Dentmas.id – Dunia teknologi dikejutkan kabar terbaru! Pemerintah Amerika Serikat dikabarkan telah memberi lampu hijau kepada sekitar 10 perusahaan teknologi China untuk membeli chip AI Nvidia H200. Setelah sekian lama menutup pintu, AS kini mulai melonggarkan kebijakan ekspornya.
Berdasarkan laporan Reuters yang berhasil dihimpun, Departemen Perdagangan AS secara resmi telah menyetujui lisensi impor tersebut. Keputusan ini langsung mengundang beragam spekulasi di kalangan analis teknologi global.
Siapa Saja yang Masuk Daftar?
Nah, perusahaan-perusahaan raksasa China ternyata masuk dalam daftar penerima izin ini. Beberapa nama besar yang disebut antara lain Alibaba, Tencent, ByteDance (induk TikTok yang sangat populer), dan JD.com. Selain keempat raksasa e-commerce dan teknologi itu, para distributor seperti Lenovo dan Foxconn juga dikabarkan mendapat izin untuk menjual chip canggih tersebut di pasar China.
Setiap perusahaan diizinkan membeli hingga 75.000 unit chip H200 sesuai ketentuan lisensi yang dikeluarkan AS. Jumlah yang sangat fantastis, bukan?
Chip ‘Second Class’ untuk Pasar China
Perlu Anda ketahui, Nvidia H200 sebenarnya bukanlah chip AI paling mutakhir yang dimiliki Nvidia. Chip ini merupakan versi yang kemampuannya sengaja dipangkas agar masih bisa lolos dari aturan ekspor AS yang ketat untuk China.
Sebelumnya, AS memang memperketat ekspor chip Nvidia H200 ke China dengan tujuan melindungi posisi dominan dan keunggulan teknologi Negeri Adidaya tersebut. Namun kini, kontrol ekspor itu mulai dilonggarkan secara perlahan, tentu dengan syarat yang mengikat.
Syarat Menggantung di Balik Izin Ekspor
Peraturan baru yang diterbitkan pada Januari lalu mewajibkan perusahaan China membuktikan bahwa chip tersebut tidak dipakai untuk kepentingan militer. Sebuah dokumen pernyataan resmi harus diserahkan sebelum pengiriman dilakukan.
Selain itu, Nvidia juga diwajibkan memastikan stok chip tersedia di wilayah AS sebelum dikirim ke China. Kebijakan ini memastikan bahwa aliran distribusi dapat dipantau secara ketat oleh otoritas AS.
Yang paling menarik, pemerintahan Donald Trump disebut membuat skema khusus di mana AS akan menerima 25 persen pendapatan dari penjualan chip tersebut. Wow, ini benar-benar langkah licik!
Mekanisme Khusus yang Memicu Kekhawatiran
Karena hukum AS tidak mengizinkan pungutan ekspor langsung, chip itu nantinya harus melewati wilayah AS terlebih dahulu sebelum dikirim ke China. Skema ini disebut memicu kekhawatiran serius di Beijing soal potensi celah keamanan atau manipulasi pada perangkat keras yang dikirim.
Pemerintah China khawatir bahwa chip-chip tersebut dapat dimanipulasi dari jarak jauh oleh pihak AS. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan mengingat ketegangan teknologi antara dua negara adidaya tersebut.
Ironi: Sudah Diizinkan, Tapi China Menahan Diri
Inilah bagian yang paling menarik! Meski sudah mendapat persetujuan dari AS, penjualan chip H200 ternyata belum benar-benar berjalan. Sebuah ironi yang mengundang tanya besar.
Salah satu sumber Reuters mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan China mulai menahan diri membeli chip tersebut setelah mendapat arahan tegas dari pemerintah Beijing. Ya, China justru yang mengerem!
China dikhawatirkan ketergantungan pada chip AI Nvidia justru melemahkan ambisi mereka membangun industri domestik sendiri. Saat ini, sejumlah perusahaan China mulai beralih memakai chip lokal seperti buatan Huawei.
Nvidia Terjepit di Pasar Raksasa
Kondisi ini sekaligus memperlihatkan posisi Nvidia yang makin sulit di China. Padahal sebelumnya Nvidia pernah menguasai sekitar 90 hingga 95 persen pasar chip AI kelas atas di Negeri Tirai Bambu. Bayangkan, dari hampir monopoli menjadi…
Pendiri sekaligus CEO Nvidia Jensen Huang belum lama ini mengaku pangsa pasar Nvidia di China praktis turun menjadi nol akibat aturan kontrol ekspor AS. Nol persen! Sebuah penurunan yang sangat drastis.
Huang Tetap Berseberangan dengan China
Kendati perusahaannya harus menelan pil pahit kehilangan pasar raksasa, Huang rupanya tetap satu suara dengan pemerintahnya. Ia secara terbuka menyatakan setuju bahwa China memang tidak seharusnya memiliki akses terhadap chip AI paling mutakhir. Sikap tegas ini patut diacungi jempol.
Dalam kesempatan yang sama, Huang secara spesifik menyebut nama arsitektur GPU AI generasi terbarunya, yakni Blackwell dan Rubin. Ia dengan tegas menyatakan bahwa China sama sekali tidak boleh mendapat akses ke dua jajaran chip super canggih tersebut. Dua produk ini dijaga super ketat!
AS Harus Jadi yang Terdepan!
Menurut Huang, dalam perlombaan kecerdasan buatan global saat ini, AS mutlak harus memegang kendali penuh. Tidak boleh ada kompromi terkait keamanan nasional dan supremasi teknologi.
Ia juga menegaskan bahwa Amerika Serikat harus memiliki “yang pertama, yang terbanyak, dan yang terbaik” dalam hal kepemilikan perangkat keras AI. Sebuah pernyataan yang menunjukkan nasionalisme teknologi yang tinggi.
Meski mendukung penuh ambisi supremasi teknologi AS, bos Nvidia itu juga mendesak agar tidak mematikan langkah perusahaan Amerika sepenuhnya di pasar global. Ia meminta agar para pemain semikonduktor dari AS tetap diberikan kelonggaran, termasuk tetap berbisnis di pasar China untuk menjual lini produk yang tidak melanggar aturan ekspor.
Dengan kata lain, Huang menginginkan pendekatan yang seimbang: melindungi teknologi paling sensitif namun tetap membuka peluang bisnis untuk produk-produk yang aman. Sebuah strategi yang tampaknya juga dianut oleh pemerintah AS saat ini.
Pertanyaannya kini, akankah China terus menahan diri atau justru memanfaatkan celah ini? Situasi ini jelas masih akan terus berkembang dan layak untuk terus dipantau.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










