Dentmas.id – Pasar keuangan global mendadak gempar luar biasa setelah raksasa manufaktur semikonduktor Intel secara mengejutkan meluncurkan proyeksi kinerja keuangan kuartal IV-2026 yang meleset jauh di bawah ekspektasi para analis papan atas Wall Street.
Lebih lanjut, gelombang kekecewaan investor langsung memicu aksi jual panik hingga menyebabkan harga saham Intel ditutup terjerembap sebesar 28,6 persen pada sesi perdagangan Jumat (30/10/2026) waktu setempat. Dampak dari kemerosotan instan ini sungguh fantastis karena berhasil menghapus nilai pasar perusahaan hingga mencapai 140 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 2.539 triliun hanya dalam hitungan satu hari perdagangan saja.
Berdasarkan hasil kalkulasi mendalam dari Yahoo Finance yang merujuk pada histori data penutupan harga Norgate Data sejak Mei 1973, kejatuhan drastis ini resmi tercatat sebagai bencana finansial terburuk kedua sepanjang sejarah berdirinya korporasi Intel.
Tak hanya itu, rekor malapetaka saham terparah Intel sebelumnya pernah meledak pada 5 Juli 1974 silam, yang mana pada saat itu nilai pergerakan saham perusahaan menderita penurunan ekstrem hingga menyentuh angka 29,9 persen.
Kendati demikian, skala kejatuhan yang terjadi pada perdagangan Jumat lalu terbukti jauh lebih menyakitkan jika dibandingkan dengan koreksi harga sebesar 26,1 persen yang sempat mengguncang pasar pada 2 Agustus 2024 silam.
Padahal, sebelum badai aksi jual ini menghantam pasar, saham Intel sebenarnya sempat menikmati aksi reli raksasa yang sangat spektakuler sepanjang tahun 2026. Bahkan, jika kita hitung sejak awal tahun 2026, nilai saham perusahaan ini sempat melonjak tajam hampir empat kali lipat hingga sukses mengukuhkan rekor harga tertinggi sepanjang sejarah pada 22 Juni 2026.
Meskipun terkoreksi sangat dalam akibat guncangan terbaru ini, pergerakan saham Intel sebetulnya masih membukukan kenaikan kumulatif sebesar 80 persen sepanjang tahun ini. Namun begitu, para investor tetap menelan pil pahit karena kapitalisasi perusahaan kini sudah kehilangan lebih dari separuh nilai puncaknya yang pernah diraih pada bulan Juni lalu.
Di samping itu, sesi penutupan bursa mematok harga saham Intel berada di kisaran 60 dollar AS (sekitar Rp 1 juta), yang mana angka ini menandai posisi terendah sejak 22 April 2026. Akibatnya, penurunan curam tersebut langsung memusnahkan seluruh hasil lonjakan besar yang terjadi pada 24 April lalu ketika saham Intel sempat meroket hingga 24 persen hanya dalam sehari.
Proyeksi Pendapatan dan Laba Intel Anjlok Parah di Bawah Ekspektasi Pasar
Lebih jauh lagi, kepanikan masif para pelaku pasar sebenarnya terasa cukup ironis mengingat performa aktual perusahaan sepanjang kuartal III-2026 sejatinya memperlihatkan hasil yang tergolong cukup tangguh dan solid.
Faktanya, Intel mampu mengantongi laba per saham yang disesuaikan (adjusted EPS) sebesar 0,52 dollar AS (sekitar Rp 9.426), sebuah perolehan angka yang secara meyakinkan melampaui ramalan para analis keuangan. Selain itu, kinerja lini bisnis pusat data (data center) milik perusahaan juga melonjak tajam hingga berhasil menyumbang pendapatan masif sebesar 7,3 miliar dollar AS (sekitar Rp 132 triliun).
Akan tetapi, para pemegang saham memilih untuk mengabaikan catatan manis kuartal ketiga tersebut dan lebih menyoroti estimasi kinerja masa depan kuartal IV-2026 yang dinilai penuh dengan sinyal bahaya.
Oleh sebab itu, kekhawatiran bursa meledak ketika pihak Intel memproyeksikan target omzet kuartal IV hanya berkisar antara 15 miliar dollar AS hingga 16 miliar dollar AS (sekitar Rp 271 triliun hingga Rp 290 triliun). Padahal, konsensus analis di Wall Street sebelumnya memasang ekspektasi tinggi bahwa pendapatan perusahaan sanggup menembus kisaran 17 miliar dollar AS (sekitar Rp 308 triliun).
