Dentmas.id – Rencana penggabungan dua raksasa penyedia foto stok dunia, Getty Images dan Shutterstock, akhirnya kandas di tengah jalan. Regulator Inggris secara resmi menolak merger tersebut, memaksa kedua perusahaan mengubur dalam-dalam ambisi mereka untuk bersatu.
Berdasarkan laporan The Wall Street Journal, otoritas antimonopoli Inggris dengan tegas menolak rencana merger tersebut. Mereka mengajukan satu syarat berat: Shutterstock harus rela melepas seluruh bisnis editorial globalnya, termasuk agensi foto dan jurnalistik yang menjadi tulang punggung perusahaan.
Pada Mei 2026 lalu, Competition and Markets Authority (CMA) Inggris menyatakan sikapnya dengan lugas. Mereka tidak akan memberikan lampu hijau untuk merger tersebut, kecuali Shutterstock bersedia menjual bisnis editorial globalnya secara utuh. Syarat ini jelas bukan perkara remeh bagi Shutterstock yang telah membangun portofolio editorialnya selama bertahun-tahun.
Syarat Berat dari Regulator yang Bikin Merger Tersendat
Apa alasan di balik penolakan regulator Inggris? Mereka khawatir hilangnya persaingan antara Getty Images dan Shutterstock akan membatasi pilihan bagi media-media di Inggris. Jika dua pemain besar ini bersatu, konsumen tidak punya banyak opsi. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, kondisi ini berpotensi memicu lonjakan harga yang pada akhirnya membebani industri media Tanah Ratu Elizabeth.
Namun daripada harus merelakan bisnis editorial Shutterstock, Getty Images memilih opsi yang berbeda. Mereka lebih memilih membatalkan seluruh perjanjian merger daripada memenuhi persyaratan yang diajukan regulator. Perusahaan secara resmi menyatakan tidak akan melanjutkan penjualan bisnis editorial Shutterstock, sehingga perjanjian penggabungan otomatis ikut batal.
Dengan keputusan berani ini, proses merger dinyatakan gagal total. Namun masih ada sedikit celah: jika terjadi perubahan signifikan terhadap kondisi yang ditetapkan regulator sebelum 7 Juli, kesepakatan ini bisa dihidupkan kembali. Tapi peluang itu tampak sangat tipis mengingat posisi Getty Images yang sudah bulat dengan keputusannya.
AS Setuju, Inggris Nge-Block: Bukti Regulator Global Tak Bisa Disepelekan
Menariknya, merger ini sebenarnya telah mendapatkan persetujuan antimonopoli tanpa syarat dari Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DoJ) pada awal tahun 2026. Lembaga hukum AS tidak menemukan masalah dalam rencana penggabungan kedua perusahaan raksasa ini. Namun kasus ini menjadi pelajaran berharga: persetujuan regulator AS ternyata tidak cukup untuk menyelesaikan transaksi global.
Setiap negara memiliki kewenangan penuh untuk menilai dampak merger terhadap pasar domestiknya. Inggris membuktikan bahwa mereka tidak segan-segan memblokir kesepakatan besar jika dinilai merugikan kepentingan nasional. Regulator di berbagai yurisdiksi seringkali memiliki pandangan berbeda tentang dampak persaingan usaha.
Ambisi Lawan AI yang Kandas di Tengah Jalan
Mari kita mundur sebentar ke Januari 2025, saat merger ini pertama kali diumumkan ke publik. Getty Images dan Shutterstock merencanakan penggabungan dengan nilai valuasi mencapai 3,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 66,5 triliun. Perusahaan hasil merger sedianya tetap menggunakan nama Getty Images Holdings Inc.
Aksi korporasi raksasa ini bukan tanpa tujuan. Mereka ingin membentuk perusahaan foto stok yang jauh lebih besar dan kuat. Mengapa? Untuk menghadapi ancaman nyata dari teknologi kecerdasan buatan atau AI generatif yang kian menggila. Bayangkan, berbagai platform AI kini mampu menciptakan gambar berkualitas tinggi secara instan hanya dengan perintah teks. Ini jelas mengancam bisnis inti Getty Images dan Shutterstock.
Saat mengumumkan merger, CEO Getty Images Craig Peters menyebut langkah ini sebagai transformasi besar bagi industri. Ia optimistis penggabungan akan menciptakan sinergi yang mampu melawan gempuran AI generatif. Namun siapa sangka, optimisme itu kini berakhir dengan kekecewaan. Rencana ambisius tersebut resmi kandas di tengah jalan.
Meski gagal merger, kedua perusahaan tetap memiliki strategi masing-masing untuk bertahan di era AI. Menariknya, Getty Images dan Shutterstock sama-sama menjalin kerja sama strategis dengan OpenAI. Melalui kemitraan ini, gambar berlisensi dari kedua perusahaan dapat ditampilkan dalam hasil pencarian ChatGPT. Kolaborasi ini memberikan nilai tambah bagi kedua belah pihak: perusahaan foto stok mendapatkan eksposur luas, sementara OpenAI memperkaya konten visualnya.
Dengan batalnya merger, Getty Images dan Shutterstock akan tetap beroperasi sebagai entitas terpisah. Mereka harus menghadapi persaingan yang semakin sengit dengan layanan AI generatif yang mampu menghasilkan gambar secara instan dan murah. Tantangan ini tidak ringan, mengingat teknologi AI terus berkembang pesat dan semakin canggih dari waktu ke waktu.
Industri foto stok saat ini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, mereka memiliki perpustakaan gambar berlisensi yang sangat berharga. Di sisi lain, AI generatif mengancam model bisnis tradisional mereka. Merger mungkin tampak seperti solusi, tetapi regulasi antimonopoli menjadi penghalang yang sulit ditembus.
Kegagalan merger ini juga menjadi sinyal bahwa regulator global semakin waspada terhadap konsolidasi industri. Mereka tidak tinggal diam ketika penggabungan berpotensi merugikan konsumen dan mengurangi pilihan di pasar. Ini sekaligus peringatan bagi perusahaan teknologi lain yang berencana melakukan merger lintas negara.
Ke depan, Getty Images dan Shutterstock harus mencari cara lain untuk bertahan. Kerja sama dengan OpenAI bisa menjadi salah satu jalan, tetapi mereka tetap perlu inovasi untuk menghadapi kompetisi yang semakin tidak terduga. AI generatif tidak akan berhenti berkembang, dan industri foto stok harus beradaptasi cepat atau tersingkir.
Yang jelas, persaingan di industri ini akan semakin menarik untuk disimak. Tanpa merger, kedua raksasa ini harus berjuang sendiri-sendiri menghadapi gelombang disruptif AI. Siapa yang akan bertahan dan siapa yang akan tumbang? Waktu yang akan menjawab.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










