Dentmas.id – Ambisi Elon Musk ternyata tidak ada matinya. Kini, raksasa internet satelit milik SpaceX, Starlink, secara mengejutkan resmi membanting setir untuk masuk ke ranah bisnis operator seluler. Langkah berani ini mereka buktikan dengan menyiapkan jaringan 5G terestrial (jaringan darat) bernama Starlink Mobile di Amerika Serikat.
Demi mewujudkan proyek raksasa tersebut, SpaceX langsung menggaet raksasa produsen chip ternama, Qualcomm, sebagai pemasok utama infrastruktur 5G mereka. Selanjutnya, Qualcomm bakal menyuplai perangkat keras berbasis platform Dragonwing untuk menyokong puluhan ribu lokasi menara seluler yang rencananya mulai berdiri secara bertahap pada 2027 mendatang.
Kehadiran jaringan darat ini nantinya tidak cuma berdiri sendiri, melainkan bertugas melengkapi layanan seluler berbasis satelit Starlink yang sudah ada sebelumnya. Hasilnya, SpaceX berhasil menggabungkan kekuatan satelit di luar angkasa dan menara seluler di bumi ke dalam satu ekosistem komunikasi yang sangat solid.
Proses eksekusi pembangunan fisik jaringan menara ini sendiri akan resmi berjalan mulai 2027. Setelah itu, tim teknis SpaceX memproyeksikan pembangunan ini bakal mencakup puluhan ribu lokasi menara seluler strategis yang membentang selama beberapa tahun ke depan.
Mengenai terobosan besar ini, Senior Vice President Starlink, Michael Nicolls, menyampaikan optimisme yang luar biasa. Beliau menegaskan bahwa Starlink sedang merancang jaringan terintegrasi pertama di dunia yang menyatukan satelit dan sistem darat secara penuh, sehingga masyarakat bisa tetap terhubung di mana saja tanpa hambatan.
Lebih lanjut lagi, Nicolls menjelaskan bahwa SpaceX akan memanfaatkan seluruh teknologi canggih dan keahlian mendalam milik Qualcomm. Langkah strategis ini bertujuan untuk mempercepat proses pengembangan arsitektur stasiun pemancar (base station) Starlink Mobile secara menyeluruh dan efisien.
Bersenjatakan Teknologi Monster Qualcomm Dragonwing
Dalam kerja sama bernilai tinggi ini, Qualcomm menyuplai perangkat kelas atas seperti platform Dragonwing QRU100 dan QDU100, sekaligus menyediakan perangkat lunak Radio Access Network (RAN) Layer 1.
Selanjutnya, seluruh modul teknologi canggih dari Qualcomm tersebut akan bekerja secara beriringan dengan perangkat lunak Layer 2 dan Layer 3 yang dirancang khusus oleh tim internal SpaceX.
Secara teknis, komponen Dragonwing QRU100 bertugas menangani pemrosesan data tingkat tinggi pada unit radio. Sementara itu, komponen QDU100 mengambil alih eksekusi pemrosesan Layer 1 yang membutuhkan respon latensi sangat rendah.
Tidak berhenti di situ, Starlink Mobile juga mengadopsi arsitektur raksasa Massive MIMO 64T64R yang sangat bertenaga. Arsitektur canggih ini memuat 64 jalur transmisi serta 64 jalur penerimaan sinyal sekaligus, yang secara signifikan mampu memperluas daya jangkau sinyal, mendongkrak kapasitas trafik data, dan mengoptimalkan efisiensi spektrum frekuensi.
Menyikapi kolaborasi spektakuler ini, Executive Vice President sekaligus General Manager Technology Planning, Edge Solutions, and Data Center Qualcomm, Durga Malladi, mengungkapkan rasa bangganya. Beliau menyatakan bahwa kesepakatan besar bersama SpaceX ini tercatat sebagai proyek infrastruktur 5G terbesar yang pernah disabet oleh Qualcomm sepanjang sejarah perusahaan.
