Dentmas.id – Siapa sangka, di tengah gempuran ekonomi global yang masih pas-pasan, Amazon justru mencetak sejarah baru! Raksasa teknologi asal Amerika Serikat ini berhasil membukukan pendapatan kuartalan tertinggi sepanjang masa perusahaan pada kuartal II 2026. Bayangkan, pendapatan mereka melonjak hingga 200,6 miliar dolar AS! Jika kita konversikan dengan kurs hari ini yang berada di angka Rp 18.060 per dolar AS, jumlah fantastis itu setara dengan Rp 3.622 triliun. Wow, angka yang sulit dibayangkan oleh kebanyakan dari kita!
Yang lebih mencengangkan lagi, ini bukan sekadar rekor biasa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah operasionalnya, Amazon berhasil menembus pendapatan di atas 200 miliar dolar AS hanya dalam waktu tiga bulan! Sebuah pencapaian yang benar-benar luar biasa dan patut diapresiasi.
Jika kita bandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, pertumbuhannya sungguh mengesankan. Pendapatan Amazon sepanjang April-Juni 2026 mencerminkan kenaikan signifikan sebesar 20 persen dibandingkan kuartal II 2025 yang “hanya” mencapai 167,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp 3.028 triliun. Pertumbuhan sebesar ini tentu tidak terjadi begitu saja, melainkan didorong oleh mesin uang utama perusahaan.
Nah, pertanyaan besarnya, apa sebenarnya yang menjadi tulang punggung lonjakan pendapatan ini? Jawabannya jelas tertuju pada bisnis komputasi awan andalan mereka, Amazon Web Services atau yang lebih akrab disapa AWS. Divisi inilah yang ternyata menjadi pahlawan di balik kesuksesan kuartal ini!
AWS makin moncer, pertumbuhan tercepat dalam 4,5 tahun
Mari kita bedah lebih dalam kinerja AWS pada kuartal II 2026. Pendapatan divisi cloud computing ini mencapai angka spektakuler 42,2 miliar dolar AS, yang jika dirupiahkan sekitar Rp 762 triliun. Angka ini bukan main-main karena melonjak 37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya!
Yang membuat para analis geleng-geleng kepala, pertumbuhan ini ternyata menjadi yang tercepat dalam 18 kuartal terakhir, atau setara dengan 4,5 tahun! Bayangkan, di tengah persaingan ketat dengan Google Cloud dan Microsoft Azure, Amazon justru menunjukkan performa yang melampaui ekspektasi. Sebelumnya, para analis hanya memperkirakan kenaikan sekitar 31 persen, tapi Amazon membuktikan bahwa mereka mampu melampaui prediksi tersebut dengan selisih yang cukup jauh.
Secara tahunan atau yang biasa disebut annualized run rate, bisnis AWS kini menghasilkan pendapatan sekitar 169 miliar dolar AS atau setara Rp 3.052 triliun. Jumlah ini saja sudah lebih besar dari total pendapatan banyak perusahaan multinasional lainnya!
Tak hanya pendapatan yang menggembirakan, laba operasional AWS juga menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Pada kuartal II 2026, laba operasional AWS melesat menjadi 16,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 300 triliun. Bandingkan dengan kuartal II 2025 yang masih berada di angka 10,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 184 triliun. Pertumbuhan laba ini menunjukkan bahwa efisiensi dan skalabilitas bisnis cloud Amazon semakin matang.
President and CEO Amazon, Andy Jassy, dengan percaya diri mengungkapkan kebanggaannya. Menurutnya, AWS sedang berkembang dengan sangat pesat, dan yang lebih menarik lagi, bisnis AI serta chip mereka masing-masing telah melampaui tingkat pendapatan tahunan lebih dari 25 miliar dolar AS. Ini menunjukkan bahwa investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan mulai menunjukkan hasil yang nyata!
Saham Amazon melonjak, investor tepuk tangan sambut kinerja gemilang
Kinerja cemerlang yang melampaui ekspektasi analis ini tentu saja disambut positif oleh para investor di Wall Street. Begitu laporan keuangan dirilis pada Kamis (30/7/2026), harga saham Amazon langsung terbang lebih dari 9 persen dalam perdagangan setelah bursa tutup atau after-hours trading!
Para investor rupanya mendapat sentimen positif bahwa Amazon berhasil menunjukkan lonjakan belanja AI yang selama ini mereka lakukan mulai diimbangi dengan pertumbuhan bisnis cloud yang semakin cepat. Artinya, strategi jangka panjang Amazon untuk menguasai pasar AI generatif mulai terlihat buah manisnya.
Yang menarik, antusiasme investor ini juga mencerminkan kepercayaan bahwa Amazon tidak hanya berhenti di sini. Perusahaan justru semakin nekad mengguyurkan dana segar untuk ekspansi infrastruktur AI mereka. Sebuah langkah agresif yang menunjukkan bahwa Amazon serius ingin menjadi pemimpin dalam revolusi kecerdasan buatan global!
