (SEC), sekitar pekan ini.
Valuasi Tembus Rp29.000 Triliun
Dengan langkah berani ini, SpaceX secara resmi membuka jalan untuk melantai di bursa saham. Bayangkan, valuasi yang disematkan pada perusahaan ini konon bakal menembus angka yang sangat fantastis, yaitu 1,75 triliun dolar AS atau sekitar Rp 29.000 triliun dengan asumsi kurs 1 dolar AS setara Rp16.900. Angka ini benar-benar gila dan langsung membuat para pemain pasar modal di seluruh dunia ikut bergidik penasaran.
Lebih mencengangkan lagi, laporan di atas juga menegaskan bahwa IPO SpaceX, jika benar-benar terealisasi, berpotensi menjelma menjadi IPO terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah pasar modal global. Tak main-main, rekor-rekor lama diprediksi akan hancur berantakan jika roket raksasa milik Elon Musk ini benar-benar lepas landas di bursa saham.
Target Dana Rp1.350 Triliun
Menurut data yang dihimpun dari Bloomberg, perusahaan ini diproyeksikan mampu menghimpun dana hingga 75 miliar dolar AS, atau jika dikonversi sekitar Rp 1.200 triliun. Sementara itu, versi WSJ sedikit berbeda namun tetap mengagumkan karena mereka menyebut target dana IPO berada di kisaran 40 miliar hingga 80 miliar dolar AS (sekitar Rp 670 triliun hingga Rp 1.350 triliun). Angka sebesar itu sudah cukup untuk membeli separuh industri luar angkasa negara lain!
Yang menarik untuk disimak, berapapun target dana IPO nantinya, kisaran angka ini dipastikan akan melampaui rekor IPO sebelumnya. Sebagai gambaran, rekor itu saat ini masih dipegang oleh perusahaan minyak dan gas milik Arab Saudi, Saudi Aramco, dengan nilai sekitar 29 miliar dolar AS (sekitar Rp 490 triliun) pada 2019 lalu. Artinya, SpaceX siap menggilas rekor tersebut dengan selisih yang sangat jauh.
Lebih seru lagi, IPO ini juga diperkirakan akan menjadi yang pertama dari gelombang “mega IPO” dari sektor teknologi pada tahun 2026. Setelah SpaceX melantai, para analis memprediksi akan segera menyusul perusahaan kecerdasan buatan (AI) ternama seperti OpenAI dan Anthropic yang kabarnya juga memiliki rencana serupa. Persaingan di lantai bursa pun dipastikan bakal semakin panas dan menarik untuk diikuti.
Nah, soal jadwal, menurut laporan Bloomberg yang sangat kredibel, SpaceX berpotensi melantai di bursa secepatnya pada Juni 2026. Artinya, para calon investor tidak perlu menunggu terlalu lama lagi untuk ikut memboyong saham perusahaan antariksa paling inovatif di dunia ini.
Testing The Waters dan Jatah Istimewa Investor Ritel
Saat ini, perusahaan yang dipimpin oleh Elon Musk tersebut konon sudah mulai melakukan tahap “testing the waters”. Dalam tahap ini, manajemen SpaceX secara aktif mengadakan pertemuan awal dengan calon investor untuk memaparkan prospek bisnis dan secara meyakinkan mendukung target valuasi yang telah ditetapkan. Mereka tidak ingin ada satupun investor yang ragu.
Menariknya, dalam strategi IPO ini, SpaceX dikabarkan mempertimbangkan struktur saham dual-class. Dengan struktur ini, pihak internal seperti Elon Musk akan memiliki hak suara yang lebih besar dalam setiap pengambilan keputusan perusahaan, sehingga visi besarnya untuk Mars tidak akan terganggu oleh tekanan pasar jangka pendek.
Kabar gembira juga datang untuk para investor individu atau ritel. IPO ini diperkirakan akan melibatkan investor ritel dalam jumlah yang sangat besar, karena pihak manajemen menyiapkan alokasi hingga 30 persen saham untuk investor individu. Peluang emas ini jelas tidak boleh dilewatkan begitu saja oleh masyarakat luas yang ingin memiliki potongan dari perusahaan roket raksasa.
Deretan Bank Global yang Siap Gerilya
Tentu saja, untuk menggarap IPO raksasa yang super kompleks ini, SpaceX disebut bakal menggandeng sejumlah bank investasi global papan atas. Beberapa nama besar di antaranya termasuk Goldman Sachs, JPMorgan Chase, Morgan Stanley, Citigroup, serta Bank of America. Mereka akan bahu-membahu memastikan proses IPO berjalan mulus.
Untuk distribusi global yang lebih luas, strategi yang sangat matang pun telah disiapkan. Sebagai contoh, Barclays ditunjuk untuk menangani wilayah Inggris, sementara Deutsche Bank dan UBS secara resmi akan mengelola pasar Eropa. Sementara itu, di kawasan Asia, peran penting ini dipercayakan kepada Mizuho Financial Group. Tidak ada satupun pasar besar yang terlewat dari jangkauan mereka.
Meskipun kabar mengenai pengajuan dokumen IPO sudah santer terdengar, detail seperti harga saham dan jumlah saham yang akan dilepas ke publik masih belum diungkapkan secara resmi. Sebagai informasi tambahan, rincian semacam itu biasanya baru akan dipublikasikan secara terbuka setelah proses peninjauan yang ketat oleh SEC selesai dilakukan.
Menariknya, hingga saat ini pihak SpaceX sendiri belum memberikan komentar resmi sedikitpun terkait kabar IPO yang meledak dari Bloomberg dan WSJ tersebut. Sikap bungkam ini bukannya meredam spekulasi, malah semakin memicu rasa penasaran publik dan para investor di seluruh dunia.
Dominasi SpaceX: dari NASA hingga Akuisisi xAI
Sebagaimana telah dirangkum dari Guardian, perlu diketahui bahwa SpaceX saat ini berkembang sangat pesat menjadi pemain dominan di industri antariksa global dalam satu dekade terakhir. Dominasi ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena perusahaan ini sudah menjadi mitra utama badan antariksa nasional AS (NASA) dalam berbagai misi peluncuran roket paling kritis.
Selain misi antariksa, layanan internet satelit Starlink juga menjadi kontributor utama pendapatan perusahaan. Para analis memperkirakan pendapatan dari Starlink saja akan mendekati angka 20 miliar dolar AS (sekitar Rp 330 triliun) pada tahun 2026. Jumlah ini sendiri sudah lebih besar dari pendapatan tahunan perusahaan-perusahaan unggulan di sektor lain.
Yang terbaru, SpaceX juga secara agresif memperluas bisnisnya ke sektor kecerdasan buatan dengan mengakuisisi xAI. Hasilnya, valuasi gabungan perusahaan setelah akuisisi ini mencapai sekitar 1,25 triliun dolar AS (sekitar Rp 21.100 triliun). Langkah ekspansi ini jelas menunjukkan bahwa Elon Musk tidak hanya ingin menguasai luar angkasa, tetapi juga ingin mendominasi teknologi masa depan dari bumi.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










