Dentmas.id – Perusahaan raksasa ride-hailing dan pesan-antar makanan asal Singapura, Grab Holdings, baru saja bikin gebrakan besar. Mereka resmi mencaplok bisnis pengiriman makanan Foodpanda di Taiwan dengan nilai fantastis, mencapai 600 juta dollar AS atau setara Rp 10 triliun. Wow, ini bukan sekadar akuisisi biasa, melainkan langkah bersejarah yang menandai ekspansi perdana perusahaan ke luar kawasan Asia Tenggara!
Kabar mengejutkan ini langsung diumumkan sendiri oleh Grab melalui situs resmi mereka pada Senin (23/3/2026). Bukan main, langkah korporasi ini sekaligus mengukuhkan posisi Grab sebagai pemain global. Akuisisi ini benar-benar jadi tiket emas bagi mereka untuk menginjakkan kaki secara resmi di pasar baru yang sangat potensial.
“Akuisisi ini menandai masuknya Grab secara resmi ke pasar Taiwan, pasar operasi kesembilan kami dan yang pertama di luar Asia Tenggara,” ujar Anthony Tan, CEO dan salah satu pendiri Grab, dalam pernyataan resmi dengan penuh semangat. Menurutnya, langkah ini adalah buah dari strategi jangka panjang yang sudah dipersiapkan matang-matang.
Lebih lanjut, Anthony Tan menjelaskan alasannya memilih Taiwan. Grab melihat bahwa pengalaman mereka selama ini di Asia Tenggara ternyata dinilai sangat selaras dengan karakteristik pasar Taiwan. Apalagi, mereka sudah terbiasa mengelola sistem pengiriman dan logistik di kota-kota padat penduduk. Jadi, ini bukan sekadar ekspansi asal-asalan, tapi benar-benar terukur.
Ia pun menilai Taiwan punya potensi besar yang sayang untuk dilewatkan. Dengan populasi sekitar 23 juta jiwa dan permintaan tinggi terhadap layanan berbasis mobile, pasar di negara tersebut dianggap memiliki kemiripan yang kuat dengan konsumen di Asia Tenggara. Jadi, jangan heran kalau strategi jitu yang dulu sukses di Indonesia dan Vietnam bisa diterapkan kembali di sana.
Masih Menanti Lampu Hijau dari Regulator
Perlu diketahui, Foodpanda sendiri merupakan bagian dari Delivery Hero, perusahaan raksasa asal Jerman yang mengoperasikan layanan pengantaran makanan di lebih dari 70 negara. Akuisisi ini jelas mengubah peta kekuatan bisnis pesan-antar makanan secara global.
Grab menjelaskan bahwa kesepakatan akusisi yang menggemparkan ini masih menunggu persetujuan dari regulator setempat. Mereka memperkirakan proses perizinan ini akan rampung pada paruh kedua 2026. Setelah itu, perusahaan juga menargetkan proses transaksi yang melibatkan pengguna, mitra merchant, dan mitra pengemudi ke platformnya dapat selesai pada awal 2027. Jadi, meskipun sudah diumumkan, kita masih harus menunggu hingga semuanya benar-benar resmi bergabung.
Peta Persaingan di Taiwan Bakal Berubah Drastis!
Akuisisi Grab terhadap Foodpanda ini diprediksi akan mengubah peta persaingan layanan pesan-antar makanan di Taiwan secara signifikan. Sebelum rencana besar ini mencuat, pasar food delivery di Taiwan memang didominasi oleh dua pemain utama, yaitu Foodpanda dan Uber Eats. Mereka seperti dua raksasa yang saling berhadapan.
Data menunjukkan, pada periode 2022 hingga 2023, Foodpanda menguasai sekitar 52 persen pangsa pasar, sementara Uber Eats memegang 48 persen. Hampir imbang, kan? Namun, dengan adanya akuisisi ini, posisi mereka akan berubah total.
Jika akuisisi ini benar-benar terealisasi, Grab sendiri diperkirakan akan langsung menguasai lebih dari 50 persen pasar. Posisi ini membuat Grab menjelma menjadi pesaing kuat bagi Uber Eats, alih-alih menciptakan monopoli yang merugikan konsumen. Persaingan justru akan semakin seru dan menyehatkan!
Pelajaran Berharga dari Kegagalan Uber
Menariknya, rencana akuisisi Grab terhadap Foodpanda ini muncul setelah upaya serupa yang dilakukan Uber pada 2025 gagal total. Saat itu, Uber juga berencana membeli bisnis Foodpanda di Taiwan. Namun, regulator persaingan usaha Taiwan dengan tegas menolak rencana tersebut.
Mengapa bisa ditolak? Karena regulator menilai rencana itu berpotensi menciptakan dominasi pasar yang terlalu besar. Bayangkan saja, jika saat itu Uber Eats dan Foodpanda digabung, mereka diperkirakan akan menguasai lebih dari 90 persen layanan pesan-antar makanan di Taiwan. Kondisi ini jelas dikhawatirkan dapat mengurangi persaingan sehat dan memicu kenaikan harga yang memberatkan konsumen. Grab pun belajar dari pengalaman ini dan memastikan struktur pasar tetap kompetitif.
Target Ekspansi: Gaet 21 Kota di Taiwan!
Grab saat ini memang sudah beroperasi di delapan negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Singapura, dan Vietnam, dengan layanan utama mencakup transportasi online, pengantaran makanan, hingga layanan keuangan digital. Mereka bukan lagi sekadar startup, tapi sudah menjadi raksasa teknologi regional.
Grab menjelaskan bahwa setelah akuisisi dengan Foodpanda rampung, jangkauan layanan perusahaan akan diperluas secara drastis hingga mencakup 21 kota di Taiwan. Ini bukan sekadar perluasan area, tapi juga penguatan infrastruktur digital mereka.
Grab mengandalkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mengoptimalkan rute pengiriman, mempersonalisasi rekomendasi makanan, serta meningkatkan efisiensi operasional. Mereka tidak sekadar membeli pangsa pasar, tapi juga menggabungkan kecanggihan teknologi AI milik Grab dengan jaringan lokal Foodpanda yang sudah sangat luas.
Dengan strategi ini, langkah akuisisi sekaligus dinilai bisa memperkuat posisi Grab di pasar Taiwan secara berkelanjutan. Mereka siap bersaing dengan inovasi, bukan hanya dengan modal besar.
Nilai Transaksi Gila-Gilaan!
Bicara soal nilai, bisnis Foodpanda di Taiwan pada 2025 tercatat menghasilkan nilai transaksi bruto (Gross Merchandise Value/GMV) yang luar biasa, yakni sekitar 1,8 miliar dollar AS atau setara Rp 30 triliun per tahun. Angka ini dihimpun langsung dari situs resmi Grab, lho!
Nilai fantastis ini mencerminkan besarnya pasar pengantaran makanan di Taiwan yang tergolong sangat matang di kawasan Asia. Dengan potensi sebesar itu, tak heran jika Grab berani merogoh kocek Rp 10 triliun untuk mengakuisisinya. Ini bukan sekadar investasi, tapi langkah strategis untuk menjadi pemimpin pasar di kawasan baru.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










