Dentmas.id – Tahukah kamu? Ternyata, sebagian besar perusahaan di Indonesia kini sudah mulai melirik dan mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI). Akan tetapi, inilah fakta mengejutkannya: mayoritas dari mereka ternyata belum benar-benar siap untuk menghadapi segala tantangan maupun untuk “memetik” keuntungan maksimal dari investasi AI mereka.
Tanpa disangka-sadari, “kenyataan pahit” ini berhasil terungkap dalam laporan tahunan bertajuk “Cisco AI Readiness Index 2025” yang baru-baru ini dirilis oleh perusahaan teknologi jaringan asal AS, Cisco.
Secara mengejutkan, laporan tersebut membeberkan bahwa hanya 23 persen organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi tantangan dan peluang bisnis AI; mereka inilah yang kemudian masuk ke dalam kategori elit “Pacesetters”. Sebaliknya, sebagian besar perusahaan lainnya justru dinilai tidak sepenuhnya siap menghadapi AI dan akibatnya, mereka terancam tergerus zaman, baik dari segi penerapan teknologi maupun persaingan bisnis.
Sebagai informasi, Cisco memberikan julukan “Pacesetters” khusus untuk perusahaan-perusahaan yang sukses mengimplementasikan AI hingga ke tahap produksi dan secara konsisten menghasilkan nilai bisnis yang terukur serta nyata.
“Ambisi untuk mengadopsi AI sebenarnya luar biasa tinggi,” ujar Ben Dawson, SVP & President of Sales Cisco Asia Pacific (APAC), Japan & Greater China (APJC), dalam sebuah webinar. “Namun sayangnya, tingkat kesiapan mereka justru masih tertinggal sangat jauh,” tegasnya. “Pada kenyataannya, hanya segelintir perusahaan yang benar-benar mampu mengubah investasi dan ambisi besar itu menjadi nilai bisnis yang nyata,” tambah Ben.
Di sisi lain, Simon Miceli, Managing Director Cloud & AI Infrastructure Cisco APJC, menegaskan bahwa para Pacesetters ini tidak hanya sekedar bereksperimen dengan AI. Lebih dari itu, mereka juga mendefinisikan dengan sangat jelas tujuan yang ingin dicapai, sekaligus secara ketat mengukur hasil dari setiap tahapan implementasi AI di perusahaan mereka.
“Perusahaan yang tergolong Pacesetters ini membuktikan satu hal: kesuksesan AI bukanlah sekadar mimpi dan angan-angan, melainkan hasil dari persiapan matang dan eksekusi yang sangat disiplin,” ungkap Simon dalam kesempatan yang sama.
Meski demikian, Cisco sengaja tidak membeberkan secara detail berapa jumlah pasti dan berasal dari industri mana saja perusahaan yang berhasil menyandang gelar Pacesetters ini. Namun, satu hal yang pasti, perusahaan yang tidak masuk dalam golongan elit ini—yang jumlahnya mencapai sekitar 77 persen dari total responden di Indonesia—bisa dikatakan masih belum siap sepenuhnya untuk memanfaatkan segala potensi yang ditawarkan oleh AI.
Kemudian, jika kita rinci lebih lanjut, sisa perusahaan ini ternyata terbagi ke dalam beberapa kategori, yaitu: “Chasers” (cukup siap) yang mendominasi dengan porsi 56 persen, diikuti oleh “Followers” (siap terbatas) sebesar 21 persen, dan terakhir “Laggards” (belum siap) yang menyumbang sekitar 1 persen.
Nyaris Semua Perusahaan Punya Rencana Pakai AI!
Di bagian lain laporannya, Cisco juga mencatat sebuah tren yang sangat positif: 97 persen perusahaan di Indonesia, atau hampir semua responden, mengaku telah memiliki rencana konkret untuk menerapkan agen AI dalam 12 bulan ke depan. Perlu kamu tahu, agen AI adalah sistem AI canggih yang mampu bekerja secara otomatis tanpa perlu diperintah atau diberikan prompt berulang kali.
Selanjutnya, sebanyak 45 persen perusahaan di Indonesia juga berharap besar bahwa agen AI ini nantinya akan bisa bekerja berdampingan dan berkolaborasi dengan para karyawan mereka di tahun depan. Fakta ini jelas menunjukkan bahwa adopsi AI bukan lagi sekadar wacana, melainkan sudah berubah menjadi strategi bisnis yang sangat nyata di kalangan perusahaan Indonesia.
Walaupun rencana untuk menggunakan agen AI ini sudah mereka pikirkan, tidak sedikit perusahaan yang justru mengakui bahwa sistem yang mereka miliki saat ini masih belum fleksibel. Contohnya, sebanyak 29 persen responden dengan jujur mengungkapkan bahwa jaringan mereka tidak bisa ditingkatkan untuk mengatasi kompleksitas atau volume data yang biasanya melonjak drastis ketika agen AI mulai beraksi.
Sebaliknya, hanya 27 persen perusahaan saja yang dengan percaya diri menyatakan bahwa jaringan mereka sudah cukup fleksibel dan benar-benar siap untuk menghadapi banjir data yang dihasilkan oleh agen AI.
