Dentmas.id – Baru-baru ini, jagat maya mendadak dihebohkan oleh aksi nekat seorang warga Indonesia yang diduga berhasil membobol kecerdasan buatan (AI) milik perusahaan canggih xAI. Pelakunya dengan lihai memanipulasi chatbot AI bernama Grok hingga secara paksa mentransfer aset kripto senilai sekitar 200.000 dolar AS atau fantastis Rp 3,4 miliar! Dentmas.id langsung melaporkan insiden panas ini, dan kabar buruknya, si empu aksi ini diduga kuat berasal dari Tanah Air.
Jejak Digital di Media Sosial
Berdasarkan penyelidikan awal di platform X (dulu Twitter), semua mata kini tertuju pada satu akun misterius dengan handle @Ilhamrfliansyh. Siapa sangka, akun yang kini telah lenyap ditelan bumi maya itu diduga sebagai aktor utama di balik hilangnya uang miliaran rupiah. Pengguna aktif Indonesia ini, begitu sebutan para netizen, dengan dingin merancang sebuah serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Karena itu, kepanikan langsung melanda komunitas kripto ketika kabar ini menyebar bak api di lereng gunung Merapi.
Trik Kode Morse yang Mematikan
Jadi, apa sih biang keladinya? Insiden menggemparkan ini terjadi setelah sang pelaku dengan jenius mengecoh sistem Grok. Caranya unik banget, dia memakai pesan tersembunyi yang dirangkai dalam kode Morse! Bayangkan, sandi kuno yang biasa dipakai tentara atau pelaut masa lalu, sekarang menjelma menjadi senjata ampuh untuk membobol AI generasi terbaru. Hebatnya, Grok yang katanya pintar itu langsung termakan umpan.
Sistem yang terlibat tidak hanya satu. Dua sistem pintar terkena getahnya: pertama, Grok si chatbot, dan kedua, Bankrbot. Perlu Anda ketahui, Bankrbot ini adalah sistem perdagangan otomatis yang punya akses penuh ke dompet kripto digital. Gabungan keduanya jadi mimpi buruk. Seperti dilansir Dexerto pada Kamis (7/5/2026), dua bocor ini langsung dimanfaatkan habis-habisan oleh si peretas dadakan asal Indonesia.
Lonjakan Harga dan Kepanikan Pasar
Lantas, seberapa besar cuan yang berhasil dikuras? Laporan dari Dexerto menyebutkan bahwa pelaku dengan mulus menggasak sekitar 3 miliar token DRB. Jika dirupiahkan, nilainya mencapai 200.000 dolar AS atau setara Rp 3,4 miliar. Aksi transfer dana ilegal ini berlangsung cepat melalui jaringan blockchain Base. Setelah AI menjalankan perintah secara otomatis, duit itu langsung berpindah tangan. Singkat cerita, dompet si pelaku pun penuh sesak dalam hitungan menit!
Penasaran bagaimana langkah-langkah serangan maut ini? Tenang, akan saya jabarkan secara runtut. Pertama-tama, pelaku dengan cerdik mengirimkan sebuah NFT “Bankr Club Membership” langsung ke dompet digital milik Grok. Aksi ini tergolong jenius karena tujuannya sederhana namun fatal: memberikan izin tambahan kepada AI di dalam sistem Bankrbot. Dengan kata lain, sang pelaku secara tidak langsung memberikan “kunci utama” kepada AI untuk mengakses fitur paling berbahaya, termasuk kemampuan melakukan transaksi dan menukar aset kripto seenaknya.
Setelah semua izin mengalir, pelaku segera melancarkan fase kedua. Dia meminta Grok untuk menerjemahkan sebuah pesan kode Morse yang tampak biasa saja, bahkan terkesan tidak berbahaya. Namun, di balik titik dan garis yang polos itu, tersembunyi instruksi destruktif. Seketika, AI Grok pun lupa diri. Tanpa curiga, ia langsung menuruti perintah terselubung tersebut.
