Dentmas.id – Selama ini, sebagian besar masyarakat, terutama generasi muda, mungkin masih menggenggam erat keyakinan bahwa kuliah di fakultas hukum atau kedokteran ibarat memegang “tiket emas” menuju kehidupan mapan. Mereka membayangkan karier cemerlang dengan gaji ratusan juta rupiah mengalir deras setiap bulannya. Namun, tahukah Anda? Pandangan tradisional yang sudah mengakar puluhan tahun ini kini mendapatkan pukulan telak dari seorang tokoh teknologi kelas dunia.

Jad Tarifi, mantan eksekutif Google yang juga pendiri tim kecerdasan buatan (AI) generatif pertama di perusahaan raksasa itu, secara mengejutkan mematahkan anggapan tersebut. Pria yang kini duduk sebagai CEO startup AI Integral ini berbicara dengan sangat blak-blakan. Ia dengan tegas menyatakan bahwa menghabiskan waktu bertahun-tahun di bangku sekolah hukum atau kedokteran kini tidak lagi otomatis membuka pintu menuju karier impian. Bahkan, ia menyebut gelar-gelar prestisius itu berisiko menjadi usang termakan zaman.
Mengapa Gelar Tinggi Tiba-Tiba Kehilangan Pamor di Mata AI?

Lantas, apa sebenarnya yang menyebabkan gelar hukum, kedokteran, bahkan hingga program doktoral (Ph.D.) kini berada dalam ancaman kepunahan fungsional? Menurut Tarifi, biang kerok utamanya terletak pada metode pendidikan yang masih terjebak di masa lalu. Sistem pembelajaran di fakultas-fakultas elite tersebut, menurutnya, masih terlalu bergantung pada hafalan dan pengenalan pola-pola baku.
Coba kita bayangkan sejenak. Pekerjaan sehari-hari seorang pengacara junior atau dokter muda, pada tahap awal karier, sering kali hanya berkutat pada tugas-tugas rutin yang monoton. Seorang pengacara muda mungkin menghabiskan waktu berminggu-minggu hanya untuk memilah tumpukan dokumen hukum setinggi gunung. Ia juga harus mencari preseden kasus yang relevan dari ribuan halaman putusan pengadilan. Sementara itu, seorang dokter muda sering kali bertugas mendiagnosis gejala klinis dasar yang sudah tertulis rapi di buku teks medis.
Nah, inilah titik lemahnya. Kemampuan menghafal dan menarik informasi berdasarkan pola tersebut, yang selama ini menjadi andalan para profesional pemula, kini sudah bisa diambil alih oleh model bahasa besar atau Large Language Model (LLM). Teknologi seperti ChatGPT mampu melakukan pekerjaan itu dengan sangat cepat dan akurat, bahkan tanpa merasa lelah.
Faktanya sudah berbicara keras. Model AI generasi terbaru saat ini terbukti mampu lulus ujian sertifikasi pengacara dan ujian lisensi medis di Amerika Serikat. Yang lebih mencengangkan, nilai yang mereka raih bahkan melampaui rata-rata nilai manusia! Bayangkan, sebuah mesin bisa mengalahkan ribuan jam belajar keras para calon profesional hanya dalam hitungan detik.
Durasi Studi yang Panjang versus Evolusi AI yang Supercepat
Selain masalah hafalan yang kini mudah ditiru mesin, ada masalah struktural lain yang tak kalah serius. Coba perhatikan, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan studi kedokteran, hukum, atau program doktor? Umumnya, seseorang harus menghabiskan waktu lima hingga delapan tahun untuk benar-benar diakui sebagai ahli di bidangnya. Di era yang serba cepat ini, durasi tersebut terasa sangat panjang dan melelahkan.
Tarifi dengan tegas menggarisbawahi sebuah fakta mencengangkan. Kecepatan evolusi teknologi AI saat ini berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan lambatnya perubahan kurikulum akademik. Ia memperingatkan, “AI itu sendiri akan berubah secara fundamental pada saat Anda menyelesaikan studi tersebut.” Artinya, risiko yang harus ditanggung mahasiswa sangatlah besar.
Alih-alih lulus sebagai ahli di bidang mutakhir yang siap bersaing, mereka justru berisiko tinggi mendapati kenyataan pahit. Pengetahuan teoretis yang mereka pelajari dengan susah payah selama bertahun-tahun, mungkin sudah bisa dieksekusi secara otomatis oleh sebuah software sederhana saat mereka baru saja mengenakan toga di hari wisuda. Sungguh ironis, bukan?
Gaji Besar Bukan Lagi Jaminan, Lalu Apa Penggantinya?
Lebih jauh lagi, Tarifi menyoroti motivasi utama generasi muda dalam menempuh pendidikan tinggi. Dahulu kala, memiliki gelar lanjutan seperti master atau doktor adalah jaminan mutlak untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji enam digit (ratusan ribu dollar AS). Gelar adalah tiket masuk ke zona nyaman finansial.
Namun, karena nilai dari sekadar “mengetahui informasi” kini perlahan mendekati angka nol akibat kemudahan akses AI, jaminan finansial tersebut perlahan tapi pasti mulai memudar. Tarifi kemudian memberikan nasihat yang mungkin terdengar radikal. Ia menyarankan agar para pelajar hanya mengejar gelar kedokteran, hukum, atau S3 jika mereka benar-benar memiliki obsesi dan passion yang mendalam terhadap riset murni di bidang tersebut. Jangan pernah melakukannya semata-mata hanya karena ingin mencari keamanan finansial, karena keamanan itu mungkin sudah tidak ada lagi saat mereka lulus.
Lalu, Apa yang Harus Dilakukan Generasi Muda?
Pertanyaan besarnya kini, jika gelar tinggi bukan lagi jaminan mutlak untuk karier yang aman dari gempuran otomatisasi, apa yang sebaiknya dilakukan oleh generasi muda? Apakah mereka harus putus asa?
Tentu saja tidak! Sebagai informasi penting, Tarifi menilai sistem pendidikan formal saat ini sudah tertinggal jauh dari perkembangan zaman. Ia dengan tegas menyarankan agar para mahasiswa lebih cepat terjun ke dunia nyata. Mereka harus mulai mengasah keterampilan praktis sejak dini, bukan hanya berkutat dengan teori-teori abstrak di kelas.
Dunia sedang berubah, dan ukuran kesuksesan pun ikut bergeser. Tidak menutup kemungkinan, di masa depan, kesuksesan seorang dokter dan pengacara tidak lagi diukur dari seberapa banyak pasal dalam undang-undang yang mereka hafal di luar kepala. Juga tidak dari seberapa banyak nama penyakit Latin yang mereka ingat. Ukuran itu akan berganti.
Profesional masa depan akan dinilai dari tingkat empati yang mereka tunjukkan kepada pasien atau klien. Mereka akan dihargai karena kecerdasan emosional yang tinggi, kemampuan beradaptasi yang luar biasa, serta cara mereka membangun koneksi antarmanusia yang hangat dan tulus. Inilah keahlian-keahlian unik yang belum bisa direplikasi oleh kecerdasan buatan mana pun di dunia. Jadi, sudah siapkah Anda menyambut masa depan yang baru ini?
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










