JAKARTA, Dentmas.id – Bersiaplah! Indonesia ternyata melesat sebagai salah satu negara paling siap menyambut era kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia Pasifik. Namun, di balik optimisme tinggi ini, Cisco justru membeberkan dua tantangan besar yang ibarat “bom waktu” dan bisa menggagalkan mimpi transformasi AI negeri ini. Apa saja?
Menurut laporan terbaru Cisco AI Readiness Index 2025, Indonesia menunjukkan performa yang mencengangkan. Buktinya, sebanyak 23 persen perusahaan di tanah air sudah dinyatakan siap mengadopsi AI, sebuah angka yang jauh melampaui rata-rata global yang hanya 13 persen. Bahkan, hampir 97 persen organisasi di Indonesia sudah menyusun rencana konkret untuk segera menerapkan AI. Sungguh angka yang fantastis!
Namun, di balik statistik yang menggembirakan ini, Oliver Tuszik, EVP Global Sales and Chief Sales Officer Cisco, memperingatkan adanya jurang pemisah antara ambisi dan realita. Dalam kunjungannya ke Indonesia, Oliver menyoroti dua tantangan kritis yang harus segera diatasi.

Hambatan #1: Krisis Talenta Digital yang Menghantui
Pertama, Indonesia sedang menghadapi krisis talenta digital yang parah. Oliver menegaskan bahwa kurangnya ahli di bidang AI bisa menjadi faktor utama yang menghambat laju perkembangan teknologi ini. “Teknologi AI sendiri masih sangat baru. Akibatnya, hampir tidak ada profesional yang memiliki pengalaman puluhan tahun di bidang ini,” jelas Oliver. Selain itu, AI terus berevolusi dengan kecepatan tinggi. “Jika seorang pengguna tidak beradaptasi, maka ia pasti akan tertinggal,” imbuhnya.
Namun, jangan khawatir! Cisco sudah memulai sebuah misi besar melalui Cisco Networking Academy. Program yang telah berjalan selama dua dekade ini telah berhasil melatih lebih dari 500.000 orang di bidang jaringan, keamanan, dan cloud. Hebatnya, Oliver menargetkan program ini dapat melatih 500.000 talenta tambahan, termasuk di bidang AI, dalam lima tahun ke depan. “Negara dengan lebih banyak talenta akan berkembang lebih cepat. Kami yakin target satu juta talenta AI di Indonesia bisa tercapai, bahkan lebih cepat dari yang direncanakan!” tegasnya.
Yang menarik, program ini tidak eksklusif. Cisco sengaja membukanya untuk berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, guru, ASN, hingga pelaku UMKM. Tujuannya jelas: memastikan AI bisa dinikmati dan dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya segelintir ahli.
Solusi Cisco: Jalan Keluar dari Krisis Talenta
Sebagai bagian dari komitmennya, Cisco tidak hanya berfokus pada pelatihan teknis semata. Perusahaan ini secara aktif merancang kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri terkini. Melalui Cisco Networking Academy, mereka menyediakan akses pembelajaran yang bisa dijangkau oleh siapa saja dan di mana saja. Bahkan, Cisco secara teratur memperbarui materi pembelajarannya untuk memastikan setiap peserta mendapatkan pengetahuan paling mutakhir tentang AI dan teknologi digital lainnya. Dengan demikian, Cisco benar-benar membangun pipeline talenta digital Indonesia dari level dasar hingga advanced.
Hambatan #2: “Utang Infrastruktur” yang Mengkhawatirkan
Kedua, dan ini yang paling mengkhawatirkan, adalah masalah infrastruktur yang belum siap. Meski 97% perusahaan punya rencana AI, hanya 27% yang yakin jaringan mereka mampu menanggung beban kerja AI. Lebih parah lagi, hanya 47% perusahaan yang memiliki kapasitas GPU memadai untuk pemrosesan AI. Kondisi inilah yang oleh Cisco disebut sebagai “AI Infrastructure Debt” atau “Utang Infrastruktur Digital”.
Oliver dengan gamblang mengibaratkan fenomena ini sebagai “sebuah gedung pencakar langit yang dibangun di atas pondasi rapuh.” “Kalau pondasinya retak, gedung itu akan runtuh. Sama halnya dengan perusahaan yang bersemangat digitalisasi tetapi sistem penopangnya masih lemah,” ujarnya. Persoalannya bukan pada kemauan, melainkan pada kesiapan sistem. “Jika pondasinya belum siap, perusahaan akan tertinggal meski semangatnya membara,” tambah Oliver.
Sayangnya, kondisi ini diperparah dengan kesulitan sebagian besar organisasi di Indonesia dalam memusatkan data dan mengintegrasikan sistem lama. Akibatnya, perusahaan kecil dan startup akan menghadapi tantangan lebih berat karena akses mereka terhadap daya komputasi tinggi sangat terbatas. Alhasil, kesenjangan digital antara perusahaan besar dan usaha kecil justru bisa melebar.
Solusi & Masa Depan: Kolaborasi adalah Kunci
Lalu, bagaimana solusinya? Cisco tidak tinggal diam. Untuk mengatasi tantangan keamanan—yang sering diabaikan—Cisco menghadirkan AI Defense, sebuah sistem yang mampu mensimulasikan serangan terhadap model AI internal perusahaan. “Kebanyakan model AI dirancang untuk kreatif, bukan untuk aman. Dengan AI Defense, kami membantu perusahaan memahami kerentanan sistem mereka,” papar Oliver.
Yang terpenting, Cisco menekankan bahwa membangun ekosistem AI yang tangguh tidak bisa dilakukan sendirian. Mereka aktif berkolaborasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan, termasuk operator seluler. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah konsep AI PODs, sistem modular yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri. “Kami butuh kolaborasi lintas sektor dan regulasi yang mendukung. Tanpa itu, inovasi akan terhambat,” seru Oliver.
Di akhir wawancara, Oliver menyampaikan keyakinannya yang besar terhadap masa depan AI di Indonesia. “Dua tahun lalu kita baru mulai bicara AI. Sekarang, anak sekolah sudah menggunakannya untuk mengerjakan PR,” ujarnya optimis. “Dengan kondisi seperti ini, dalam dua atau tiga tahun ke depan, kita akan menyaksikan transformasi besar-besaran di Indonesia.” Artinya, Indonesia tidak kekurangan kemauan, tetapi membutuhkan fondasi yang lebih kokoh untuk menopang ambisi besarnya. Dengan investasi yang tepat pada talenta dan infrastruktur, transformasi AI di Indonesia hanyalah persoalan waktu!
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Exposenews.id










