Dentmas.id – Saat Amerika Serikat dan Israel gencar melancarkan serangan, para hacker Iran justru memilih tutup mulut. Banyak yang langsung berasumsi bahwa pemutusan internet nasional menjadi biang keladi utama di balik keheningan ini. Namun, jangan buru-buru mengambil kesimpulan!

Sebuah laporan mengejutkan berjudul “Decoding the Strategic Quiet of Iranian Cyber Groups” baru saja dirilis oleh firma keamanan siber Shieldworkz. Laporan ini membuka tabir gelap di balik situasi yang tampak hening tersebut.
Memang tidak bisa dipungkiri, serangan militer AS yang diberi nama sandi Operation Epic Fury telah menghantam keras infrastruktur digital Iran. Operasi ini benar-benar memberikan pukulan telak ke jantung pertahanan siber negeri para Mullah.
Shieldworkz mengungkapkan bahwa operasi Epic Fury berhasil memutus rantai komando hacker mereka. infrastruktur operasional pun hancur berantakan, bahkan beberapa pemimpin senior yang mengawasi operasi siber ikut tersingkirkan. Belum lagi pemutusan 96 persen koneksi internet domestik imbas serangan Israel yang menambah runyam keadaan.
Akan tetapi, Shieldworkz dengan tegas membantah anggapan bahwa rantai komando siber Iran telah luluh lantak. Menariknya, mereka justru menemukan fakta bahwa kelompok siber Iran menerapkan “model mosaik”, sama seperti angkatan bersenjata fisik mereka.
Model ini memberi mereka otonomi fungsional yang luas, lengkap dengan struktur kepemimpinan berlapis. Yang lebih mencengangkan, mereka menyimpan buku pedoman operasi secara offline. Para hacker ini sudah memprediksi skenario pemadaman internet sejak lama, bahkan mereka memasukkannya ke dalam model pertahanan operasi.
Buktinya masih terlihat jelas hingga sekarang. Jejak akses pasif dari peretas Iran, seperti pencurian kredensial dan celah VPN di infrastruktur kritis Timur Tengah sejak awal 2025, masih tertanam kuat. Tools penyusup ini belum sepenuhnya terhapus, mereka hanya memilih mode pasif untuk sementara waktu.
Sistem-sistem nakal ini terus bertahan dengan gigih. Sesekali mereka memancarkan sinyal, siap menjadi “bom waktu” yang bisa meledak kapan saja saat kelompok APT Iran memutuskan untuk angkat bicara lagi. Fakta lainnya, tidak semua elemen aktor ancaman Iran hancur oleh gempuran yang terjadi.
Shieldworkz mencatat bahwa afiliasi kelompok ini yang beroperasi di luar batas geografis Iran masih selamat. Buktinya? Gelombang serangan pengintaian periodik dari afiliasi Iran masih terus terekam secara global hingga detik ini.
Beberapa kelompok Advanced Persistent Threat (APT) andalan Iran bahkan terpantau masih beroperasi secara senyap per Maret 2026. Mari kita bedah satu per satu status terkini mereka:
APT33 (Refined Kitten) – Kelompok di bawah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ini rutin memberikan sinyal. Mereka terus memantau kemungkinan sabotase menggunakan malware destruktif.
APT34/OilRig – Didukung penuh oleh Kementerian Intelijen (MOIS), grup ini masih aktif melakukan pengintaian dan pencurian kredensial tanpa suara.
APT35/Charming Kitten – Mereka masih aktif pada celah waktu tertentu, mengirim email phishing meski volumenya diklaim menurun drastis.
APT42 – Kelompok ini terus beroperasi tanpa henti, fokus melakukan pengawasan dan pengintaian target-target spesifik.
MuddyWater – Sebagai kelompok inti MOIS, mereka saat ini beroperasi secara parsial sambil melakukan kalibrasi ulang operasi berdasarkan perintah baru.
Cotton Sandstorm (ASA) – Mereka aktif melancarkan operasi pengaruh dan amplifikasi data bocor, bekerja sama erat dengan MuddyWater.
Cyber Av3ngers / IRGC-CEC – Serangan ke sistem kontrol industri (ICS/OT) telah mereka turunkan skalanya. Kini mereka hanya fokus pada serangan proksi DDoS tingkat rendah.
Lalu Mengapa Para Hacker Ini Memilih Tiarap?
Para ahli meyakini bahwa absennya serangan balasan dari Iran menandai masa transisi penting. Mereka sedang beralih dari mode ofensif ke mode bertahan total.
Saat ini, para hacker sedang sibuk mengaudit sistem internal, melindungi infrastruktur yang tersisa, mengevaluasi kerusakan, merotasi server komando, sambil membiarkan petinggi negara fokus pada perang fisik. Mereka sengaja tidak bergerak agar tools hacking berharga mereka tidak terdeteksi oleh musuh.
Namun, bersiaplah! Keheningan ini dipastikan tidak akan bertahan lama. Shieldworkz telah memetakan lintasan ancaman siber Iran yang diperkirakan akan berevolusi dalam beberapa fase mengerikan.
Dalam 0-4 Minggu ke depan, kita akan menyaksikan fokus mereka pada serangan DDoS lewat proksi. Kelompok hacktivist seperti Electronic Ops Room, Handala Hack, dan Cyber Fattah akan mulai bergerak. Peretasan situs web (defacement) dan reaktivasi malware di Timur Tengah, AS, hingga Selat Hormuz akan meningkat drastis. Grup APT35 dan Educated Manticore juga diprediksi akan menggenjot kampanye spear-phishing mereka.
Memasuki 1-3 bulan ke depan, reaktivasi APT terstruktur akan terjadi setelah jaringan pulih. Target kampanye pencurian kredensial dan wiper malware akan meluas ke sektor energi, kontraktor pertahanan, telekomunikasi, fasilitas kesehatan Israel, hingga pasokan air dan pelabuhan AS.
Pada fase 3-9 bulan, IRGC dan MOIS akan menunjukkan kekuatan penuh mereka. Mereka akan menggunakan infrastruktur baru untuk menargetkan infrastruktur kritis Barat dan sistem keuangan GCC.
Lebih dari 9 bulan ke depan, dunia harus bersiap menghadapi kampanye spionase jangka panjang yang lebih kompleks dan persisten. Target utamanya? Negara anggota NATO dan sektor energi global.
Ancaman Paling Mematikan dalam Waktu Dekat
Salah satu ancaman jangka pendek yang paling mematikan adalah reaktivasi malware pasif yang sudah mereka tanam sebelumnya di sektor energi dan air. Bom waktu ini bisa meledak kapan saja!
Selain itu, hacker terafiliasi IRGC-CEC juga mengincar perangkat kontrol industri yang terekspos langsung ke internet. Mengacu pada peringatan Departemen Pertahanan AS dan CISA pada Juni 2025, para peretas ini gemar mengeksploitasi password bawaan pabrik pada komponen PLC dan HMI, terutama perangkat keras industri buatan Israel.
Jangan pernah meremehkan kemampuan bangkitnya Iran. Sejarah telah membuktikan bahwa mereka selalu bangkit lebih kuat usai mendapat serangan telak.
Pasca-insiden Stuxnet dekade lalu, mereka sukses melumpuhkan raksasa minyak Saudi Aramco dan merusak kasino Sands. Pasca-kematian Qasem Soleimani, mereka bahkan berafiliasi dengan ekosistem ransomware global. Jadi, bersiaplah menghadapi badai yang akan datang!
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










