dentmas.id
Rabu, September 16, 2026
  • Login
  • Home
  • Tutorial
  • News
  • Aplikasi
  • Game
No Result
View All Result
  • Home
  • Tutorial
  • News
  • Aplikasi
  • Game
No Result
View All Result
dentmas.id
No Result
View All Result
Home Technologi

Tenggelamkan Server di Shanghai, China Resmi Operasikan Data Center Bawah Laut

felixhendy555@gmail.com by [email protected]
September 16, 2026
in Technologi
0
Tenggelamkan Server di Shanghai, China Resmi Operasikan Data Center Bawah Laut
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Dentmas.id – Langkah ekstrem mendadak mengguncang dunia teknologi ketika Pemerintah China resmi menenggelamkan fasilitas data center raksasa ke kedalaman samudera. Langkah nekat ini sengaja mengeksekusi ide gila yang sebelumnya sempat ditinggalkan oleh raksasa teknologi Microsoft. Fasilitas bawah laut tersebut secara mengejutkan memuat sekitar 2.000 unit server canggih, dan seluruh mesin super cepat ini sekarang telah beroperasi secara penuh di kawasan lepas pantai Shanghai.

Apabila kita menelusuri lokasinya, kompleks komputasi bawah air ini persis berada 35 meter di bawah permukaan samudera yang sunyi. Para insinyur menempatkan proyek raksasa tersebut di kawasan khusus Lingang, dengan jarak yang membentang sejauh 9,7 kilometer dari garis pantai utama.

RELATED POSTS

Table of Contents

Toggle
    • Studi Terbaru: Peneliti Gunakan Kecerdasan Buatan untuk Terjemahkan Suara Hewan
    • Claude for Financial Advisors Resmi Meluncur: Solusi Praktis Riset dan Analisis Keuangan
  • Microsoft Sempat Jadi Pelopor, Lantas Mengapa Malah Kabur dan Mundur?
  • Ancaman Bahaya dan Kerumitan Perawatan yang Bikin Geleng-Geleng Kepala
  • China Tak Peduli Risiko dan Malah Tancap Gas Habis-habisan!
  • Ancaman Bencana Ekologis Mengintai Ekosistem Samudera!

Studi Terbaru: Peneliti Gunakan Kecerdasan Buatan untuk Terjemahkan Suara Hewan

Claude for Financial Advisors Resmi Meluncur: Solusi Praktis Riset dan Analisis Keuangan

Pengembang merancang sistem canggih ini dengan menyerap daya listrik fantastis hingga 24 megawatt. Konsorsium raksasa telekomunikasi seperti China Telecom dan LinkWise lantas mengoperasikan secara langsung ribuan unit pengolah grafis (GPU) berkinerja tinggi di dalamnya. Sementara itu, kolaborasi strategis bersama HiCloud Technology—yang juga terkenal sebagai Hailanyun—sukses menyelesaikan seluruh struktur bangunan fisik kapsul tersebut.

Alasan utama di balik proyek spektakuler ini ternyata mengusung prinsip yang terbilang sangat sederhana namun cerdas. Pengelola sengaja memanfaatkan arus air laut yang super dingin untuk menyerap panas menyengat dari ribuan server. Alhasil, pengembang tidak lagi memerlukan mesin pendingin raksasa yang umumnya menguras energi di data center darat.

Efisiensi ekstrem tersebut lantas membuahkan hasil nyata pada nilai Power Usage Effectiveness (PUE), yakni parameter utama untuk mengukur tingkat pemborosan energi fasilitas data center. Pengelola mengeklaim bahwa angka efisiensi mereka sukses menembus di bawah 1,15, padahal rata-rata industri data center dunia saat ini masih tertahan di kisaran angka 1,5.

Tak kalah mengejutkan, pengembang rupanya tidak mengandalkan jaringan listrik konvensional untuk menghidupkan fasilitas ini. Ladang angin lepas pantai yang megah di area sekitar justru mampu memasok hingga 97 persen kebutuhan daya listrik secara berkelanjutan.

