Dentmas.id — Sektor perbankan dan lembaga keuangan di kawasan Asia Pasifik (APAC) kini menghadapi ancaman siber yang kian mengkhawatirkan. Para hacker terus membidik industri ini, seiring dengan pesatnya pertumbuhan layanan digital dan meluasnya penggunaan API di seluruh ekosistem finansial.
Laporan terbaru dari raksasa keamanan siber Akamai mengungkap fakta mengejutkan. Sekitar 52 persen dari total serangan siber dalam bentuk distributed denial-of-service (DDoS) ternyata menyasar sektor jasa keuangan. Yang lebih mencengangkan, APAC telah menjadi wilayah paling sering diserang selama empat tahun berturut-turut. Bayangkan, selama hampir setengah dekade, kawasan ini selalu berada di garis depan pertempuran digital melawan para peretas.
Lantas, bagaimana modus operandi para pelaku kejahatan siber ini? Serangan DDoS dilakukan dengan cara membombardir layanan digital menggunakan trafik dalam jumlah yang luar biasa besar. Para peretas dengan sengaja membanjiri mobile banking, portal perbankan online, hingga sistem pembayaran dengan data yang tak terhitung jumlahnya. Tujuannya jelas, membuat layanan tersebut lumpuh dan tidak dapat diakses oleh nasabah yang sah.
Yang membuat situasi semakin rumit, para peretas kini semakin cerdik dalam menjalankan aksinya. Mereka mampu menyamarkan serangan dengan lalu-lintas data yang tampak normal di mata sistem keamanan konvensional. Akibatnya, serangan menjadi lebih sulit terdeteksi dan diblokir oleh pertahanan tradisional. Ini seperti musuh yang menyusup di tengah kerumunan tanpa bisa dibedakan mana yang kawan dan mana yang lawan.
Kompleksitas Sistem Perbankan Digital Jadi Celah Keamanan
Selain tingginya volume serangan, Akamai juga menyoroti masalah fundamental lainnya. Kompleksitas sistem digital perbankan yang terus meningkat ternyata menjadi faktor yang memperparah situasi. Saat ini, banyak bank mengoperasikan berbagai layanan berbasis aplikasi, ekosistem fintech, dan API yang saling terhubung satu sama lain. Ironisnya, konektivitas yang seharusnya memberikan kemudahan ini justru menciptakan lebih banyak celah bagi para peretas untuk masuk.
Data dari laporan Akamai menunjukkan bahwa di wilayah APAC, sektor perbankan dan fintech menjadi yang paling terdampak oleh serangan siber. Kedua sektor ini masing-masing menyumbang 44 persen dan 38 persen dari total serangan DDoS Layer 7. Bahkan, sektor perbankan saja mencakup 92 persen serangan jaringan tingkat rendah di kawasan ini. Angka-angka ini menggambarkan betapa besar tekanan yang harus dihadapi oleh industri keuangan di Asia Pasifik.
Lonjakan Aktivitas Bot Cerdas Mengancam Keamanan
Salah satu temuan paling mengkhawatirkan dari laporan Akamai adalah lonjakan aktivitas bot canggih hingga mencapai 147 persen pada akhir tahun 2025. Fenomena ini menunjukkan bahwa para penjahat siber terus mengembangkan kemampuan mereka dengan memanfaatkan teknologi terkini.
Yang lebih meresahkan, botnet berbasis kecerdasan buatan (AI) kini semakin mahir meniru perilaku pengguna manusia. Mereka bergerak, mengklik, dan berinteraksi dengan sistem layaknya manusia sungguhan. Hal ini membuat mereka sangat sulit dideteksi oleh sistem keamanan tradisional yang biasanya mengandalkan pola-pola tertentu dalam mengidentifikasi ancaman. Bayangkan, ribuan bot yang berperilaku persis seperti nasabah asli masuk ke dalam sistem secara bersamaan. Sistem keamanan mana yang mampu membedakannya?