Nih, bagian paling krusialnya. Ternyata, di dalam kode Morse yang kelihatan innocent itu terselip perintah berbahaya agar AI mengirim miliaran token DRB ke alamat dompet tertentu milik pelaku. Karena sistem Grok dan Bankrbot menganggap hasil terjemahan itu sebagai perintah yang sah dan absolut, mereka langsung tancap gas. Akibatnya, Bankrbot tanpa berpikir panjang menjalankan transaksi itu dan mentransfer semua aset kripto ke dompet pelaku melalui jaringan Base. Semua terjadi otomatis, cepat, dan tanpa teriakan peringatan!
Begitu token DRB mendarat mulus di dompetnya, pelaku tidak membuang waktu sedetik pun. Langsung saja, dia menjual seluruh aset tersebut di pasar kripto terbuka. Aksi jual besar-besaran ini sontak membuat harga token DRB naik turun liar dalam sekejap mata. Pasar pun berguncang, sementara pelaku asal Indonesia itu tersenyum puas melihat saldo rupiahnya mengalir deras.
Ancaman Baru bagi Keamanan AI
Di media sosial X, spekulasi tentang identitas pelaku semakin menjadi-jadi. Sejumlah pengguna dengan cepat mengaitkan akun @Ilhamrfliansyh dengan Indonesia. Dasarnya sederhana: bahasa yang dipakai dalam interaksi serta jejak digital akun tersebut di komunitas kripto lokal sangat kental nuansa nusantara. Meskipun begitu, identitas asli pelaku hingga saat ini belum terungkap secara pasti. Apakah dia seorang pemuda biasa atau justru programmer handal? Semua masih jadi misteri.
Peristiwa ini memicu gelombang kekhawatiran baru yang serius di kalangan pakar teknologi. Fokus utama kini tertuju pada keamanan “AI Agent”—sebutan untuk sistem AI yang tidak hanya sekadar menjawab pertanyaan seperti chatbot random, tetapi juga bisa menjalankan tindakan langsung di komputer, server, atau bahkan dompet digital pengguna. Jadi, ketika AI diberi kewenangan bertindak, risikonya pun melonjak drastis.
Laporan dari Economic Times dengan tegas menyebutkan bahwa insiden Warga RI ini memperlihatkan risiko nyata dan berbahaya. Terutama ketika sebuah AI diberikan akses langsung ke sistem finansial dan aset digital tanpa pengawasan dan pembatasan yang super ketat. Suka tidak suka, para developer harus menarik napas panjang dan mengevaluasi ulang arsitektur keamanan mereka.
Meskipun Grok didesain secara khusus untuk membantu pengguna dengan cepat, kemampuan AI untuk menjalankan perintah hasil terjemahan tanpa pemeriksaan lebih dalam justru menciptakan celah keamanan yang menganga. Alih-alih menjadi asisten yang andal, Grok malah berubah menjadi “boneka” yang mau diperintah siapa saja yang jago menyusun kode Morse. Sungguh ironis!
Sejujurnya, para pakar keamanan siber sudah sejak lama memperingatkan dunia soal ancaman “prompt injection”. Teknik jahat ini memungkinkan pelaku menyisipkan instruksi tersembunyi untuk memanipulasi perilaku AI. Nah, insiden pembobolan Grok menggunakan kode Morse ini dianggap sebagai contoh sempurna dan nyata dari serangan mematikan tersebut. Apalagi, kali ini melibatkan sistem otomatis yang terhubung langsung dengan transaksi keuangan sungguhan.
Kesimpulannya, dunia AI dan kripto baru saja mendapat tamparan keras dari seorang warga Indonesia yang namanya masih misterius. Aksi nekat menggunakan sandi kuno ini tidak hanya menguras 3,4 miliar rupiah, tetapi juga membuka mata kita semua: bahwa tanpa pembatasan ketat, AI yang pintar sekalipun bisa jadi senjata makan tuan. Jadi, siap-siap saja, karena permainan baru di dunia maya baru saja dimulai!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