Oleh karena itu, Hailanyun yang berkolaborasi erat dengan China Academy of Information and Communications Technology (CAICT) berani mengeklaim bahwa fasilitas bawah laut ini sanggup menghemat konsumsi listrik minimal 30 persen lebih irit dibandingkan data center konvensional di daratan.

Penghematan besar ini menjadi sangat krusial mengingat sistem pendingin selalu menjadi beban finansial terberat. Pasalnya, fasilitas biasa umumnya menghabiskan sekitar 40 persen daya listrik hanya demi mendinginkan mesin-mesin yang panas, belum lagi memperhitungkan konsumsi air bersih yang bisa menyedot ratusan ribu galon setiap harinya.

Microsoft Sempat Jadi Pelopor, Lantas Mengapa Malah Kabur dan Mundur?

Kendati terkesan futuristik, ide menenggelamkan komputer raksasa ini sebenarnya bukan barang baru di industri komputasi. Raksasa teknologi Microsoft bahkan telah memelopori eksperimen serupa lewat proyek ambisius bernama Project Natick, dengan cara menenggelamkan kapsul baja berisi server di lepas pantai Skotlandia sejak 2018.

Dalam uji coba tersebut, kapsul khusus raksasa mengangkut sebanyak 855 unit server ke kedalaman laut sekitar 36 meter. Hebatnya lagi, para teknisi membiarkan fasilitas bawah air itu bekerja tanpa perawatan langsung sedikit pun selama 25 bulan delapan hari.

Setelah masa uji coba berakhir, hasil pengujian justru mengejutkan para ilmuwan karena performanya jauh melampaui ekspektasi. Tercatat hanya enam dari total 855 server bawah laut yang mengalami kerusakan, sedangkan server kontrol di darat justru mencatat delapan kerusakan dari hanya 135 unit.

Para ahli menyimpulkan bahwa server bawah laut terbukti jauh lebih awet akibat kestabilan suhu air laut di sekelilingnya. Selain itu, teknisi sengaja mengisi bagian dalam kapsul dengan gas nitrogen kering guna mencegah munculnya oksigen yang kerap memicu karat.

Namun, publik mendadak dibuat terperanjat saat Microsoft tiba-tiba memilih mematikan total proyek menjanjikan ini pada Juni 2024.

“Saya tegas menyatakan bahwa kami tidak sedang membangun data center bawah laut di lokasi mana pun di planet ini,” ungkap Kepala Operasi Awan dan Inovasi Microsoft, Noelle Walsh, dalam sebuah wawancara.

Manajemen Microsoft sampai sekarang memang tidak pernah membeberkan alasan mendasar di balik pembatalan proyek tersebut. Kendati demikian, Walsh tetap menegaskan bahwa eksperimen unik itu pada dasarnya telah meraih keberhasilan besar.

“Tim hebat saya telah menuntaskannya dan eksperimen itu sukses membuktikan teorinya, sehingga kami berhasil memetik banyak pelajaran berharga mengenai dinamika pengoperasian di bawah air serta dampak getaran terhadap keandalan server,” tambah Walsh menjelaskan.

Di samping itu, pihak perusahaan mengonfirmasi bahwa seluruh data berharga hasil riset Project Natick tidak akan terbuang sia-sia begitu saja.

“Meskipun saat ini kami tidak lagi mengoperasikan data center di dalam air, kami terus memanfaatkan fondasi Project Natick sebagai platform riset utama untuk menguji berbagai konsep keberlanjutan baru, seperti metode pendinginan berbasis perendaman cairan,” terang Microsoft melalui penyataan resminya.

Ancaman Bahaya dan Kerumitan Perawatan yang Bikin Geleng-Geleng Kepala

Seorang insinyur senior dari Cadence Design Systems, Mark Seymour, secara kritis lantas menyoroti aspek pemeliharaan teknis sebagai kendala paling krusial. Pasalnya, perangkat komputer yang sudah terkunci rapat di dasar samudera akan sangat sulit untuk diperbaiki maupun ditingkatkan spesifikasi komputasinya.

