Dentmas.id – Langkah spektakuler baru saja diambil oleh Pemerintah Kota Semarang demi melindungi wilayahnya dari ancaman bahaya banjir bandang yang selalu membayangi. Oleh karena itu, pemerintah setempat meluncurkan sebuah terobosan teknologi mutakhir berupa sistem peringatan dini berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan Internet of Things (IoT) yang mereka beri nama keren Flood-Eye. Selain itu, teknologi canggih ini hadir sebagai senjata utama kota dalam mendeteksi dan mengantisipasi datangnya bencana air bah sebelum terlambat. Bahkan, kehadiran sistem serba digital ini langsung menyita perhatian publik karena menawarkan pendekatan yang sangat modern dalam manajemen bencana perkotaan.
Menariknya, pengembangan inovasi hebat ini tidak lahir begitu saja tanpa fondasi akademis yang kuat. Lebih lanjut, proyek Flood-Eye ini terwujud berkat kolaborasi strategis tingkat internasional yang melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang bersama para peneliti andal dari University of Wollongong (UoW) Australia serta Telkom University (Tel-U) Indonesia. Tidak hanya itu, gabungan keahlian dari institusi lokal dan global ini berhasil menciptakan sebuah formulasi teknologi mitigasi bencana yang sangat teruji. Akibatnya, sinergi tiga lembaga terkemuka ini optimis mampu memberikan perlindungan ekstra yang jauh lebih solid bagi seluruh lapisan masyarakat Kota Semarang.
Rahasia Kecanggihan AI Flood-Eye: Mampu Deteksi Kilat Hitungan Menit!
Pada dasarnya, Flood-Eye memegang peranan krusial sebagai sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) generasi terbaru yang luar biasa presisi. Oleh sebab itu, para pengembang mengklaim bahwa teknologi canggih ini sanggup memprediksi potensi ancaman banjir bandang dengan tingkat kecepatan dan akurasi yang belum pernah ada sebelumnya. Selain itu, sistem ini mampu membaca tanda-tanda alam secara otomatis sehingga memberikan jeda waktu evakuasi yang sangat berharga bagi warga sekitar. Tentu saja, kemampuan prediksi kilat ini menjadi angin segar yang menghapus rasa cemas warga setiap kali awan hitam menyelimuti langit kota.
Guna menjalankan fungsinya secara maksimal, sistem canggih ini memadukan berbagai instrumen teknologi papan atas secara bersamaan. Di samping itu, Flood-Eye mengintegrasikan jaringan sensor fisik di sepanjang aliran sungai dengan algoritma AI cerdas, pemrosesan data satelit cuaca real-time, serta pemodelan banjir yang sangat mendalam. Selanjutnya, seluruh informasi penting tersebut langsung mengalir mulus ke dalam dashboard pemantauan interaktif yang dapat diakses dengan mudah hanya lewat perangkat smartphone milik petugas maupun warga. Hasilnya, siapapun kini bisa memantau pergerakan ancaman air bah secara langsung dari genggaman tangan kapan saja dan di mana saja.
Berbeda jauh dari sistem konvensional lama yang cuma mengandalkan kalkulasi rata-rata curah hujan harian, Flood-Eye menawarkan terobosan yang jauh lebih dinamis dan terperinci. Lebih dari itu, sistem cerdas berbasis AI ini sanggup mengukur dan menganalisis fluktuasi ketinggian air di sepanjang Sungai Pengkol beserta anak-anak sungainya dalam interval waktu yang sangat rapat, mulai dari hitungan jam hingga orde menit. Sebagaimana dikutip dari rilis resmi situs Telkom University, pendekatan data jam-demi-jam dan menit-demi-menit ini memungkinkan deteksi dini lonjakan air bandang sebelum meluap ke pemukiman. Oleh karena itu, akurasi data dalam hitungan detik ini membuat tindakan pencegahan bencana menjadi seribu kali lebih responsif.
Namun demikian, secanggih apa pun sebuah teknologi buatan manusia, para pengembang mengakui bahwa sistem ini masih menyimpan tantangan teknis tersendiri di lapangan. Maksudnya, operasional Flood-Eye saat ini masih terkendala oleh keterbatasan ketersediaan data curah hujan historis maupun riil dengan interval waktu pendek. Meskipun begitu, tim peneliti terus berupaya keras mengumpulkan serta menyempurnakan pasokan data mikro tersebut agar kinerja algoritma kecerdasan buatan tetap bekerja optimal tanpa celah. Maka dari itu, proses kalibrasi dan pengumpulan data skala mikro ini terus berlangsung guna menutupi celah kekurangan tersebut.
