Dentmas.id – Bersiaplah untuk menyaksikan gebrakan terbesar di dunia finansial! Perusahaan induk chatbot ChatGPT, OpenAI, dikabarkan kuat sedang mempersiapkan langkah spektakulernya untuk masuk ke bursa saham melalui Initial Public Offering (IPO). Bahkan, rencana ini konon akan digeber lebih cepat dari perkiraan awal.
Target IPO Dipercepat, Nilainya Bikin Melongo

Awalnya, laporan Reuters dari sumber industri menyebutkan bahwa OpenAI diprediksi akan melakukan IPO pada 2027. Namun, ternyata, gosip terbaru justru menyatakan bahwa panggung besar ini bisa terjadi lebih cepat, yaitu pada paruh kedua tahun 2026! Bayangkan, hanya dalam hitungan kurang dari dua tahun lagi, kita mungkin akan menyaksikan salah satu momen bersejarah di Wall Street.
Yang benar-benar bikin merinding adalah nilai yang ditargetkan. Kabarnya, OpenAI berniat mengumpulkan dana segar mulai dari 60 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 997 triliun! Kemudian, jika kondisi pasar mendukung dan bisnis mereka terus meroket, angka ini bisa saja membengkak. Akibatnya, tanpa diragukan lagi, IPO ini berpotensi menjadi yang terbesar sepanjang sejarah, sekaligus menyabet gelar dari raksasa minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, yang ‘hanya’ mengumpulkan dana 25,6 miliar dolar AS pada 2019 lalu.
Belum cukup sampai di situ, sumber industri Reuters bahkan dengan berani memprediksi bahwa valuasi OpenAI pasca-IPO bisa melambung hingga 1 triliun dolar AS atau sekitar Rp 16.000 triliun! Angka fantastis ini tentu saja akan menempatkannya di liga yang sama dengan para raksasa teknologi seperti Apple dan Microsoft.
Respon OpenAI: Fokus ke Misi, Bukan Kejar IPO

Namun, di balik semua hiruk-pikuk ini, pihak OpenAI sendiri tampaknya masih bermain aman. Seorang juru bicara perusahaan menyatakan bahwa fokus mereka saat ini bukanlah pada IPO. “Alih-alih mengejar IPO, kami justru lebih memusatkan energi untuk membangun bisnis yang berkelanjutan dan memastikan manfaat AGI (Artificial General Intelligence) atau kecerdasan setara manusia dapat dirasakan oleh semua orang,” jelas sang juru bicara kepada Reuters. Pernyataan ini dengan jelas menunjukkan komitmen mereka pada misi jangka panjang.
Meski demikian, sang CEO, Sam Altman, tidak menampik kemungkinan tersebut. Secara terbuka, ia mengakui bahwa kebutuhan modal perusahaan akan membengkak di masa depan. “Saya pikir sangat wajar jika kita berasumsi bahwa IPO kemungkinan besar akan menjadi arah kami ke depan, mengingat kebutuhan pendanaan yang tidak main-main,” ujar Sam. Dengan kata lain, IPO bukanlah sekadar wacana, melainkan sebuah solusi logis untuk mendukung ambisi raksasa mereka.
Restrukturisasi Besar dan Peta Kepemilikan Baru
Lalu, apa yang memicu semua rumor panas ini? Ternyata, ini semua berawal dari sebuah restrukturisasi internal besar-besaran yang baru saja dilakukan OpenAI! Pada 28 Oktober 2025 lalu, mereka secara resmi membentuk entitas baru bernama OpenAI Group PBC (Public Benefit Corporation). Sementara itu, induk perusahaan nirlaba mereka yang lama berganti nama menjadi OpenAI Foundation.
Restrukturisasi cerdas ini langsung memetakan kepemilikan saham dengan jelas. Pertama, Yayasan Foundation memegang kendali atas 26 persen saham OpenAI Group. Kemudian, sebanyak 47 persen saham lainnya dibagi-bagikan kepada karyawan serta investor lama dan baru. Struktur ini dirancang untuk memastikan misi awal perusahaan tetap terjaga sambil tetap menarik minat investor.
Komitmen Keamanan AI dan Kemitraan Strategis dengan Microsoft
Sebagai bukti komitmennya, OpenAI Foundation pun mengumumkan akan menyalurkan dana sebesar 25 miliar dolar AS khusus untuk riset kesehatan dan keamanan AI. Langkah ini jelas dilakukan untuk meyakinkan publik bahwa mereka serius dalam mengembangkan AI yang bertanggung jawab.
Di sisi lain, kemitraan strategis mereka dengan Microsoft juga diperbarui dan diperkuat. Microsoft sekarang secara resmi memegang 27 persen saham di OpenAI. Sebagai imbalannya, Microsoft mendapatkan hak kekayaan intelektual atas model-model AI OpenAI hingga 2023, termasuk model masa depan yang terkait dengan AGI. Selain itu, sebagai bagian dari paket kolaborasi ini, OpenAI berkomitmen untuk menggunakan layanan cloud Azure senilai 259 miliar dolar AS secara bertahap. Kedua raksasa teknologi ini yakin, kolaborasi ini akan semakin mendorong inovasi dan membuka peluang ekonomi berbasis AI yang lebih luas lagi untuk masa depan.
Jadi, bisa dikatakan, semua tanda mengarah pada sebuah IPO epik yang tidak hanya akan mengubah peta dunia teknologi, tetapi juga cara kita berinteraksi dengan masa depan. Siap-siap, panggung sedang disiapkan!
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Exposenews.id