Di samping proyeksi omzet yang seret, manajemen Intel juga memprediksi perolehan laba per saham hanya akan menyentuh angka 0,25 dollar AS pada kuartal mendatang. Sayangnya, angka perkiraan internal ini berada jauh di bawah ekspektasi optimis analis pasar yang membayangkan laba per saham Intel bisa menembus 0,43 dollar AS.
Alhasil, adanya jurang pemisah yang sangat lebar antara ramalan manajemen dan harapan para investor langsung menjadi pemicu utama meletusnya aksi pelepas saham Intel secara masif di pasar finansial.
Bahkan, analis senior dari Bernstein, Stacy Rasgon, melontarkan kritik pedas dengan menyebut bahwa prospek bisnis Intel saat ini berada dalam kondisi yang sangat buruk. Oleh karena itu, Rasgon tanpa ragu langsung memotong target harga saham Intel secara drastis dari yang semula 110 dollar AS (sekitar Rp 1,9 juta) menjadi tinggal 75 dollar AS (sekitar Rp 1,3 juta) per lembar.
Krisis Pasokan Memori Global Menghantam Keras Bisnis PC Intel
Selain harus menghadapi kekecewaan proyeksi laba, masalah pelik lainnya yang sedang mencekik Intel bersumber dari pelemahan drastis di pasar komputer pribadi (PC).
Kondisi ini terjadi akibat lonjakan permintaan chip memori untuk infrastruktur data center berbasis kecerdasan buatan (AI) yang berkembang sangat agresif. Akibatnya, arus permintaan AI ini menyedot pasokan memori global secara besar-besaran sehingga melambungkan harga komponen penting yang juga dibutuhkan dalam manufaktur perakitan laptop dan komputer desktop.
Dampaknya, manajemen Intel kini memperkirakan bahwa total volume pengiriman PC di seluruh dunia akan terperosok sekitar 12 persen sepanjang 2026 dan diperkirakan kembali merosot hingga 10 persen pada tahun 2027 mendatang.
Lebih lanjut, perwakilan Intel menegaskan bahwa periode kelam pada segmen pasar PC diprediksi belum akan berakhir sampai rantai pasokan memori kembali pulih ke tingkat normal dan harganya menjadi jauh lebih stabil.
Tak hanya tertekan oleh krisis pasar PC, Intel juga harus menanggung kemalangan akibat timbulnya gangguan operasional pada fasilitas pabrik mereka di Israel. Malapetaka berupa insiden tak terduga di pabrik tersebut diperkirakan bakal memangkas potensi omzet perusahaan hingga sebesar 300 juta dollar AS (sekitar Rp 5,4 triliun) khusus pada kuartal IV 2026.
Pada akhirnya, efek domino dari kejatuhan Intel turut menyeret harga saham perusahaan teknologi penyokong lainnya, di mana para produsen PC kenamaan seperti Dell dan HP ikut mengalami koreksi harga di lantai bursa.
Nilai Investasi Jumbo Pemerintah AS Tergerus Triliunan Rupiah
Menariknya, musibah penurunan tajam harga saham Intel ini ternyata tidak hanya merugikan investor swasta, melainkan juga memukul portofolio kepemilikan aset milik pemerintah Amerika Serikat (AS).
Untuk diketahui, pemerintah AS tercatat menguasai sekitar 9,9 persen saham Intel setelah mereka resmi merampungkan transaksi pembelian pada Agustus 2025 lalu dengan patokan harga 20,47 dollar AS per lembar saham.
Namun demikian, akibat dari penurunan drastis harga saham Intel dalam sesi perdagangan terbaru ini, nilai bersih dari portofolio saham milik pemerintah AS langsung tergerus hingga lebih dari 10 miliar dollar AS.
Meskipun begitu, jika kita hitung secara akumulatif, nilai investasi total pemerintah AS sejatinya masih mengantongi keuntungan sekitar tiga kali lipat jika dibandingkan dengan jumlah dana awal yang mereka keluarkan saat membeli saham tersebut.
Di tengah gempuran badai bisnis yang bertubi-tubi ini, CEO Intel Lip-Bu Tan dengan penuh keyakinan menegaskan bahwa usaha untuk merestrukturisasi dan membangun kembali keperkasaan perusahaan pasti membutuhkan kurun waktu yang tidak sebentar.
“Proses memulihkan performa Intel tentu akan menjadi sebuah perjalanan panjang selama beberapa tahun ke depan, namun saya tetap mengusung komitmen penuh untuk mengeksekusi rencana ini hingga tuntas,” tegas Tan dalam konferensi hasil keuangan perusahaan yang dirangkum dari Yahoo Finance.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.