Dipasang di Enam Titik Rawan: Benteng Pertahanan Digital untuk 115 Ribu Warga
Mengenai tahap realisasi di lapangan, perangkat EWS Flood-Eye ini telah resmi terpasang secara intensif di bantaran anak sungai Kali Babon, kawasan Meteseh, Semarang, Jawa Tengah sejak Rabu (28/10/2026). Seperti yang diberitakan oleh Antara News, proses instalasi peralatan canggih ini berjalan lancar dengan keterlibatan langsung tim teknis dan jajaran petugas kebencanaan lokal. Selain itu, kawasan Meteseh sengaja dipilih sebagai titik krusial mengingat histori wilayah tersebut yang sering kali menjadi pusat lintasan arus banjir bandang yang meresahkan. Oleh sebab itu, pemasangan awal di lokasi ini menjadi langkah krusial dalam membangun benteng pertahanan digital perkotaan.
Tidak hanya berhenti di satu lokasi saja, cakupan pengawasan Flood-Eye ini juga langsung diperluas ke berbagai sudut titik rawan lainnya. Selanjutnya, tim teknis telah menyebar perangkat sensor mutakhir ini di enam titik pemantauan strategis yang tersebar rapat di wilayah Kecamatan Tembalang dan Kecamatan Pedurungan. Boleh dikatakan, pemetaan di dua kecamatan padat penduduk ini bertujuan untuk mengunci seluruh potensi luapan air dari hulu ke hilir secara komprehensif. Akibatnya, setiap pergerakan air yang berpotensi membahayakan warga di kedua area vital tersebut bakal langsung terpantau oleh radar AI tanpa ada yang terlewat.
Dengan sebaran sensor yang terukur tajam tersebut, para peneliti memproyeksikan bahwa pengoperasian Flood-Eye akan memberikan dampak perlindungan yang sangat luar biasa bagi masyarakat luas. Lebih tepatnya, sistem peringatan dini ini diperkirakan mampu menyelamatkan dan melindungi setidaknya 115.000 jiwa warga yang bermukim di zona merah rawan banjir Kota Semarang. Oleh karena itu, kehadiran inovasi ini benar-benar membawa secercah harapan baru yang nyata bagi keselamatan keluarga dan harta benda warga dari ancaman petaka banjir bandang. Bahkan, masyarakat kini bisa tidur lebih nyenyak saat hujan deras mengguyur wilayah mereka.
Rekam Jejak Sukses KONEKSI: Dari Inovasi Tide-Eye Hingga Flood-Eye
Usut punya usut, proyek pengembangan Flood-Eye ini ternyata merupakan bagian integral dari program Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia atau yang populer disebut KONEKSI. Di samping itu, inisiatif riset kolaboratif bernilai tinggi ini secara resmi telah mengepakkan sayapnya sejak bulan Juni 2025 lalu dan dijadwalkan bakal terus berjalan hingga Desember 2026 mendatang. Oleh sebab itu, komitmen jangka panjang antara Indonesia dan Australia ini membuktikan betapa seriusnya kedua negara dalam memanfaatkan riset ilmiah demi kesejahteraan dan keselamatan publik. Lebih dari itu, kolaborasi ini sekaligus mempererat hubungan diplomasi sains antar kedua negara tetangga.
Sebagai catatan penutup yang menarik, hibah riset bernilai strategis ini sejatinya merupakan langkah kelanjutan berkesinambungan dari proyek inovatif terdahulu yang bernama Tide-Eye. Sebelumnya, proyek Tide-Eye tersebut juga telah sukses meraih pendanaan dari program KONEKSI pada tahun 2023 untuk memantau ancaman banjir pasang surut air laut atau rob. Berdasarkan data terpercaya dari situs resmi KONEKSI, keberhasilan luar biasa dari Tide-Eye inilah yang akhirnya memicu pengembangan Flood-Eye untuk menaklukkan ancaman banjir bandang sungai. Maka dari itu, rekam jejak inovasi yang konsisten ini semakin mengukuhkan reputasi Semarang sebagai kota percontohan berteknologi tinggi dalam menghadapi tantangan bencana iklim masa kini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









