Dentmas.id – Kabar menggembirakan datang dari industri kecerdasan buatan Tanah Air. Perusahaan infrastruktur AI kelas dunia, Firmus, baru saja mengamankan pendanaan segar senilai USD 2 miliar atau setara dengan Rp32,6 triliun. Bayangkan, uang sebesar itu bukan untuk hal kecil—melainkan untuk mempercepat pembangunan pabrik-pabrik AI di Australia dan kawasan Asia Pasifik, termasuk satu proyek super raksasa yang akan berdiri megah di Batam, Indonesia. Ya, Batam bersiap menjadi salah satu episentrum AI dunia!
Investor Kelas Kakap Berbondong-bondong, Valuasi Firmus Melambung Tinggi
Putaran pendanaan terbaru ini nyatanya tak hanya melibatkan nama-nama kecil. Raksasa teknologi Nvidia kembali menunjukkan kepercayaannya dengan ikut serta dalam suntikan modal kali ini. Tak ketinggalan, Coatue Management, Blackstone melalui sejumlah dana kelolaannya, serta Jane Street juga turut meramaikan barisan investor. Kehadiran mereka seolah menjadi “stempel emas” yang menegaskan bahwa proyek AI di kawasan ini memiliki masa depan cerah.
Alhasil, suntikan jumbo ini langsung melontarkan valuasi Firmus ke angka lebih dari USD 10,5 miliar. Angka ini nyaris dua kali lipat dari valuasi perusahaan yang tercatat sekitar USD 5,5 miliar pada April 2026 lalu. Lonjakan ini jelas bukan kebetulan—ini adalah bukti nyata bahwa pasar percaya penuh pada visi besar Firmus dalam membangun infrastruktur AI generasi baru.
Proyek 360 MW di Batam: Kampus AI dengan 170.000 Akselerator Canggih
Lantas, apa yang membuat proyek di Batam begitu istimewa? Firmus sebelumnya telah mengumumkan rencana ambisius untuk membangun kampus AI factory berkapasitas raksasa 360 MW di Pulau Batam. Proyek ini dirancang untuk menampung hingga 170.000 akselerator AI—sebuah jumlah yang benar-benar mencengangkan. Tak main-main, Firmus akan menggunakan GPU dan akselerator Nvidia dari platform Grace-Blackwell, Vera-Rubin, hingga Vera yang akan dipasang secara bertahap sepanjang 2027 dan 2028.
Dengan skala sebesar itu, fasilitas Batam diproyeksikan akan menjadi salah satu proyek infrastruktur AI terbesar di kawasan Asia Pasifik. Bukan sekadar pabrik data biasa, ini adalah “kampus” tempat masa depan kecerdasan buatan dibangun dan diuji coba.
Teknologi Pendingin Cair dan HyperCube: Kunci Efisiensi Energi
Yang membuat proyek ini kian menarik adalah pendekatan teknologinya. Firmus berencana menggabungkan platform AI factory Nvidia DSX dengan arsitektur HyperCube miliknya sendiri yang mengandalkan sistem pendingin cair. Metode ini dirancang khusus untuk menjalankan komputasi AI dalam skala besar namun dengan efisiensi energi yang jauh lebih tinggi dibandingkan sistem konvensional. Ini adalah langkah cerdas di tengah gempuran isu keberlanjutan dan konsumsi energi yang kerap menghantui pusat data besar.
Proyek strategis di Batam ini pun dikembangkan bersama DayOne, perusahaan infrastruktur digital berbasis di Singapura. Kapasitas awal dari fasilitas ini ditargetkan mulai tersedia pada kuartal pertama 2027—artinya, kita tinggal menunggu hitungan bulan lagi untuk melihatnya beroperasi.
Potensi Pendapatan Fantastis dan Dampak bagi Indonesia
Tak heran jika Firmus sangat optimis dengan proyek ini. Perusahaan memperkirakan kerja sama ini berpotensi menghasilkan kontrak penggunaan kapasitas atau committed offtake senilai USD 25 miliar hingga USD 30 miliar dalam enam tahun pertama. Angka yang sangat fantastis dan bisa mengubah lanskap ekonomi digital di kawasan.
Masuknya tambahan modal ini jelas memperkuat rencana ekspansi Firmus di Asia Pasifik, dan Indonesia menjadi salah satu pasar pertama yang dibidik di luar Australia. Lokasi Batam dinilai sangat strategis karena berdekatan dengan Singapura—salah satu pusat data terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, Batam juga memiliki akses langsung ke jaringan kabel bawah laut dan kawasan industri yang mumpuni, menjadikannya lokasi yang sempurna untuk pusat komputasi AI kelas dunia.
Co-CEO Firmus, Oliver Curtis, menegaskan bahwa suntikan modal baru ini akan membantu perusahaan mempercepat proyek-proyek AI factory yang sedang digarap, termasuk langkah awal mereka di Indonesia. “Kami akan terus bergerak dengan kecepatan yang sama, dan pendanaan ini memungkinkan kami mempercepat proyek di Australia serta langkah awal kami di Indonesia,” ujar Curtis kepada Reuters, Minggu (9/8/2026). Semangat dan kecepatan ini jelas menjadi angin segar bagi ekosistem teknologi Indonesia.
Gelombang Investasi AI Mulai Mengalir Deras ke Indonesia
Yang menarik, proyek Firmus ini bukanlah investasi infrastruktur AI pertama yang masuk ke Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah perusahaan global mulai mengumumkan rencana pembangunan pusat data dan infrastruktur komputasi AI di Tanah Air. Fenomena ini menunjukkan bahwa Indonesia perlahan namun pasti mulai dilirik sebagai basis penting bagi pengembangan teknologi masa depan.
Permintaan akan GPU untuk melatih dan menjalankan model-model AI diperkirakan akan terus melonjak seiring dengan makin banyaknya perusahaan, startup, hingga pemerintah yang mengadopsi kecerdasan buatan dalam operasional mereka. Kondisi ini menciptakan peluang besar, tidak hanya bagi Firmus, tetapi juga bagi seluruh ekosistem digital di Indonesia.
Bukan Milik Nvidia, tapi Menggunakan Teknologi Terbaik Nvidia
Penting untuk dicatat bahwa meskipun Nvidia turut menanamkan modal di Firmus, fasilitas Batam ini bukanlah pusat data milik Nvidia. Firmus bertindak sebagai pengembang dan operator infrastruktur tersebut, dengan memanfaatkan teknologi serta akselerator AI Nvidia. Kolaborasi ini adalah model bisnis yang ideal—di mana pengembang infrastruktur mendapatkan akses ke teknologi terbaik, sementara penyedia chip seperti Nvidia memperluas jangkauan pasar mereka.
Dengan semua perkembangan ini, masa depan AI di Indonesia tampak kian cerah. Batam, yang dulu mungkin lebih dikenal sebagai kawasan industri manufaktur, kini bersiap menyandang status baru: salah satu pusat komputasi kecerdasan buatan terbesar di Asia Pasifik. Kita tunggu saja gebrakan berikutnya!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










