Dentmas.id – Siapa sangka, BlackBerry kini benar-benar siap menggebrak panggung teknologi global dengan wajah baru yang sama sekali tak terduga! Namun, alih-alih merilis ponsel pintar yang dulu sempat melambungkan namanya ke puncak kejayaan, raksasa teknologi ini justru meluncurkan amunisi berupa sistem operasi QNX yang bertugas mengotaki kendaraan canggih serta robot otomatis.
Melalui wawancara eksklusif di program televisi Mad Money pada Senin (26/10/2026), Chief Executive Officer BlackBerry, John Giamatteo, menegaskan bahwa sistem operasi QNX saat ini telah terpasang rapi di lebih dari 275 juta kendaraan di seluruh dunia. Selain itu, perangkat lunak buatan BlackBerry tersebut juga sudah memperkuat berbagai sektor krusial, mulai dari robotika canggih, lembaga pemerintahan, peralatan medis berteknologi tinggi, hingga jaringan rantai pasok global. Lebih lanjut, Giamatteo menjelaskan bahwa produk unggulan yang mereka jual saat ini memang tidak lagi hadir sebagai perangkat yang bisa kita genggam di telapak tangan, tetapi keberadaannya justru menyusup dan aktif bekerja di setiap sudut kehidupan sehari-hari masyarakat modern.
Jika kita menengok ke belakang, nama besar BlackBerry memang pernah sangat merajai jagat telekomunikasi dan pasar ponsel Tanah Air. Pasalnya, data riset dari GfK mencatat fakta mengejutkan bahwa pangsa pasar ponsel BlackBerry di Indonesia sempat menembus angka fantastis sebesar 51 persen hingga Desember 2011. Namun, akibat peta persaingan yang berubah drastis, perusahaan asal Kanada tersebut akhirnya mengambil keputusan berani pada September 2016 dengan menghentikan total pengembangan perangkat keras buatan sendiri, lalu memfokuskan seluruh sumber daya perusahaan ke industri perangkat lunak.
Di samping sejarah panjangnya, kini nilai kapitalisasi pasar saham BlackBerry bertengger di kisaran 5,4 miliar dollar AS (setara Rp 97,2 triliun). Meskipun angka tersebut masih berada jauh di bawah nilai puncaknya pada tahun 2008 yang sempat menyentuh hampir 85 miliar dollar AS (setara Rp 1.530 triliun), pertumbuhan bisnis mereka saat ini tetap menunjukkan geliat yang sangat positif. Pasalnya, harga saham BlackBerry tercatat telah melesat tajam hingga 142 persen jika kita bandingkan dengan posisinya di awal tahun 2026.
Mesin Pencetak Uang Baru: Royalti QNX Tembus Triliunan Rupiah
Lebih jauh lagi, Giamatteo mengungkapkan bahwa nilai royalti yang bakal diterima dari sistem QNX kini telah menembus angka luar biasa, yakni lebih dari 1,2 miliar dollar AS (setara Rp 21,6 triliun). Angka raksasa tersebut sejatinya menggambarkan potensi pendapatan royalti yang sudah terikat kontrak resmi, meskipun perusahaannya belum sepenuhnya menarik dana tersebut. Hasilnya, performa ini menandai lompatan yang sangat signifikan bila dibandingkan dengan akhir tahun fiskal 2026 pada Februari 2026 lalu, yang kala itu nilainya masih berada di angka 950 juta dollar AS (setara Rp 17,1 triliun).
Giamatteo pun membeberkan bahwa ada tiga faktor pendorong utama yang benar-benar berhasil mendongkrak akselerasi bisnis QNX secara massif. Pertama, mayoritas produsen otomotif terkemuka dunia kini secara serentak beralih memanfaatkan arsitektur komputasi yang jauh lebih canggih. Kedua, BlackBerry terus agresif mengekspansi lini produk perangkat lunak QNX guna menjawab kebutuhan industri. Ketiga, melonjaknya permintaan global terhadap teknologi physical AI—istilah yang merujuk pada kecerdasan buatan yang bertindak langsung di alam nyata melalui mesin—seperti kendaraan swakemudi dan robotik, menjadi katalisator paling ampuh yang mengakselerasi pertumbuhan mereka.