Di sisi lain, banyak organisasi keuangan ternyata masih belum memiliki visibilitas penuh terhadap API yang mereka gunakan. Kondisi ini menciptakan “blind spot” atau titik buta keamanan yang dengan mudah dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber. Ini seperti memiliki rumah besar dengan banyak pintu, namun Anda tidak tahu berapa jumlah pintu yang sebenarnya ada dan mana yang tidak terkunci.
Reuben Koh, Director of Security Technology and Strategy APJ di Akamai, menegaskan bahwa ketidaktahuan ini menjadi masalah serius. “Jika sebuah institusi tidak mengetahui API mana yang ada, mana yang mengekspos data sensitif, atau bagaimana perilaku normalnya, maka institusi tersebut sudah beroperasi dengan tingkat risiko yang lebih tinggi,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima pada Kamis (18/6/2026).
Ia menambahkan bahwa tanpa pemahaman yang jelas terhadap sistem digital yang digunakan, risiko keamanan akan terus meningkat seiring pertumbuhan layanan digital perbankan. Ini menjadi peringatan keras bagi seluruh pelaku industri finansial untuk segera bertindak.
Akamai Perkuat Strategi dengan AI dan Edge Computing
Menghadapi ancaman yang terus berkembang, Akamai tidak tinggal diam. Perusahaan keamanan dan cloud ini justru memperkuat strategi bisnisnya di kawasan Asia Pasifik dengan fokus pada teknologi kecerdasan buatan (AI) dan komputasi edge. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tantangan keamanan yang semakin kompleks.
Pendekatan yang diusung Akamai cukup unik. Mereka mendorong penggunaan AI yang lebih dekat dengan pengguna melalui inferensi di edge. Apa maksudnya? Ini adalah pemrosesan data yang dilakukan lebih dekat ke sumber data untuk mengurangi latensi dan meningkatkan kecepatan respons. Dengan kata lain, AI tidak lagi diproses di pusat data yang jauh, melainkan di titik-titik yang dekat dengan pengguna.
Sean Li, Senior Vice President of Sales sekaligus Managing Director APAC Akamai, menjelaskan bahwa tantangan nyata saat ini adalah memastikan AI dapat berfungsi dengan baik di lingkungan nyata. “Di mana latensi, skalabilitas, dan keandalan secara langsung memengaruhi pendapatan dan pengalaman pelanggan,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa dengan membawa proses AI lebih dekat ke pengguna, perusahaan dapat meningkatkan performa layanan seperti sistem rekomendasi, analisis video langsung, hingga layanan digital berbasis AI lainnya. Ini menjadi terobosan penting di tengah tuntutan kecepatan dan keakuratan yang semakin tinggi.
Namun, ada tantangan besar yang harus dihadapi. Arsitektur cloud tradisional ternyata tidak dirancang untuk pemrosesan AI real-time dalam skala besar. Keterbatasan inilah yang membuat pendekatan edge computing menjadi solusi yang lebih efektif. Akamai pun mengandalkan jaringan cloud terdistribusi dan infrastruktur edge globalnya untuk mendukung pemrosesan AI sekaligus meningkatkan keamanan.
Perusahaan ini juga menegaskan bahwa strategi mereka mencakup penguatan keamanan pada beban kerja AI. Dengan demikian, performa dan perlindungan dapat berjalan bersamaan tanpa saling mengorbankan.
“Saat AI mentransformasi cara bisnis beroperasi, Akamai merancang infrastruktur cerdas yang dibutuhkan untuk web agentik,” jelas Li. “Kami membantu perusahaan membangun sistem yang tidak hanya berjalan secara teori, tetapi juga mampu bekerja dalam kondisi dunia nyata.”
Dengan pencapaian pendapatan tahunan lebih dari 1 miliar dolar AS di APAC pada 2025, Akamai menunjukkan bahwa strategi mereka berhasil. Angka ini menjadi titik penting dalam ekspansi perusahaan di kawasan tersebut, sekaligus bukti bahwa investasi dalam keamanan berbasis AI dan edge computing adalah langkah yang tepat di tengah meningkatnya ancaman siber global.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










