BANGKOK, Dentmas.id – Epson, raksasa teknologi asal Jepang, kembali membuktikan tajinya. Di tengah gempuran digitalisasi, mereka justru dengan percaya diri mengklaim masih bercokol di posisi puncak pasar printer Indonesia. Bukan sekadar klaim, mereka bahkan membeberkan datanya langsung kepada awak media. Managing Director Epson Indonesia, Ng Ngee Khiang, membuka suara di sela acara Media Gathering di The Berkeley Hotel, Pratunam, Bangkok, Thailand, pada Kamis (12/2/2026). Ia tidak hanya melaporkan angka, tetapi juga membeberkan strategi perang yang membuat mereka sulit tergoyahkan.
Apa rahasianya? Pertama, mari kita bedah peta kekuatan Epson di pasar printer.
Khiang dengan tegas menyebutkan, Epson kini menguasai 71 persen pangsa pasar printer inkjet di Indonesia. Angka ini, tegasnya, bukan hasil tebak-tebakan. Ia merujuk langsung pada laporan firma analis kelas dunia, IDC, untuk kuartal III-2025. Namun, kejutan terbesar justru datang dari segmesi andalan mereka. Ia mengungkapkan, di segmen ink tank, Epson melesat lebih tinggi lagi. Mereka mencengkeram pasar dengan pangsa 75 persen pada periode yang sama.
Lalu, apa yang membuat konsumen Indonesia begitu setia?
Jawabannya, Khiang tidak bertele-tele. Ia langsung menunjuk lini L-Series sebagai senjata pamungkas. “Printer, khususnya ink tank L-Series, masih menjadi tulang punggung bisnis kami di Indonesia,” ujarnya dengan nada optimistis. Ia kemudian merinci, produk ini telah lama hidup di tengah masyarakat. Sekolah-sekolah memercayakannya untuk mencetak ribuan lembar soal. UMKM menjadikannya mesin uang untuk mencetak brosur dan nota. Perkantoran pun mengandalkannya untuk dokumen sehari-hari.
Mengapa L-Series begitu dicintai? Khiang menjelaskan, masyarakat Indonesia sangat rasional dalam berbelanja. Mereka tidak sekadar membeli mesin, tetapi membeli efisiensi. Karakter pasar kita, akunya, masih haus akan volume cetak tinggi. Di era digital ini, dokumen fisik ternyata belum mati. Di sinilah Epson menawarkan solusi. Biaya cetak yang rendah, ditambah daya tahan mesin yang legendaris, membuat konsumen tidak berpaling ke merek lain. Mereka menghitung, memiliki Epson jauh lebih hemat ketimbang harus bolak-balik ke rental cetak.
Namun, apakah dominasi Epson hanya soal printer? Ternyata tidak.
Khiang kemudian mengalihkan pembahasan ke lini bisnis lain yang tidak kalah moncer. Ia menyebut, Epson juga merajai pasar proyektor Tanah Air. Dengan percaya diri, ia memaparkan data dari firma analis FutureSource Consulting. Hasilnya mencengangkan. Pada kuartal III-2025, Epson menguasai sekitar 75 persen pangsa pasar proyektor di Indonesia.
Di saat banyak orang mengira layar interaktif akan membunuh proyektor, Epson justru membuktikan sebaliknya. “Proyektor ini masih banyak digunakan di Indonesia,” klaim Khiang. Ia tidak sekadar bicara angka, tetapi juga melihat langsung ke lapangan. Ia melihat ribuan ruang kelas di pelosok negeri yang masih setia menggantung proyektor di langit-langit. Ia juga melihat ruang rapat perusahaan yang lebih memilih layar raksasa dari sinar lampu ketimbang panel datar yang mahal.
Apa keunggulan yang masih dijual Epson? Khiang menjabarkannya dengan gamblang. Fleksibilitas menjadi kata kunci. Dengan proyektor, pengguna bisa mengatur ukuran layar selebar tembok tanpa batasan fisik panel. Biaya pemakaian pun jauh lebih efisien. Ditambah lagi, proses pemasangannya sangat mudah. Faktor-faktor inilah, tegasnya, yang membuat proyektor tetap dilirik.
Meski data pasar dibeberkan terang-terangan, ada satu hal yang ia simpan rapi.
Khiang memilih untuk tidak merinci berapa persisnya volume unit printer dan proyektor yang mereka pasarkan selama kuartal III-2025. Ia hanya tersenyum dan mengisyaratkan bahwa angkanya sangat signifikan. Namun, satu hal yang ia pastikan: performa bisnis ini telah mengokohkan Indonesia sebagai salah satu pasar terbesar Epson di kawasan Asia Tenggara. Bukan hanya besar, tetapi juga paling loyal.
Lantas, bagaimana Epson menjaga gengsi ini ke depan?
Khiang menegaskan, mereka tidak akan serta-merta mengubah strategi besar. “Ke depan, strategi kami sebenarnya tetap sama seperti sebelumnya,” pungkasnya. Ia dan timnya memilih untuk fokus pada hal mendasar, yaitu menghadirkan produk yang efisien. Mereka tidak ingin tergoda membuat gawai yang canggih tetapi mahal dan tidak terjangkau. Sebaliknya, mereka terus mendengar denyut pasar. Mereka merancang mesin yang relevan dengan kebutuhan riil pengguna Indonesia, bukan sekadar mengikuti tren global.
Dari Bangkok, Epson mengirim pesan jelas: mereka tidak sedang berjudi dengan inovasi liar. Mereka bertaruh pada konsistensi. Dan buktinya, pasar berbicara. Dengan pangsa pasar nyaris tiga perempat dari total pasar, Epson seolah berkata, kursi raja belum ada yang bisa menggoyahkan.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










