Dentmas.id – Startup AI asal China, DeepSeek, kembali menciptakan sensasi! Kali ini, perusahaan yang meledak berkat model penalaran brilian DeepSeek R1 itu justru dituding melakukan praktek curang. Pasalnya, mereka didakwa melatih model terbarunya menggunakan ribuan chip Nvidia Blackwell super canggih yang kabarnya masuk ke China melalui jalur gelap alias hasil selundupan!
Pertama-tama, penting untuk kita pahami bahwa chip Blackwell merupakan GPU paling mutakhir buatan Nvidia saat ini. Selain itu, pemerintah Amerika Serikat sebelumnya telah secara resmi melarang chip ini beredar di China. Pada dasarnya, aturan ekspor AS ini sengaja mereka terapkan untuk mempertahankan keunggulan negara tersebut dalam perlombaan AI global.
Namun, laporan eksklusif dari The Information yang kemudian dikutip The Decoder justru membongkar skema licin! Menurut laporan tersebut, DeepSeek ternyata masih bisa mengamankan chip AI kelas premium itu. Hebatnya, mereka melakukannya lewat skema penyelundupan yang melibatkan sejumlah dealer nakal dan pusat data di kawasan Asia Tenggara.
Berdasarkan keterangan enam sumber intel The Information, mitra Nvidia awalnya mengirim chip-chip Blackwell tersebut secara legal ke pusat data di Asia Tenggara untuk proses instalasi dan pengujian. Selanjutnya, setelah proses itu selesai, para dealer langsung membongkar server yang berisi chip mahal itu. Kemudian, mereka mengirimkan komponen-komponen tersebut ke China dengan menggunakan dokumen palsu. Akhirnya, para teknisi merakit ulang seluruh perangkat itu di fasilitas rahasia milik DeepSeek di China.
Lebih lanjut, untuk mempermudah mobilisasi dan mengelabui aparat, operasi ini disebut-sebut menggunakan server berukuran kecil. Alhasil, setiap unitnya hanya memuat delapan chip sehingga lebih mudah untuk mereka pindahkan dan lolos dari pemeriksaan ketat bea cukai.
Nvidia Langsung Bantah Tegas!
Tuduhan mengejutkan ini langsung mereka bantah habis-habisan. Perusahaan raksasa yang didirikan Jensen Huang ini dengan tegas menyatakan belum menemukan satu pun bukti mengenai adanya pusat data palsu seperti yang digambarkan dalam laporan tersebut.
“Sampai saat ini, kami sama sekali belum melihat bukti atau menerima laporan terkait ‘phantom data centers’ yang sengaja dibangun untuk menipu kami maupun mitra OEM, lalu dibongkar, diselundupkan, dan dirakit ulang di tempat lain,” ujar juru bicara Nvidia dalam pernyataan resminya.
“Meskipun skema seperti itu terdengar sangat tidak masuk akal, kami selalu berkomitmen untuk menindaklanjuti setiap laporan yang kami terima,” lanjutnya, sebagaimana dikutip dari CNBC.
Di sisi lain, kita semua tahu bahwa Nvidia menjadi salah satu pemenang terbesar dalam ledakan AI global karena GPU mereka sangat dibutuhkan untuk melatih model besar dan menangani beban komputasi berat. Oleh karena itu, hubungan kompleks Nvidia dengan pasar China kini berubah menjadi topik panas yang terus diperdebatkan oleh para pembuat kebijakan di AS.
Baru pekan ini, Presiden AS Donald Trump memberi lampu hijau dengan mengizinkan Nvidia mengirim chip H200 ke “pelanggan yang disetujui” di China. Namun, syaratnya cukup unik: 25 persen dari nilai penjualan harus disetor ke pemerintah AS. Kebijakan kontroversial ini langsung memicu kritik pedas dari sejumlah politisi Republik yang menilai aturan itu terlalu longgar dan berbahaya.
Lantas, Benarkah DeepSeek Bergantung Sepenuhnya pada Nvidia?
Menariknya, dugaan penyelundupan chip Blackwell ini muncul hanya beberapa bulan setelah DeepSeek dengan bangga menyatakan bahwa China sedang mempersiapkan chip “generasi berikutnya” yang akan menopang kemandirian model AI lokal.
Sebagai catatan, sejak viral di awal tahun, publik mengetahui bahwa DeepSeek sebenarnya hanya menggunakan 2.048 unit Nvidia H800 GPU. Perlu Anda ketahui, GPU ini memiliki spesifikasi yang lebih rendah dibandingkan saudara tuanya, H100, yang biasa digunakan oleh perusahaan-perusahaan AI ternama di AS.
Walaupun H800 lebih lemah, tim DeepSeek berhasil membuat model R1 mereka tampil sangat kompetitif. Rahasianya? Mereka mengandalkan teknik efisiensi canggih seperti sparse attention. Akan tetapi, untuk melatih model generasi berikutnya yang lebih kompleks, chip Blackwell dianggap jauh lebih krusial karena telah dilengkapi dengan akselerator khusus yang dirancang untuk teknik tersebut.
Di lain pihak, DeepSeek memang dilaporkan pernah menguji chip buatan Huawei. Mereka juga dikabarkan menyimpan stok GPU generasi lama seperti A100 dan H100. Namun, beberapa laporan internal menyebutkan bahwa performa chip alternatif itu masih belum mampu menggantikan dominasi Nvidia dalam menangani beban kerja AI berskala sangat besar.
Pada akhirnya, seluruh kasus ini masih diselimuti kabut tebal. Satu pihak melontarkan tuduhan serius berdasarkan sumber anonim, sementara pihak yang dituduh membantah dengan keras. Bagi kita yang mengikuti perkembangan dunia AI, cerita ini jelas menjadi pengingat betapa sengit dan penuh trik persaingan di balik layar teknologi canggih yang kita nikmati sehari-hari. Hanya waktu yang bisa menjawab kebenaran di balik skandal yang berpotensi mengguncang industri ini.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Indonesiaartnews.or.id