Selain itu, proses pergantian komponen keras yang rusak menuntut akses penyelaman khusus yang sangat rumit dan mahal. Seymour bahkan membandingkan kerumitan ini dengan server berbasis tangki pendingin cairan di darat yang hingga kini masih sering memicu keluhan para teknisi.

“Inovasi ini memang terlihat sangat memikat dari sudut pandang efisiensi pendinginan, tetapi justru menjadi mimpi buruk dari kacamata operasional harian,” ujar Seymour memberikan penilaian.

“Oleh sebab itu, metode ekstrem ini rasanya bukanlah pilihan paling praktis apabila sebuah perusahaan ingin tetap bergerak lincah di tengah dinamika teknologi yang berkembang pesat,” tuturnya menambahi.

China Tak Peduli Risiko dan Malah Tancap Gas Habis-habisan!

Berbeda 180 derajat dari langkah mundur Microsoft, Pemerintah China justru tancap gas mengeksekusi ambisi besar ini secara agresif. Mereka telah mengawali uji coba perdana di wilayah Sungai Mutiara pada 2020, sebelum akhirnya meluncurkan proyek rintisan berskala lebih besar di lepas pantai Hainan pada Desember 2022.

Pemerintah setempat kemudian memulai konstruksi fasilitas data center Shanghai pada Juni 2025 dengan mengucurkan dana fantastis melebihi 220 juta dolar AS—atau setara Rp 3,96 triliun.

Pada pembangunan fase pertama ini, pengembang telah memasang sebanyak 198 rak server khusus. Peneliti memperkirakan rak-rak tersebut menampung 396 hingga 792 unit komputer bertenaga monster yang siap memproses beban kerja kecerdasan buatan (AI).

Walaupun demikian, skala fasilitas bawah air ini sebenarnya masih terbilang kecil jika dibandingkan dengan data center darat, di mana fasilitas skala menengah biasanya memuat 3.000 rak dan skala raksasa sanggup menampung lebih dari 10.000 rak.

Kendati demikian, aspek paling mencengangkan terletak pada kecepatan eksekusi pembangunannya. Seorang peneliti senior dari University of California, Davis, Zhang Ning, mencatat bahwa Hailanyun hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 bulan untuk melompat dari tahap uji coba menuju operasional komersial secara penuh.

Menurut Zhang, percepatan dramatis menuju tahap komersialisasi ini merupakan sebuah pencapaian yang tidak pernah sanggup ditempuh oleh Microsoft melalui Project Natick.

Saat ini, fasilitas komputasi bawah laut Shanghai sukses menangani pengolahan model AI rumit, jaringan 5G, hingga pelabelan data raksasa. Bahkan, kemampuan komputasinya diklaim sanggup melatih model AI sekelas GPT-3.5 hanya dalam durasi satu hari saja.

Ancaman Bencana Ekologis Mengintai Ekosistem Samudera!

Di balik kecanggihan teknologi ini, para ilmuwan lingkungan mulai melontarkan kekhawatiran serius terkait ancaman terhadap ekosistem laut. Sebuah studi ilmiah pada 2022 memperingatkan bahwa air buangan data center dapat memicu kenaikan suhu lokal serta menurunkan kadar oksigen, terutama saat gelombang panas laut melanda.

Fenomena perubahan suhu ini tentu sangat berisiko merusak habitat dan mengganggu kehidupan biota laut di wilayah sekitarnya. Bahkan tim peneliti Microsoft dahulu sempat merekam adanya kenaikan suhu air di area terbatas, meskipun mereka berdalih efeknya masih relatif kecil.

Pihak Hailanyun langsung membantah keras tuduhan mengenai ancaman kerusakan lingkungan tersebut. Juru bicara perusahaan, Li Langping, menegaskan bahwa pelepasan energi panas dari mesin-mesin dasar laut terbukti sangat minim.

“Disipasi panas yang dibuang oleh fasilitas ini hanya memicu kenaikan suhu kurang dari satu derajat Celsius pada perairan sekitar,” jelas Li memberikan klarifikasi.