Malladi juga menambahkan bahwa proyek ambisius ini menandai penggelaran pertama teknologi jaringan 5G Dragonwing dalam skala masif di pasar AS.
Padahal sebelumnya, beberapa operator seluler terkemuka di berbagai negara luar, termasuk Vietnam, sudah lebih dulu mencicipi ketangguhan perangkat Dragonwing ini.
Menggabungkan Menara Seluler Darat dengan Satelit Luar Angkasa
Jika kita cermati, strategi anyar ini sangat berbeda dari layanan Direct to Cell milik Starlink yang selama ini memancarkan sinyal langsung dari satelit ke HP pengguna. Sebab, jaringan anyar ini sengaja dibangun dengan mengandalkan fondasi menara seluler 5G berbasis darat.
Nantinya, puluhan ribu menara seluler di darat tersebut bakal memakai koneksi internet satelit Starlink sebagai backhaul utama, yakni jalur pipa data yang menghubungkan pemancar lokal langsung ke pusat jaringan utama.
Berdasarkan laporan mendalam dari PCMag, SpaceX melalui skema unik ini berupaya keras melahirkan sebuah arsitektur baru yang menyatukan keunggulan konektivitas satelit berkecepatan tinggi dengan keandalan jaringan seluler konvensional.
Caplok Spektrum Eksklusif hingga Persiapan Menuju Era 6G
Untuk memperlancar operasional frekuensi jaringan tersebut, SpaceX bakal memanfaatkan spektrum seluler strategis yang berhasil mereka caplok dari EchoStar.
Perlu kita ketahui, pada tahun 2025 lalu, SpaceX telah menuntaskan kesepakatan pembelian lisensi spektrum AWS-4 dan H-block milik EchoStar yang mencakup rentang frekuensi vital di kisaran 2 GHz untuk menggelar komunikasi seluler generasi baru.
Berbagai bocoran laporan industri sebelumnya bahkan membocorkan bahwa SpaceX sedang mengincar target ambisius untuk mendirikan sekitar 80.000 lokasi menara seluler demi menyokong Starlink Mobile.
Jumlah raksasa ini terbukti setara dengan total infrastruktur menara makro yang kini dimiliki oleh para pemain kawakan AS seperti AT&T, T-Mobile, dan Verizon.
Meskipun demikian, kesepakatan kontrak antara SpaceX dan Qualcomm untuk saat ini fokus pada penyediaan infrastruktur menara seluler makro (macro cell) saja. Artinya, Qualcomm tidak bertindak sebagai pemasok teknologi pemancar skala kecil (small cell) dalam proyek tahap awal ini.
Sebagai solusinya, pihak SpaceX sebelumnya sudah memberikan sinyal kuat bahwa perangkat pemancar terminal Starlink di rumah-rumah pelanggan kelak bisa difungsikan sebagai femtocell mandiri. Langkah cerdas ini tentunya dapat membantu memperluas jangkauan sinyal hingga ke sudut-sudut ruangan yang sulit terjangkau.
Sayangnya, baik pihak Qualcomm maupun SpaceX memilih untuk tetap menutup rapat kerahasian nilai investasi finansial dari kontrak kerja sama jangka panjang ini.
Namun yang pasti, kedua perusahaan menegaskan bahwa arsitektur jaringan yang mereka rancang saat ini sudah disiapkan agar bisa terus berevolusi mengikuti perkembangan teknologi komunikasi di masa mendatang.
Selain berfokus memperluas jangkauan sinyal 5G saat ini, Qualcomm bahkan sesumbar bahwa fondasi infrastruktur yang mereka bangun bersama SpaceX bakal menjadi batu pijakan utama menuju era jaringan 6G berbasis kecerdasan buatan (AI) di masa depan.
Sementara dari sisi luar angkasa, SpaceX tidak tinggal diam karena mereka terus menggemjot kapasitas jaringan satelit Starlink lewat peluncuran satelit generasi V3. Satelit anyar ini hadir dengan ukuran yang jauh lebih bongsor serta membawa kapasitas transfer data yang berlipat ganda lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









