Dentmas.id – Apple mengambil langkah darurat dengan menutup sementara seluruh gerai Apple Store di Uni Emirat Arab (UEA). Bukan cuma toko ritel, kantor korporat mereka di sana juga ikut ditutup. Keputusan mengejutkan ini muncul di tengah memanasnya situasi Timur Tengah pasca serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Pengumuman Mendadak di Tengah Malam
Lima gerai Apple yang tersebar di UEA harus merollup palang pintunya. Tiga di antaranya berada di Abu Dhabi, sementara dua lainnya menjadi primadona di Dubai. Kalau kamu cek situs resmi Apple, mereka sudah mengubah total jadwal operasional untuk pekan ini. Periode 1 sampai 7 Maret 2026 bakal berbeda dari biasanya.
Yang lebih mencengangkan, kelima toko ini benar-benar akan tutup total setidaknya selama tiga hari. Hitung mundur dimulai dari tanggal 1 hingga 3 Maret. Setelah itu, pintu akan kembali terbuka pada 4 Maret mulai jam 12 siang sampai tengah malam waktu setempat. Salah satu lokasi yang paling menyita perhatian tentu saja Apple Store di The Dubai Mall. Bayangkan, tempat ini persis berada di bayang-bayang gedung pencakar langit ikonik Burj Khalifa yang setiap hari dibanjiri turis dunia.
Pengumuman penutupan tertempel jelas di pintu kaca toko. Tulisannya cukup bikin kita bergidik: “tutup sementara sampai pemberitahuan lebih lanjut.” Sementara itu, empat saudaranya yang lain juga bernasib sama. Mereka berada di Mall of the Emirates Dubai, Yas Mall, Al Jimi Mall, dan Al Maryah di Abu Dhabi.
Imbauan Darurat dari Pemerintah UEA
Ternyata langkah Apple ini bukan sekadar inisiatif internal. Mereka bergerak mengikuti rekomendasi resmi dari pemerintah UEA. Kementerian Sumber Daya Manusia dan Emiratisasi secara khusus mengeluarkan imbauan yang cukup tegas. Pemerintah meminta seluruh perusahaan swasta untuk segera mengambil tindakan pencegahan. Karyawan harus dihindarkan dari area-area terbuka yang berisiko.
Dalam cuitan resmi di akun X mereka pada Minggu (1/4/2026) waktu setempat, pemerintah menuliskan imbauan penting. Mereka meminta lembaga swasta melakukan langkah-langkah yang diperlukan terkait kehadiran karyawan di ruang terbuka. Pengecualian hanya diberikan untuk peran-peran vital yang memang membutuhkan kehadiran fisik. Selain itu, mereka juga mendorong penerapan kerja jarak jauh semaksimal mungkin.
Kementerian juga menekankan pentingnya kewaspadaan. Semua lembaga swasta lokal harus terus memperbarui informasi terkait perkembangan situasi. Baik di tingkat federal maupun lokal, mereka harus mengikuti setiap perkembangan yang terjadi. Tujuannya jelas: menjaga keamanan dan keselamatan bersama.
Sumber internal Apple membenarkan situasi ini. Mereka mengungkapkan bahwa keputusan penutupan gerai-gerai tersebut memang murni untuk keamanan. Pemicunya adalah eskalasi konflik yang semakin panas di Timur Tengah. Apalagi setelah serangan AS dan Israel ke Iran baru-baru ini, situasi benar-benar berubah drastis.
Epic Fury: Saat AS dan Israel Mengguncang Teheran
Amerika Serikat dan Israel benar-benar nekat. Mereka melancarkan serangan ke sejumlah titik di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Operasi militer gabungan ini diberi nama sandi “Epic Fury” dan terjadi pada Sabtu (28/2/2026). Waktu serangan ini sangat kritis karena terjadi di tengah negosiasi soal program nuklir dan rudal balistik Iran. Sebelumnya, Washington sudah berminggu-minggu melontarkan ancaman yang semakin meningkat.
Tapi Iran tidak tinggal diam. Tak lama setelah serangan itu, pasukan Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke beberapa lokasi militer AS di kawasan. Target mereka jelas: pangkalan Al Udeid di Qatar, pangkalan Al-Salem di Kuwait, pangkalan Al-Dhafra di Uni Emirat Arab, dan markas armada kelima AS di Bahrain. Guncangan juga terasa di Riyadh, Arab Saudi, sementara pangkalan AS di Yordania dikabarkan juga menjadi sasaran.
Reaksi Dunia: dari Kecaman hingga Dukungan
Situasi yang meledak ini langsung memicu reaksi keras dari berbagai penjuru dunia. Para pemimpin dan pejabat penting angkat bicara. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyatakan kekecewaannya. Ia mengatakan negosiasi serius yang dimediasi oleh negaranya “sekali lagi dirusak.” Ia pun mendesak AS untuk tidak semakin terjerumus ke dalam konflik yang lebih dalam.
Uni Eropa melalui kepala kebijakan luar negerinya, Kaja Kallas, menggambarkan situasi ini sebagai kondisi yang “berbahaya.” Ia menyerukan perlindungan bagi warga sipil dan meminta semua pihak menghormati hukum internasional. Suara keras juga datang dari Presiden Perancis, Emmanuel Macron. Ia memperingatkan bahwa konflik ini membawa “konsekuensi serius bagi perdamaian dan keamanan internasional.” Macron menegaskan bahwa eskalasi saat ini berbahaya bagi semua orang dan harus segera dihentikan.
Dari Rusia, Wakil Ketua Dewan Keamanan, Dimitry Medvedev, melontarkan kritik pedas kepada Trump. Ia menuduh Washington menggunakan negosiasi hanya sebagai “kedok operasi” militer. Sementara itu, Inggris mengambil sikap yang berbeda. Mereka menyatakan bahwa Iran tidak boleh diizinkan mengembangkan senjata nuklir. Inggris siap mempertahankan kepentingannya di kawasan.
Kanada juga angkat bicara. Perdana Menteri Mark Carney menyatakan dukungannya terhadap upaya AS. Mereka sepakat untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir yang dapat mengancam perdamaian internasional. Situasi yang terus berkembang ini tentu menjadi perhatian global, dan penutupan Apple Store di UEA hanyalah salah satu dampak nyata dari ketegangan yang melanda kawasan tersebut.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