Selain ancaman lingkungan, aspek keamanan siber fisik juga menjadi sorotan tajam setelah riset terbaru pada 2024 membuktikan bahwa data center bawah air sangat rentan diserang menggunakan gelombang suara berdaya tinggi dari pengeras suara akustik bawah air.

Terlepas dari berbagai kontroversi yang mengemuka, negara-negara tetangga di kawasan Asia seperti Korea Selatan, Jepang, dan Singapura dikabarkan mulai kepikat dan ikut menjajaki potensi penerapan teknologi komputasi bawah laut ini.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tags: Teknologi
ShareTweetPin
felixhendy555@gmail.com

[email protected]

Related Posts

Studi Terbaru: Peneliti Gunakan Kecerdasan Buatan untuk Terjemahkan Suara Hewan

Studi Terbaru: Peneliti Gunakan Kecerdasan Buatan untuk Terjemahkan Suara Hewan

by [email protected]
September 16, 2026
0

Dentmas.id — Selama bertahun-tahun, manusia cuma bisa menebak-nebak pesan rahasia di balik suara hewan di sekitar kita. Kita memang sering...

Claude for Financial Advisors Resmi Meluncur: Solusi Praktis Riset dan Analisis Keuangan

Claude for Financial Advisors Resmi Meluncur: Solusi Praktis Riset dan Analisis Keuangan

by [email protected]
September 16, 2026
0

Dentmas.id - Perusahaan kecerdasan buatan Anthropic resmi meluncurkan amunisi digital terbarunya yang siap mengguncang lanskap perencanaan keuangan global pada Senin...

Efek Booming AI: Micron Guyur Karyawan di Taiwan Bonus hingga 68 Bulan Gaji

Lenovo Tambah Portofolio Yoga di IFA 2026, Hadirkan Laptop RTX Spark dan Tablet Baru

by [email protected]
September 15, 2026
0

Dentmas.id - Ajang Lenovo Innovation World di IFA 2026 mendadak gempar setelah Lenovo secara meyakinkan meluncurkan lini portofolio Yoga terbaru...

Efek Booming AI: Micron Guyur Karyawan di Taiwan Bonus hingga 68 Bulan Gaji

Detail Steam Frame Bocor ke Publik: Ungkap Aksesori Ergonomis US$60 dan Konsep Controller Baru

by [email protected]
September 15, 2026
0

Dentmas.id - Industri gaming global mendadak heboh besar karena raksasa teknologi Valve kembali memicu perbincangan luar biasa hangat di kalangan...

Apple Pastikan macOS 27 Golden Gate Rilis 14 September 2026, Ini Mac yang Bisa Upgrade

OpenAI Luncurkan ChatGPT Khusus Layanan Keuangan, Ditenagai GPT-6 Astra

by [email protected]
September 12, 2026
0

Dentmas.id – Dunia keuangan akhirnya kedatangan asisten super cerdas! Perusahaan kecerdasan buatan raksasa, OpenAI, resmi meluncurkan "ChatGPT for Financial Service", sebuah...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RECOMMENDED

Tenggelamkan Server di Shanghai, China Resmi Operasikan Data Center Bawah Laut

Tenggelamkan Server di Shanghai, China Resmi Operasikan Data Center Bawah Laut

September 16, 2026
Antisipasi Risiko AI Lepas Kendali, Microsoft Siapkan Konstitusi ‘Humanist AI’

Antisipasi Risiko AI Lepas Kendali, Microsoft Siapkan Konstitusi ‘Humanist AI’

September 16, 2026
  • 611 Followers
  • 24k Followers

MOST VIEWED

  • Ini Cara akses mikrotik routerOS (selain winbox)

    Ini Cara akses mikrotik routerOS (selain winbox)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Snapshot Data: Solusi Keren untuk Jaga Data Kamu!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Simbol 5G, LTE, 4G, H+, 3G, G di Sinyal HP, Ini Maknanya untuk Pengalaman Internet Anda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Strategi Kemkomdigi 2026: Fokus pada Tiga Pilar Digital untuk Wujudkan Kedaulatan Digital Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tutorial reset mikrotik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
dentmas

