Dentmas.id – Dunia medis sekarang sedang guncang-guncangnya. Bukan karena virus baru, tapi karena kecerdasan buatan (AI) mulai merangsek masuk ke hampir semua fase perawatan pasien. Nggak cuma bantu dokter di ruang operasi atau laboratorium, lho. Kini, AI berani tampil sebagai “pendamping” yang setia menemani pasien dari awal sampai akhir perjalanan perawatan mereka.
Berdasarkan rangkuman dari Forbes dalam artikel bertajuk “AI And The Continuum Of Care” karya John Werner yang terbit 25 Mei 2026, teknologi ini bekerja mulai dari deteksi dini penyakit, diagnosis, pengobatan, hingga pantauan pasca-perawatan di rumah. Bayangkan, AI mampu mengumpulkan data klinis pasien secara terus-menerus dari rumah, melacak perubahan gejala, dan mengolahnya lewat machine learning. Hasilnya? Tenaga medis bisa kebagian peringatan dini sebelum masalah kesehatan benar-benar meledak.
Para ahli menyebut pendekatan ini sebagai continuum of care alias kesinambungan perawatan. Dalam kerangka ini, AI berperan sebagai jembatan penghubung yang memastikan tak ada satupun celah informasi di setiap fase penanganan pasien.
Lalu, seperti apa sih kerennya peran AI di setiap tahap perawatan? Dan bagaimana teknologi ini secara perlahan mengubah cara dunia medis memperlakukan pasien? Yuk, kita bedah tuntas di sini!
Apa Itu Continuum of Care? Bukan Istilah Aneh, Kok!
Continuum of care atau kesinambungan perawatan sebenarnya adalah kerangka sederhana namun dahsyat. Ia menggambarkan seluruh rangkaian layanan kesehatan yang dibutuhkan seseorang sepanjang waktu, dimulai dari pemeriksaan pencegahan, pengobatan, rehabilitasi, sampai perawatan jangka panjang.
Poin utamanya, setiap tahapan harus saling terkait satu sama lain. Dengan begitu, pasien bisa merasakan penanganan yang konsisten, tanpa jeda. Jadi, nggak ada lagi cerita pasien bolak-balik rumah sakit hanya karena informasi medisnya terputus.
Tapi… Para Ahli Juga Nggak Bisa Tutup Mata Sama Kekhawatiran Ini
Saat acara Imagination in Action pada April 2026, banyak pakai berkumpul dan ngobrolin tantangan nyata pemakaian AI di dunia kesehatan. Hasil diskusinya? Nggak semuanya mulus-mulus aja.
Eric Rosenthal dari MGB NeuroAI Center blak-blakan. Menurutnya, banyak model AI yang saat ini dipakai di fasilitas kesehatan ternyata belum bekerja optimal. Padahal, sering banget klaim di publikasi ilmiah bilangnya sukses besar. “Kenyataan di lapangan bisa beda jauh,” tegasnya.
Sementara itu, Gokul Radhakrishnan dari Eli Lilly justru melihat sisi positif. Dia merasa lega karena FDA sekarang mendorong sistem AI yang transparan (glass box), bukan model black box yang misterius. Namun, dia juga ingetin satu risiko besar: data harus sampai ke dokter tepat waktu. Kalau telat, keputusan perawatan bisa kacau.
Lalu, Brad Reimer yang menjabat sebagai CIO Sanford Health, menyoroti dua momok besar: pertama, ancaman keamanan siber yang makin menggila. Kedua, ekosistem rekam medis elektronik yang—jujur saja—dua dekade nggak berubah secara mendasar. “Ini seperti mobil mewah dengan mesin jadul,” sindirnya.
Nggak ketinggalan, Sufian Chowdhury, CEO Kinetik, menambahkan peringatan serius. Menurutnya, AI yang bergantung pada data subjektif bisa menghasilkan output berbahaya. Contohnya, kalau pasien salah input gejala, ya selamat deh… outputnya bisa nyasar.
Hasilnya, semua panelis kompak: pemerintah sekarang belum punya kapasitas cukup buat mengimbangi laju perkembangan AI. Makanya, kemitraan publik-swasta jadi kebutuhan yang mendesak, bukan lagi pilihan. Namun, mereka juga mengingatkan regulasi nggak bisa dipaksakan pada teknologi yang belum sepenuhnya dipahami. Sebab, pada akhirnya, dokter tetap pemegang tanggung jawab penuh atas keselamatan pasien.
Tapi Tenang! Scribe AI Datang Jadi Penyelamat
Di sisi lain, ada kabar manis. Teknologi seperti Scribe AI sekarang memungkinkan dokter untuk nggak terus-terusan nempel di layar komputer saat konsultasi dengan pasien. Dulu? Doktor sibuk ngetik. Sekarang? Mereka bisa tatap mata pasien dengan lebih hangat.
Sebuah studi dari Deloitte membuktikan bahwa sistem ini mampu meningkatkan produktivitas hingga 15 persen per jam. Lebih gila lagi, Scribe AI bisa mengurangi beban dokumentasi dua sampai tiga jam per hari. Hasil akhirnya? Interaksi dokter-pasien jadi jauh lebih personal dan manusiawi. Bukannya malah dingin karena terhalang layar.
Masa Depan AI Medis: Akankah Kemampuan Dokter Menurun?
Nah, sekarang muncul pertanyaan besar. Apakah keahlian klinis dokter bakal tumpul seiring makin besarnya peran AI? Kekhawatiran ini wajar, sih. Soalnya, kalau terlalu bergantung pada mesin, kan bisa-bisa dokter jadi de-skilled.
Menanggapi ini, Rosenthal mengusulkan pendekatan sederhana: “trust but verify” atau percaya, tapi tetap verifikasi. Artinya, AI boleh diandalkan, tapi dokter harus tetap kritis dan melakukan pengecekan mandiri.
Sementara itu, Radhakrishnan malah optimistis tingkat dewa. Dia yakin bahwa kehadiran medical-grade AI hanyalah soal waktu. Menurutnya, memanfaatkan AI bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keniscayaan. “Suka atau tidak, ini bakal jadi standar baru,” tegasnya.
Para panelis pun akhirnya sepakat pada satu kesimpulan: tantangan terbesar bukan pada teknologinya, melainkan pada kepercayaan. Mereka mendorong pembentukan platform data bersama yang aman serta basis pengetahuan (knowledge base) yang terpercaya sebagai fondasi AI kesehatan. Tanpa fondasi itu, semua cuma omong kosong belaka.
Diskusi hangat ini menegaskan satu hal penting: AI tidak hadir untuk menggantikan dokter. Ia datang untuk menjadi mitra yang memperkuat setiap tahapan perawatan pasien secara lebih cerdas, efisien, dan—yang terpenting—manusiawi. Sebagaimana dirangkum dari Forbes dalam artikel berjudul “AI And The Continuum Of Care” tulisan John Werner, masa depan kesehatan adalah kolaborasi, bukan kompetisi.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