“Pada dasarnya, sebagian besar perusahaan sebenarnya sudah bisa mengidentifikasi area di mana AI bisa memberikan nilai tambah,” jelas Ben. “Namun sayangnya, hanya sekitar sepertiga dari mereka yang benar-benar memahami cara untuk mengukur dampak nyatanya,” lanjutnya. Terkait agen AI ini, Cisco juga mencatat bahwa sekitar 59 persen perusahaan di Indonesia baru sebatas memiliki rencana pengembangan tenaga kerja untuk menyongsong teknologi tersebut.
Waspada! ‘Utang Infrastruktur’ Bikin Perusahaan Ketinggalan Zaman!
Dalam Cisco AI Readiness Index 2025, Cisco juga memperkenalkan sebuah istilah baru yang mereka juluki “AI Infrastructure Debt” atau “Utang Infrastruktur AI”. Secara sederhana, istilah ini menggambarkan sebuah kondisi ketertinggalan teknologi yang dialami perusahaan karena mereka terburu-buru mengadopsi AI tanpa terlebih dahulu memperkuat sistem pendukungnya.
Bisa dibilang, AI Infrastructure Debt inilah yang akan membuat sebuah perusahaan ketinggalan zaman dan gagal bersaing dengan infrastruktur pendukung AI yang lebih mutakhir. “Utang Infrastruktur AI ini awalnya memang tidak terlihat,” kata Simon. “Namun seiring berjalannya waktu, konsep ini akan menyebabkan perusahaan yang tidak siap menjadi lambat dalam berinovasi. Selain itu, biaya operasional AI juga akan membengkak, dan nilai dari investasi AI yang sudah dikeluarkan pun perlahan-lahan akan terkikis,” tegas Simon.
Di Indonesia, tanda-tanda ketertinggalan zaman atau AI Infrastructure Debt ini sudah mulai bermunculan dan jelas tercermin dalam data Cisco AI Readiness Index 2025, dengan temuan mengkhawatirkan seperti ini:
- Sebanyak 55 persen perusahaan mengeluhkan biaya komputasi yang terlalu tinggi.
- Kemudian, 82 persen lainnya justru khawatir bahwa gaji para ahli AI akan melampaui anggaran yang mereka miliki.
- Lalu, 70 persen perusahaan mengaku masih kesulitan untuk memusatkan data mereka.
- Selanjutnya, 47 persen perusahaan ternyata belum memiliki pengolah grafis (GPU) yang memadai.
- Sementara itu, 32 persen responden dengan terpaksa menyebut bahwa sistem yang mereka gunakan saat ini sudah usang.
- Dan yang tak kalah memprihatinkan, 29 persen perusahaan mengakui bahwa infrastruktur IT mereka sama sekali tidak sanggup menahan lonjakan beban kerja yang tiba-tiba.
Simon kembali menambahkan, masalah yang ditimbulkan oleh AI Infrastructure Debt ini tidak hanya akan memperlambat laju kemajuan bisnis, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko keamanan siber yang baru dan lebih berbahaya. “Ingat, ketika aspek keamanan gagal dipenuhi, maka kepercayaan dari pengguna juga akan hilang. Dan kita semua tahu, kepercayaan adalah sebuah bentuk modal yang sangat penting. Tanpa AI yang aman, nilai bisnis yang dihasilkan pun pada akhirnya tidak akan berkelanjutan,” tegas Simon tegas.
Sayangnya, dalam hal keamanan siber ini, Cisco menyebut bahwa hanya 37 persen perusahaan di Indonesia yang sudah siap untuk menghadapi ancaman siber berbasis AI. Sedangkan, 56 persen perusahaan di Tanah Air baru sebatas menyadari adanya risiko keamanan siber yang bisa ditimbulkan oleh AI.
Solusinya? Ikuti Jejak Para Pacesetters!
Dengan ambisi besar yang tidak diimbangi oleh kesiapan memadai, Cisco menilai perusahaan-perusahaan di Indonesia sekarang harus segera mengambil aksi nyata dan memperbarui strategi mereka dengan cepat. Pasalnya, nilai bisnis dari AI hanya akan bisa diraih oleh perusahaan yang benar-benar siap, baik dari segi infrastruktur, tata kelola data, maupun ketersediaan talenta digital.
Oleh karena itu, jika tidak segera memperbarui fondasi digital dan memperkuat tata kelola AI, banyak perusahaan diprediksi akan tertinggal dan akhirnya tergerus zaman. “Jadi, saran kami bagi mereka yang dinyatakan belum siap adalah ikutilah jejak para Pacesetters,” pungkas Ben. “Mereka sudah membuktikan sendiri bagaimana cara mengembangkan dan menerapkan AI dengan tepat, sehingga mampu menciptakan nilai bisnis yang terukur dan berkelanjutan,” tutupnya.
Sebagai catatan akhir, laporan Cisco AI Readiness Index ini sengaja dirilis oleh Cisco setiap tahun, dan untuk tahun 2025 ini merupakan tahun ketiga peluncurannya. Untuk edisi tahun 2025, Cisco mengklaim telah melibatkan lebih dari 8.000 pemimpin perusahaan di bidang teknologi informasi (IT) dan bisnis dari 30 negara berbeda, termasuk Indonesia, yang mencakup 26 jenis industri. Surveinya sendiri dilakukan secara double-blind, yang artinya kedua belah pihak—baik yang disurvei maupun yang mensurvei (Cisco)—sama-sama tidak mengetahui identitas satu sama lain. Metode ini sengaja diterapkan dengan satu tujuan utama: menjaga integritas dan objektivitas data yang dikumpulkan.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com