Dentmas.id adalah portal informasi digital yang menyajikan berbagai konten edukatif, informatif, dan menghibur. Kami hadir untuk memenuhi kebutuhan pembaca akan berita terkini, panduan praktis, serta ulasan teknologi dan hiburan yang relevan dengan perkembangan zaman.

slot gacor interents-expents Wild West Gold Dalam Genre Adventure Arcade Sweet Bonanza Sebagai Game Match Berbasis Simbol Gates of Olympus Membawa Konsep Game Arcade Starlight Princess Menggabungkan Nuansa Fantasi dan Mekanisme Mahjong Wins 3 Menjadi Game Puzzle Populer Lucky Neko Menghadirkan Game Arcade Bertema Kucing Wild Bounty Showdown Mengusung Game Adventure Bertema Sugar Rush 1000 Menawarkan Game Match Bertema Sweet Bonanza x1000 Menjadi Perbincangan di Kalangan Analisis Mahjong Ways Mengungkap Cara Game Puzzle Perkembangan PG Soft Mendorong Evolusi Game Arcade Pragmatic Play Memperluas Pilihan Game Online Dengan Baccarat Online Sebagai Game Kartu Digital Memperlihatkan RTP Live Menjadi Referensi Data pada Mahjong Ways dan Mahjong Wins 3 Dibandingkan Dinamika Sweet Bonanza dan Starlight Princess Menunjukkan Wild West Gold dan Wild Bounty Showdown Menghadirkan Teknologi Machine Learning Mulai Membentuk Analisis Game Perubahan Tren Game Online 2026 Terlihat dari Slot PGSoft Tidak Pernah Gacor Ini Alasan Ilmiah di Balik RNG RTP 97 Bukan Berarti Untung 97 Miskonsepsi Umum Pemain Slot PGSoft Pola Spin Jam Hoki dan Ritual Sebelum Main Mengapa Semuanya Tidak Mengubah Peluang House Edge Tidak Pernah Tidur Kenapa Kasino Tetap Unggul dalam Jangka Panjang Volatilitas Tinggi vs Rendah Memilih Slot PGSoft Sesuai Risiko Bukan Harapan Buy Feature Autoplay dan Turbo Spin Fitur Praktis atau Jebakan Kehilangan Kendali Efek Hampir Menang Bagaimana Otak Dibuat Merasa Sedikit Lagi Jackpot Chase Loss Semakin Dikejar Semakin Dalam Lubang Keuangannya Paytable Adalah Peta Risiko Bukan Ramalan Kemenangan Kapan Harus Stop Tanda Judi Slot Sudah Tidak Lagi Sehat RTP LIVE RTP LIVE RTP LIVE RTP LIVE RTP LIVE RTP LIVE RTP LIVE RTP LIVE RTP LIVE RTP LIVE Mahjong Ways Sebagai Game Puzzle Online Wild West Gold Game Bertema Petualangan Gates Of Olympus Dalam Genre Game Sweet Bonanza Game Puzzle Berbasis Starlight Princess Sebagai Game Arcade Mahjong Wins 3 Game Puzzle Lucky Neko Game Petualangan Bertema Baccarat Online Game Kartu Digital Wild Bounty Showdown Game Bertema Sugar Rush 1000 Game Puzzle Mahjong Ways 2 Game Puzzle Sweet Bonanza X1000 Game Arcade PG Soft Game Digital Berbasis Mahjong Ways Dalam Kategori Game Gates Of Olympus Game Arcade] Lucky Neko Game Bertema Petualangan Wild West Gold Game Petualangan Mahjong Wins 3 Game Puzzle Interaktif Starlight Princess Game Arcade Online Sweet Bonanza Game Puzzle Digital

CATEGORY

  • ai
  • Aplikasi
  • Esports
  • Game
  • News
  • rekomendasi
  • Review
  • Technologi
  • Tutorial
  • Uncategorized

SITE LINKS

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

Partner Kita

aatoto
Mposakti
MOTOSLOT
  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Terms Of Service

© 2025 Dentmas.id

No Result
View All Result
  • Homepages
  • Tutorial
  • News
  • Aplikasi
  • Game

© 2025 Dentmas.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In