Belanja modal menggelembak, Amazon gelontorkan Rp 3.973 triliun untuk AI
Seiring dengan meledaknya permintaan layanan AI di seluruh dunia, Amazon tidak tinggal diam. Perusahaan justru mengambil langkah berani dengan kembali menaikkan anggaran belanja modal sepanjang 2026. Kini, total belanja modal diperkirakan mencapai sekitar 220 miliar dolar AS, atau jika dirupiahkan setara dengan Rp 3.973 triliun!
Jumlah ini naik 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp 361 triliun dibandingkan proyeksi sebelumnya. Sungguh angka yang mencengangkan, bukan?
Lantas, ke mana saja dana sebesar itu akan dialokasikan? Sebagian besar anggaran raksasa ini akan digunakan untuk membangun pusat data atau data center canggih, mengembangkan chip AI buatan sendiri, serta memperluas infrastruktur komputasi super yang dibutuhkan untuk menjalankan berbagai layanan AI generatif. Amazon jelas tidak main-main dalam persaingan AI ini!
Pada kuartal II saja, Amazon sudah menggelontorkan sekitar 54,2 miliar dolar AS atau hampir Rp 979 triliun untuk pembelian properti dan peralatan. Investasi besar-besaran ini memang membuat arus kas bebas atau free cash flow Amazon berubah menjadi negatif sebesar 7,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 137 triliun dalam periode 12 bulan terakhir.
Situasi ini sangat kontras dengan tahun sebelumnya, di mana perusahaan masih membukukan arus kas bebas positif sebesar 18,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 329 triliun. Namun, para analis melihat hal ini sebagai strategi jangka panjang yang justru akan mendatangkan keuntungan berlipat ganda di masa depan.
Keyakinan Andy Jassy, AI baru permulaan dan masa depan cerah menanti
Meskipun investasi AI terus membengkak dan berdampak pada arus kas, Andy Jassy tetap optimis. Menurutnya, adopsi AI oleh perusahaan-perusahaan di seluruh dunia saat ini masih berada pada tahap yang sangat awal. Ini berarti potensi pertumbuhan ke depan masih sangat besar dan belum sepenuhnya tergali!
Bos Amazon sejak Juli 2021 ini menjelaskan bahwa saat ini permintaan AI didominasi oleh dua kelompok utama. Kelompok pertama adalah perusahaan pengembang model AI besar seperti Anthropic dan layanan AI generatif lainnya yang membutuhkan kapasitas komputasi sangat besar. Sementara kelompok kedua adalah perusahaan-perusahaan yang mulai memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas dan menekan biaya operasional mereka.
Yang menarik, di antara dua kelompok besar tersebut, masih ada jutaan beban kerja atau workload perusahaan yang belum beralih ke AI. Ini menunjukkan bahwa pasar masih sangat luas dan Amazon memiliki posisi yang kuat untuk menjadi penyedia infrastruktur utama.
“Saya pikir kita masih berada pada tahap yang relatif awal dalam melihat seberapa besar permintaan terhadap AI nantinya,” ujar Jassy dengan penuh keyakinan. “Saya yakin AI akan mengubah hampir setiap pengalaman pelanggan yang kita kenal saat ini,” tambahnya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Amazon tidak hanya fokus pada keuntungan jangka pendek, melainkan membangun fondasi kuat untuk masa depan di mana AI akan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari dan operasional bisnis.
Investasi Anthropic ikut dongkrak laba, keuntungan melonjak drastis
Selain pendapatan yang tumbuh tinggi, Amazon juga membukukan laba bersih yang mencengangkan sebesar 62,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.131 triliun pada kuartal II 2026. Namun, perlu dicatat bahwa sebagian besar laba tersebut berasal dari keuntungan non-operasional sebesar 53,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 964 triliun.
Keuntungan besar ini terutama berasal dari investasi Amazon di perusahaan AI bernama Anthropic. Kerja sama strategis ini ternyata memberikan dampak ganda bagi Amazon. Di satu sisi, mereka mendapatkan keuntungan finansial dari apresiasi nilai investasi, dan di sisi lain, Anthropic telah berkomitmen untuk menggunakan layanan cloud AWS senilai lebih dari 100 miliar dolar AS dalam beberapa tahun ke depan.
Dengan kata lain, Amazon tidak hanya berperan sebagai investor, tetapi juga menjadi penyedia infrastruktur utama bagi pengembangan model AI Anthropic. Sebuah sinergi yang saling menguntungkan dan memperkuat posisi Amazon di ekosistem AI global, sebagaimana dihimpun dari berbagai sumber terpercaya seperti YNet Global dan Business Wire. Strategi cerdas ini menunjukkan bahwa Amazon benar-benar serius membangun kerajaan AI yang tak tertandingi!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










