Dentmas.id – Bersiap-siaplah merogoh kocek lebih dalam! Pasalnya, harga smartphone dan PC (komputer pribadi) diprediksi bakal melambung tinggi pada 2026. Akibatnya, pengguna harus siap-siap tekor jika berniat membeli perangkat baru tahun depan. Biang keladi kenaikan harga ini tak lain adalah komponen Random Access Memory (RAM) yang harganya terus meroket. Kelangkaan komponen ini secara global terutama terjadi karena permintaan dari industri AI yang menggila untuk keperluan server dan data center. Sejak beberapa bulan terakhir, harga RAM memang sudah menunjukkan tren kenaikan yang konsisten dan diprediksi akan bertahan hingga tahun depan; Anda bisa membaca laporan lengkapnya di artikel ini. Kondisi memprihatinkan ini otomatis mendongkrak harga HP dan PC, yang pada akhirnya akan membebani konsumen.
Gara-Gara AI, Harga HP Sekarang Sudah Naik!
Fenomena kenaikan harga ini bahkan sudah bisa kita saksikan sejak akhir tahun 2025, lho! Sebagai contoh, iQoo 15 yang rilis awal Desember 2025 di Indonesia langsung dibanderol Rp 13 juta untuk varian dasar 12/256 GB. Harganya jelas terpantau naik signifikan dibanding pendahulunya, iQoo 13, yang rilis November 2024 lalu dengan harga Rp 10 juta untuk konfigurasi yang sama. Artinya, terjadi kenaikan fantastis sekitar Rp 3 juta atau 30% hanya dalam selang satu tahun!
Tak hanya iQoo, raksasa Xiaomi juga mengikuti langkah serupa. Pada November kemarin, Presiden Xiaomi Lu Weibing secara terbuka mengumumkan rencana kenaikan harga produk ponsel mereka dalam sebuah konferensi pers. Weibing menjelaskan bahwa keputusan pahit ini mereka ambil sebagai respons atas melonjaknya harga chip memori, yang didorong oleh permintaan luar biasa dari sektor server AI. Karena tekanan ini, Weibing pun secara terbuka memperingatkan konsumen tentang kenaikan harga ponsel Xiaomi yang akan datang. “Saya memperkirakan tekanan akan jauh lebih berat tahun depan dibanding tahun ini,” tegas Weibing. “Secara umum, konsumen mungkin akan mendapati kenaikan harga ecer produk yang cukup besar. Vendor mungkin harus mengatasi sebagian tekanan melalui kenaikan harga, walaupun cara ini saja tidak akan cukup,” papar bos Xiaomi tersebut.
Sebenarnya, ini bukanlah peringatan pertama dari Weibing. Pada Oktober 2025 lalu, ia sudah memaparkan bahwa lonjakan harga chip memori memaksa kenaikan harga smartphone. Pernyataan ini muncul setelah sejumlah konsumen menyuarakan kekecewaan mereka atas harga Redmi K90. Ponsel andalan sub-brand Xiaomi itu dibanderol 2.599 yuan (sekitar Rp 6,1 juta) untuk versi dasar 12/256 GB, sehingga harganya naik dari pendahulunya, Redmi K80, yang dibanderol 2.499 yuan (sekitar Rp 5,8 juta) pada November 2024. Meski sudah memberikan peringatan, Weibing tidak merinci besaran persentase kenaikan harga untuk produk Xiaomi di tahun depan. Beliau juga tidak menjelaskan apakah lonjakan harga ini akan berlaku secara global termasuk Indonesia, atau hanya terbatas pada pasar tertentu.
Strategi Vendor: Harga Naik, Spek Malah Dipangkas!
Menaikkan harga langsung hanyalah salah satu strategi yang akan diterapkan vendor. Selain itu, untuk tetap bisa bersaing di tengah badai kenaikan harga RAM, para produsen diprediksi akan menerapkan strategi pemangkasan kapasitas RAM. Strategi “spek dikorbankan” ini terutama akan mereka terapkan pada ponsel entry level dan mid-range yang sangat sensitif terhadap harga. Dengan memotong kapasitas RAM, harga ponsel-ponsel tersebut tahun depan tetap akan naik, tetapi kenaikannya tidak terlalu drastis sehingga diharapkan tetap kompetitif di pasaran.
