Dentmas.id – Siapa sangka, di balik layar raksasa telekomunikasi pelat merah, tersembunyi harta karun bernilai fantastis yang selama ini luput dari sorotan pasar. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk kini membuka tabir misteri tersebut dengan berani memisahkan bisnis fiber optiknya sebagai senjata utama dalam misi raksasa “unlock value” melalui program transformasi Telkom 30. Langkah ini bukan sekadar restrukturisasi biasa, melainkan gebrakan yang diprediksi akan mengubah wajah industri telekomunikasi Tanah Air secara dramatis.
Bos Telkom Buka Suara: Selama Ini Pasar Salah Nilai!

Bayangkan, selama bertahun-tahun aset infrastruktur Telkom yang luar biasa besarnya ternyata tidak mendapat penilaian yang layak di mata pasar. Mengapa demikian? Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, dengan gamblang membeberkan rahasia ini. Menurutnya, semua terjadi karena aset-aset tersebut masih melekat erat dalam valuasi perusahaan sebagai operator telekomunikasi biasa.
“Begini analoginya,” ujar Dian dengan semangat di kantornya awal Februari lalu. “Jika aset ini masih bergabung dengan Telkom, pasar hanya melihatnya seperti perusahaan operator pada umumnya. Saat ini, valuasi operator telekomunikasi di Indonesia hanya berkisar 5 hingga 6 kali lipat dari pendapatannya. Padahal potensinya jauh di atas itu!”
Bukan Operator Biasa, Ini Murni Perusahaan Infrastruktur!
Wanita karismatik ini kemudian menjelaskan inti permasalahannya. Pendekatan konvensional inilah yang membuat nilai sesungguhnya dari infrastruktur raksasa ini seolah terkubur dalam-dalam. Namun, situasinya akan berubah 180 derajat jika Telkom berani memposisikan bisnis ini sebagai perusahaan infrastruktur murni atau yang dikenal dengan istilah FiberCo.
Dian pun melontarkan perbandingan yang mencengangkan: “Coba bandingkan! Jika sebagai operator hanya 5-6 kali, maka sebagai FiberCo murni, valuasinya bisa melesat hingga 10-12 kali lipat! Bahkan di negara lain, angkanya bisa lebih gila lagi. Nah, inilah yang kami sebut sebagai strategi unlock value!”
Infranexia: Bisnis Fiber Masa Depan
Untuk mewujudkan ambisi besar ini, Telkom tidak main-main. Mereka telah membentuk entitas khusus fiber dengan merek dagang Infranexia. Entitas inilah yang akan mengelola jaringan serat optik raksasa milik Telkom. Dian menyebutkan angka yang fantastis: jaringan fiber yang tersebar di seluruh Nusantara hampir mencapai 180.000 kilometer! Angka ini cukup untuk mengelilingi garis khatulistiwa bumi lebih dari empat kali!
“Begitu tahap kedua proyek ini rampung, kami akan menjadi FiberCo terbesar di Indonesia. Bukan hanya besar, tapi penguasa pasar yang sesungguhnya,” tegasnya penuh percaya diri.
Proses pembentukan Infranexia ternyata sudah dimulai sejak Desember 2023 lalu. Kemudian, secara bertahap, proses pemindahan aset dan peralatan mulai dilaksanakan pada Desember 2025. Targetnya, seluruh proses ini akan mencapai garis finis paling lambat pertengahan 2026.
“Kami targetkan pertengahan 2026, sisa aset yang belum dipindahkan akan kami boyong semua ke Infranexia. Setelah entitas ini mapan dan stabil hingga akhir 2026, maka tahun 2027 nanti Infranexia akan menjelma menjadi FiberCo sejati yang siap meroket!” ungkap Dian memaparkan peta jalan yang ambisius.
Hanya 40 Persen Terpakai, Potensi Masih Menganga Lebar!
Satu fakta menarik yang diungkapkan Dian cukup membuat banyak pihak terperanjat. Saat ini, utilisasi atau pemanfaatan jaringan fiber Telternyata baru mencapai 40 hingga 45 persen. Artinya, masih ada lebih dari separuh kapasitas raksasa yang belum dimanfaatkan secara maksimal!
“Lihat potensinya!” seru Dian. “Dengan pengelolaan di entitas khusus seperti Infranexia, utilisasi ini bisa kita dorong naik secara signifikan. Mereka akan bergerak lebih gesit, lincah, dan tentunya lebih fleksibel. Infranexia bisa membuka akses lebar-lebar ke berbagai pelanggan baru, mulai dari operator telekomunikasi lain, perusahaan-perusahaan besar, hingga para pemain raksasa data center atau hyperscaler!”
Kolaborasi, Bukan Monopoli! Era Baru Bisnis Fiber
Dian menekankan satu poin penting yang menjadi filosofi baru Telkom. Pendekatan lama yang mengedepankan penguasaan aset secara monopoli sudah harus ditinggalkan. “Zamannya sudah berubah!” tegasnya. “Sekarang justru sebaliknya. Dengan membuka peluang seluas-luasnya bagi pihak lain untuk ikut memanfaatkan infrastruktur ini, utilisasi akan meningkat drastis, pendapatannya ikut melesat, dan pada akhirnya nilai perusahaan pun ikut meroket. Ini strategi kolaborasi yang saling menguntungkan!”
Perang Harga Sudah Mati, Sekarang Giliran Kualitas!
Strategi pengelolaan fiber ini juga terkait erat dengan peningkatan kualitas layanan secara keseluruhan. Dian menyebutkan bahwa cakupan layanan Telkom saat ini telah mencapai 97 persen populasi Indonesia, terutama melalui konektivitas BTS yang terhubung dengan jaringan fiber.
Dengan nada tegas ia menegaskan: “Strategi perang harga yang dulu marak dilakukan itu sudah ketinggalan zaman, so yesterday! Sekarang pertarungannya ada di quality!”
Menurutnya, kualitas bukan hanya soal kecepatan jaringan, tetapi mencakup keseluruhan pengalaman pelanggan. Mulai dari kecepatan respons saat terjadi gangguan, kemudahan layanan pelanggan, hingga inovasi-inovasi produk yang relevan dengan kebutuhan pasar.
“Jangan salah paham! Jika fondasi jaringannya saja sudah buruk, apa pun yang kita bangun di atasnya pasti akan ambruk. Jadi, network quality itu adalah hygiene factor, syarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar lagi!” tegasnya.
IPO? Bukan Tidak Mungkin, Tapi Tunggu Waktunya!
Selain restrukturisasi internal, Telkom juga membuka peluang lebar untuk aksi korporasi yang lebih besar di masa depan. Opsi penawaran saham perdana atau IPO untuk Infranexia masuk dalam daftar pertimbangan serius.
Namun Dian mengingatkan untuk tidak terburu-buru. Saat ini, fokus utama adalah memastikan Infranexia tumbuh menjadi FiberCo yang matang secara operasional dan tata kelola. “Setelah dia benar-benar matang, stabil, dan memiliki fundamental yang kokoh, barulah kita akan duduk bersama mempertimbangkan opsi-opsi strategis, termasuk IPO,” jelasnya.
Ia menambahkan, langkah seperti IPO baru akan dilakukan ketika entitas fiber ini benar-benar siap dan memiliki daya tarik kuat, sehingga dapat memberikan nilai optimal bagi para pemegang saham. “Yang terpenting sekarang adalah membangun kapabilitas, governance, proses bisnis, dan service excellence-nya terlebih dahulu. Setelah itu, langit-langit kesuksesan akan terbuka lebar!” pungkas Dian optimistis.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










