Dentmas.id – Dunia kripto kembali diguncang badai! Harga Bitcoin, raja aset digital, terus merosot tajam dan bahkan mengalami penguapan fantastis sekitar Rp 1 miliar hanya dalam empat bulan terakhir! Sungguh, situasi ini membuat banyak investor tercengang. Dalam sesi perdagangan Kamis (5/2/2026) waktu AS, harga Bitcoin sempat terjun bebas ke level 62.303 dolar AS atau sekitar Rp 1,05 miliar. Akibatnya, posisi ini menjadi titik terendah yang tercatat sejak November 2024 lalu!
Pada Jumat (6/2/2026) pagi, meski ada sedikit pelukan, harga Bitcoin masih terperangkap di kisaran 64.500 dolar AS atau Rp 1,08 miliar. Lebih mengejutkan lagi, dalam sepekan terakhir nilai aset terbesar ini ternyata tergerus hampir seperempatnya, tepatnya 23 persen! Kemudian, jika kita tarik mundur, Bitcoin sebenarnya sudah terjebak dalam tren bearish selama lebih dari tiga bulan.
Dari Puncak ke Jurang: Rp 2,12 Miliar Jadi Rp 1,05 Miliar
Mari kita bandingkan dengan masa kejayaannya. Dari rekor tertinggi 126.000 dolar AS yang berhasil dicapainya pada Oktober 2025, harga Bitcoin kini justru terpangkas lebih dari 45 persen. Intinya, kita menyaksikan aset senilai sekitar 62.000 dolar AS atau Rp 1,04 miliar menguap begitu saja hanya dalam waktu empat bulan.
Namun, tekanan tidak hanya menghantam Bitcoin. Sejumlah aset kripto utama lainnya justru mencatat koreksi yang lebih dalam. Sebagai contoh, Ether dilaporkan anjlok sekitar 34,5 persen dalam sepekan, menuju penurunan mingguan terburuknya dalam beberapa tahun. Sementara itu, XRP juga melemah 32 persen, dan Solana terhempas ke level terendah tahunannya di sekitar 77,77 dolar AS.
Peringatan Para Analis: “Lereng Masih Curam!”
Nah, yang paling mengkhawatirkan, sejumlah analis ternama memperingatkan bahwa tekanan jual ini belum akan berakhir. Mereka menilai tren pergerakan Bitcoin masih berada dalam fase bearish dan berpotensi melanjutkan penurunannya ke level 50.000-an dolar AS dalam waktu dekat.
Salah satu analis, Eric Crown, dengan tegas menyatakan penurunan harga Bitcoin belum selesai. Ia memperkirakan Bitcoin masih bisa melemah ke kisaran 55.000–60.000 dolar AS sebelum menemukan dasar yang stabil. Menurutnya, pelemahan ini masih wajar dalam siklus Bitcoin yang kerap diwarnai volatilitas ekstrem.
Pandangan serupa disampaikan oleh Head of Research Galaxy Digital, Alex Thorn. Ia mengingatkan, data historis menunjukkan bahwa koreksi sering berlanjut mendekati 50 persen setelah penurunan 40 persen. Artinya, dari puncak 126.000 dolar AS, Bitcoin bisa saja terdepak ke kisaran 58.000 dolar AS.
Minat Memudar, Investor Lari ke Emas
Di tengah tekanan ini, kepercayaan investor terhadap kripto pun ternyata mulai memudar. Marion Laboure, analis Deutsche Bank, menilai aksi jual mencerminkan menyusutnya minat investor tradisional. Akibatnya, kinerja Bitcoin tertinggal sangat jauh dibanding emas, yang justru melonjak 68 persen dalam setahun.
Kondisi ini mendorong sebagian investor kembali melirik aset konvensional seperti emas sebagai instrumen lindung nilai. Selain itu, tekanan terhadap Bitcoin juga dipicu oleh perubahan sikap investor institusional. Laporan CryptoQuant mengungkap bahwa ETF Bitcoin spot di AS, yang sebelumnya menjadi pembeli, kini berbalik menjadi penjual bersih sepanjang 2026.
Badai Perfect Storm: The Fed, Regulasi, dan Geopolitik
Faktor eksternal lain datang dari ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih ketat, terutama setelah Kevin Warsh dinominasikan sebagai calon Ketua The Fed. Kebijakan disiplin moneter ketat dan suku bunga tinggi dinilai berpotensi menekan aset berisiko seperti kripto.
Belum lagi, ketidakpastian regulasi kripto di AS serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk sentimen pasar. Dalam ketidakpastian global, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS dan obligasi pemerintah.
Dengan berbagai tekanan tersebut, para analis ahli secara tegas memperingatkan bahwa risiko penurunan lanjutan masih sangat terbuka. Berdasarkan pengalaman dan data historis yang mereka miliki, hingga ada katalis kuat yang memulihkan kepercayaan, pergerakan Bitcoin diperkirakan akan tetap berada di bawah tekanan dalam waktu dekat. Oleh karena itu, investor disarankan untuk ekstra hati-hati dan memperkuat strategi manajemen risikonya.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