Di antara jajaran inovasi terbarunya, BlackBerry mengandalkan produk software anyar bernama Alloy Kore, yang secara cerdas menggabungkan keandalan sistem operasi inti dengan fleksibilitas perangkat lunak perantara (middleware). Menariknya, pemesanan perdana untuk Alloy Kore langsung datang dari Coretura, yang merupakan perusahaan joint venture bentukan Volvo Group dan Daimler Truck. Alhasil, kesepakatan strategis tersebut berhasil menyumbangkan suntikan nilai backlog yang fantastis, yaitu mencapai lebih dari 100 juta dollar AS (setara Rp 1,8 triliun) ke dalam pundi-pundi QNX.
Tak Buat Fisik Robot, BlackBerry Amankan Sistem AI Hingga Gandeng Nvidia
Meskipun demikian, BlackBerry menegaskan komitmennya untuk tidak memproduksi unit robot fisiknya sendiri secara langsung. Sebaliknya, perusahaan ini justru memilih fokus menjadi pemasok utama perangkat lunak keselamatan paling andal bagi robot-robot pemindah barang di gudang, armada forklift tanpa pengemudi, hingga mesin pendorong palet otomatis.
Bahkan, kolaborasi strategis BlackBerry kian memicu perhatian pasar setelah Nvidia secara resmi menetapkan QNX sebagai standar utama untuk Halos Safety Stack, yaitu ekosistem keselamatan robotik tercanggih besutan Nvidia. “Nvidia adalah mitra yang luar biasa,” puji Giamatteo penuh optimisme. Lebih lanjut, ia meyakini bahwa kemitraan erat ini secara otomatis membuka pintu peluang bisnis yang luar biasa luas di seluruh dunia, sebagaimana dikutip dari laporan Yahoo Finance.
Bahkan, dalam pemaparan kinerja keuangan perusahaan pada September lalu, Giamatteo membeberkan data bahwa ada lebih dari 20 perusahaan manufaktur papan atas yang saat ini sedang aktif menguji coba dan menjajaki integrasi platform kolaborasi Nvidia bersama BlackBerry. Tak tanggung-tanggung, para pengembang yang terlibat dalam pengujian tersebut mencakup para perancang robot humanoid masa depan, pembuat robot bedah medis berpresisi tinggi, hingga produsen drone canggih.
Rekor Kinerja Keuangan: Pendapatan Melejit dan Margin Menggiurkan
Sementara itu, berdasarkan laporan keuangan untuk kuartal yang berakhir pada 31 Agustus 2026, BlackBerry berhasil mengantongi total pendapatan hingga 163,3 juta dollar AS (setara Rp 2,94 triliun), yang berarti tumbuh melonjak 26 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Di saat bersamaan, lini pendapatan khusus dari QNX turut melambung 27 persen year-on-year menjadi 80,3 juta dollar AS (setara Rp 1,45 triliun). Tak hanya itu, margin kotor dari bisnis QNX—yaitu persentase keuntungan bersih setelah dikurangi biaya operasional langsung—mampu mencatatkan angka yang sangat mengesankan sebesar 87 persen.
“QNX berhasil mencetak rekor kinerja terbaik sepanjang sejarah pada kuartal ini, yang mana keberhasilan tersebut utamanya didorong oleh kokohnya fondasi bisnis otomotif inti kami,” tegas Giamatteo dengan bangga saat membagikan rilis resmi kinerja perusahaan. Meski begitu, sektor non-otomotif termasuk segmen robotika saat ini baru menyumbang porsi sekitar 20 persen dari total pendapatan QNX. Selain itu, manajemen BlackBerry hingga kini memang belum merinci secara detail berapa angka persentase pasti kontribusi industri robotik di dalam timbunan nilai royalti 1,2 miliar dollar AS tersebut.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.








