Dentmas.id — Pemerintah AS kembali mengguncang peta persaingan teknologi global. Kali ini, Washington menyiapkan rencana kenaikan tarif impor semikonduktor asal China yang akan mulai berlaku pada Juni 2027. Informasi ini mencuat setelah Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) memasukkan kebijakan tersebut ke dalam dokumen Federal Register yang diajukan pada Selasa, 23 Desember 2025 waktu setempat.

Meski terdengar tegas, USTR menjelaskan bahwa kebijakan ini tidak langsung menyasar seluruh produk chip. Pemerintah AS memilih fokus pada semikonduktor berteknologi lama buatan China. Namun demikian, besaran tarifnya masih belum ditentukan. Pemerintah berjanji akan mengumumkan angka pastinya setidaknya satu bulan sebelum kebijakan tersebut resmi berlaku pada 2027.
Sementara itu, hingga 23 Juni 2027, tarif impor untuk chip lama asal China masih dipatok nol persen. Kendati begitu, kebijakan ini memberi sinyal kuat bahwa AS tengah menyusun strategi jangka panjang untuk melindungi industri semikonduktor domestik sekaligus menata ulang keseimbangan pasar global.
Menuju 2027: Strategi Tarif Jangka Panjang AS
Lebih jauh, rencana kenaikan tarif ini lahir dari hasil investigasi USTR yang menyoroti dugaan praktik perdagangan tidak adil oleh China di sektor semikonduktor. Temuan tersebut memperkuat kekhawatiran lama AS terhadap ekspansi agresif China di industri chip dunia.
Investigasi ini sudah dimulai sekitar satu tahun lalu. Dalam penilaiannya, pemerintah AS melihat bahwa pertumbuhan industri semikonduktor China berjalan beriringan dengan dukungan negara yang masif. Akibatnya, harga chip buatan China ditekan jauh di bawah harga pasar global, sehingga produsen dalam negeri AS harus menghadapi tekanan berat dan persaingan yang tidak seimbang.
Menurut USTR, kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Pasalnya, industri semikonduktor memegang peran krusial dalam rantai pasok teknologi, mulai dari elektronik konsumen hingga sektor pertahanan nasional.
Dugaan Praktik Non-Pasar China Jadi Sorotan
Dalam dokumen Federal Register, USTR secara gamblang menyebut bahwa China telah lama menargetkan industri semikonduktor sebagai sektor strategis. Selama beberapa dekade, China dinilai secara konsisten menerapkan kebijakan dan praktik non-pasar demi mengejar dominasi global di sektor tersebut.
Praktik non-pasar ini merujuk pada campur tangan pemerintah yang sangat dominan dalam aktivitas ekonomi. Contohnya mencakup pemberian subsidi besar-besaran, dukungan pembiayaan negara, serta kebijakan protektif yang membatasi persaingan bebas. Alhasil, mekanisme pasar tidak berjalan secara alami.
Dampaknya terasa langsung di pasar internasional. Harga produk semikonduktor China menjadi jauh lebih murah secara tidak wajar. Pada akhirnya, situasi ini dinilai merusak persaingan sehat dan membuat banyak perusahaan global, khususnya di AS, kesulitan bertahan tanpa perlindungan kebijakan.
Kelanjutan Kebijakan Era Biden dan Trump
Selain itu, USTR menegaskan bahwa kebijakan kenaikan tarif ini merupakan kelanjutan dari proses peninjauan chip generasi lama China yang telah dimulai sejak era pemerintahan Presiden Joe Biden. Proses tersebut mengacu pada Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan AS, yang memungkinkan pemerintah mengambil tindakan terhadap praktik dagang yang merugikan.
Dalam konteks ini, penetapan jadwal penerapan tarif dianggap penting. Kepastian waktu memberi ruang bagi perusahaan-perusahaan AS untuk menyesuaikan strategi bisnis, merancang ulang rantai pasokan, serta mengantisipasi dampak biaya sebelum kebijakan benar-benar berlaku.
USTR juga menekankan bahwa tarif ini terpisah dari bea masuk lain yang sebelumnya dirancang pada masa pemerintahan Donald Trump berdasarkan Pasal 232, yang berkaitan dengan isu keamanan nasional. Hingga kini, tarif berdasarkan pasal tersebut belum ditetapkan dan kecil kemungkinan diterapkan dalam waktu dekat.
Tarif, Diplomasi, dan Arah Baru Hubungan Dagang
Sebagai catatan, semikonduktor asal China sebenarnya sudah dikenai tarif tinggi oleh Amerika Serikat. Salah satunya adalah bea masuk sebesar 50 persen yang ditetapkan pada era pemerintahan Biden dan mulai berlaku sejak 1 Januari 2025. Kebijakan ini menunjukkan bahwa Washington terus memperketat pengawasan di sektor teknologi strategis.
Menariknya, laporan CNBC menilai bahwa rencana tarif baru pada 2027 bisa menjadi sinyal perubahan pendekatan pemerintahan Trump. Alih-alih memperkeruh konflik, langkah ini justru dipandang sebagai upaya meredakan ketegangan dagang antara AS dan China secara bertahap dan terukur.
Di sisi lain, tarif tambahan juga berpotensi menjadi alat tawar-menawar dalam diplomasi. Jika pembicaraan dagang kembali menemui jalan buntu, kebijakan tarif semikonduktor dapat dimanfaatkan sebagai kartu negosiasi yang kuat.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping telah mencapai gencatan senjata dagang pada Oktober 2025. Kesepakatan tersebut mencakup pemangkasan sebagian tarif oleh AS serta pelonggaran ekspor logam tanah jarang oleh China, yang sangat penting bagi industri teknologi global.
Dengan demikian, rencana kenaikan tarif semikonduktor pada 2027 tidak sekadar mencerminkan kebijakan ekonomi. Lebih dari itu, langkah ini menjadi bagian dari strategi geopolitik dan teknologi yang lebih luas, sekaligus penentu arah baru persaingan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










