Dentmas.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali mengencangkan cengkeramannya terhadap ekspor chip kecerdasan buatan (AI) ke China. Kali ini, Washington secara berani menutup semua “jalan belakang” yang selama ini dimanfaatkan perusahaan-perusahaan China untuk mendapatkan chip AI tercanggih Nvidia dan AMD melalui anak usaha mereka yang beroperasi di luar negeri. Langkah ini benar-benar mengubah papan permainan teknologi global!
Melalui panduan terbaru yang diterbitkan Biro Industri dan Keamanan (BIS) di bawah Departemen Perdagangan AS, pemerintah secara tegas memaksa perusahaan yang berkantor pusat di China untuk tetap mematuhi aturan lisensi ekspor AS, meskipun mereka beroperasi melalui anak usaha atau afiliasi di negara lain. Dengan aturan baru yang keras ini, perusahaan China tidak bisa lagi dengan mudah membeli chip AI canggih melalui kantor cabang atau anak usaha di negara seperti Malaysia, Singapura, atau wilayah lain di luar China tanpa mengantongi izin khusus dari pemerintah AS.
Pemerintah AS dengan lantang menegaskan bahwa kebijakan ini bukanlah larangan baru, melainkan penegasan atas kontrol ekspor yang sebenarnya sudah mereka berlakukan sejak 2023. Selama ini, regulator AS menilai masih terdapat celah hukum yang memungkinkan perusahaan China dengan licik memperoleh chip AI canggih melalui anak usaha atau afiliasi yang beroperasi di luar negeri. Seorang juru bicara BIS dengan tegas menyatakan, “BIS menerbitkan panduan yang memperjelas persyaratan lisensi ekspor yang telah berlaku sejak 2023. BIS akan terus menegakkan kontrol ekspor secara ketat untuk melindungi teknologi penting milik Amerika.”
Ratusan Ribu Chip Diduga Lolos Lewat Jalur Tikus
Langkah agresif ini secara efektif menutup celah regulasi yang muncul setelah pemerintahan AS sebelumnya tidak menerapkan aturan AI Diffusion Rule yang lebih ketat. Akibat kelonggaran itu, selama hampir satu tahun terakhir, perusahaan China diduga masih leluasa mengakses chip AI kelas atas melalui entitas mereka di luar negeri tanpa perlu repot mengurus lisensi ekspor khusus. Menurut laporan Reuters yang mengejutkan, seorang sumber industri semikonduktor memperkirakan celah tersebut mungkin memungkinkan pengiriman ratusan ribu chip AI ke perusahaan-perusahaan China melalui jalur tidak langsung selama periode tersebut. Fantastis, bukan?
Perlu Anda ketahui, chip yang terdampak bukanlah produk sembarangan. Pembatasan terbaru ini secara langsung menyasar chip AI paling canggih yang saat ini digunakan untuk melatih dan menjalankan model AI generatif berskala besar, termasuk keluarga Nvidia Blackwell, generasi penerusnya Nvidia Rubin, hingga akselerator AI AMD MI350X. Produk-produk strategis ini menjadi komponen vital bagi perusahaan teknologi untuk membangun pusat data AI super cepat dan mengembangkan model AI generasi baru yang membutuhkan daya komputasi sangat besar.
Kekhawatiran Washington semakin memuncak setelah mereka mendeteksi indikasi kuat bahwa sejumlah perusahaan AI China memperoleh akses ke chip AI canggih melalui operasi mereka di luar negeri. Dilansir Reuters, otoritas AS selama beberapa waktu terakhir terus menyoroti kemungkinan penggunaan negara ketiga sebagai jalur belakang untuk memperoleh teknologi yang sebenarnya sudah dibatasi untuk China. Malaysia dan Singapura termasuk negara yang beberapa kali disebut dalam diskusi regulator AS terkait pergerakan server maupun perangkat yang menggunakan chip Nvidia. Meski demikian, tidak ada indikasi bahwa kedua negara tersebut melanggar aturan ekspor AS. Pemerintah AS kini berupaya memastikan bahwa pembatasan ekspor tidak hanya berlaku berdasarkan lokasi pengiriman barang, tetapi juga berdasarkan identitas perusahaan pembelinya. Dengan kata lain, siapapun pemiliknya, selama dia perusahaan China, jalannya tertutup rapat!
Persaingan Dua Raksasa Memasuki Babak Baru
Kebijakan terbaru ini menjadi bagian dari strategi panas Washington untuk mempertahankan keunggulan teknologi AI atas China. Dalam beberapa tahun terakhir, AS berulang kali memperketat pembatasan ekspor teknologi semikonduktor, mulai dari mesin pembuat chip, perangkat manufaktur semikonduktor, hingga chip AI berperforma tinggi buatan Nvidia dan AMD. Washington dengan sadar menilai teknologi AI tingkat lanjut memiliki implikasi strategis yang dapat digunakan China untuk memperkuat kemampuan militer, keamanan siber, hingga pengembangan sistem komputasi nasional mereka.
Di sisi lain, Beijing terus mendorong pengembangan industri semikonduktor domestik secara masif untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asal AS. Perusahaan-perusahaan China seperti Huawei juga semakin agresif mengembangkan chip AI sendiri sebagai alternatif sengit produk Nvidia. Persaingan kedua adidaya ini benar-benar memasuki babak baru yang lebih seru dan menegangkan!
Bagi Nvidia, kebijakan terbaru yang mematikan ini berpotensi semakin mempersempit akses mereka ke salah satu pasar AI terbesar di dunia. Perusahaan yang dipimpin Jensen Huang tersebut sebelumnya telah beberapa kali terkena dampak pembatasan ekspor AS yang membatasi penjualan chip AI canggih langsung ke China. Kini, dengan ditutupnya semua celah, masa depan distribusi chip AI global benar-benar berubah drastis. Satu hal yang pasti: tidak ada jalan belakang lagi bagi China untuk mendapatkan chip tercanggih dari AS!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