Menurut laporan firma riset ternama Trendforce, ponsel dengan RAM 16 GB kemungkinan besar akan menjadi produk yang langka. Sebaliknya, ponsel dengan RAM 4 GB justru akan lebih mendominasi pasar dibandingkan kondisi saat ini. Hasil analisis Trendforce memprediksi, ponsel kelas menengah yang sebelumnya mengusung RAM 12 GB akan dipangkas sekitar 50 persen, yang artinya berpotensi besar kembali ke konfigurasi dasar, yaitu antara 6 GB hingga 8 GB. Sementara itu, demi menekan biaya produksi dan menjaga daya saing harga, ponsel kelas bawah yang biasanya sudah menggunakan RAM 8 GB diprediksi akan terpaksa kembali menggunakan RAM 4 GB atau 6 GB pada 2026.
PC Ikut Terimbas, Kenaikan Capai 20 Persen!
Nasib serupa juga akan menimpa dunia PC. PC turut menjadi korban dari kenaikan harga RAM global. Laporan terbaru dari firma riset pasar International Data Corporation (IDC) dengan tegas menyatakan bahwa mulai tahun depan, industri PC kemungkinan besar akan memasuki tahun yang berat. IDC menjelaskan bahwa pasar kini tengah memasuki fase “memory supercycle”, yakni kondisi di mana permintaan memori sangat tinggi, tetapi stoknya sangat terbatas. Akibatnya, harga RAM dan chip memori pun melonjak tak terkendali.
Efek domino dari kenaikan ini bahkan merembet ke harga komponen pengolah grafis atau GPU. Produsen GPU besar seperti AMD dan Nvidia, disebut-sebut akan menaikkan harga produk mereka karena biaya DRAM umum juga ikut terdampak. Analisis IDC menunjukkan bahwa kenaikan harga memori ini terjadi di momen yang sangat tidak tepat, yaitu bersamaan dengan masa akhir dukungan Windows 10 dan tren PC untuk AI. Tren AI justru memaksa permintaan RAM yang lebih besar, sehingga menciptakan tekanan ganda.
Mimpi Buruk untuk Gamer & Perlambatan Tren AI PC
IDC dengan gamblang menyebut situasi ini sebagai “mimpi buruk” bagi konsumen yang berencana merakit PC sendiri di tahun depan. Mereka mengungkapkan bahwa para produsen PC global mulai memberikan sinyal kenaikan harga yang cukup tajam. Beberapa perusahaan raksasa seperti Lenovo, Dell, HP, Acer, dan Asus, konon telah mengonfirmasi bahwa harga PC pada 2026 kemungkinan akan naik 15 sampai 20 persen. Perusahaan-perusahaan tersebut juga akan melakukan penyesuaian kontrak sebagai respons atas kondisi pasar yang bergejolak. “Lenovo, Dell, HP, Acer, dan ASUS telah memperingatkan pelanggan tentang kondisi yang lebih sulit di masa mendatang, mengkonfirmasi kenaikan harga 15-20 persen, dan penyesuaian kontrak sebagai respons seluruh industri,” tulis IDC.
Selain harga yang naik, IDC juga memperkirakan bahwa pengiriman PC global pada 2026 akan mengalami penurunan hingga 4,9 persen. Penurunan pengiriman diprediksi bisa lebih besar lagi jika harga komponen terus merangkak naik dan pasokan memori semakin menipis. Lebih jauh, kenaikan harga memori ini diprediksi akan mengubah peta persaingan industri. Original Equipment Manufacture (OEM) atau merek besar diperkirakan akan semakin mendominasi pasar. Sementara itu, vendor-vendor kecil atau tukang rakit lokal bakal semakin tertekan karena harga komponen individual menjadi terlalu mahal untuk mereka.
Kondisi inilah yang kemudian diperkirakan IDC akan mendorong konsumen, terutama gamer, untuk beralih membeli perangkat PC yang sudah dirakit lengkap (pre-built). Terkait tren kecerdasan buatan (AI) pada PC yang sempat sangat ramai pada 2024-2025, IDC memprediksi bahwa tren ini justru akan melambat mulai tahun depan. Mereka menyebut, fitur AI on-device seperti Copilot+ membutuhkan konfigurasi RAM yang lebih besar, sementara pasokan memori sedang terbatas. Kondisi dilematis ini lantas membuat produsen diproyeksi akan mengambil dua opsi: mengurangi spesifikasi RAM atau menahan pengembangan fitur AI mereka. Tujuannya jelas, agar harga perangkat PC mereka tidak melonjak terlalu tinggi dan tetap terjangkau, sebagaimana dihimpun dari Wccftech.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










