Dentmas.id – Dunia teknologi kembali diguncang kabar fantastis. Anthropic, perusahaan di balik kecerdasan buatan Claude, dikabarkan baru saja meneken perjanjian penyediaan cloud computing senilai US$10 miliar atau setara Rp 180 triliun. Namun yang bikin geleng-geleng kepala, kontrak sebesar itu justru jatuh ke tangan Volta Infra, sebuah startup infrastruktur AI yang usianya baru menginjak tujuh bulan! Bayangkan, perusahaan sekelas Anthropic yang notabene raksasa AI dunia mempercayakan kebutuhan cloud raksasanya kepada pendatang baru yang masih sangat hijau.
Siapa Sebenarnya Volta Infra?
Volta Infra selama ini dikenal sebagai salah satu pelopor penyedia infrastruktur cloud yang mengusung konsep ramah lingkungan. Mereka sangat serius mengedepankan penggunaan energi terbarukan untuk menopang seluruh operasional fasilitas mereka. Di tengah hiruk-pikuk industri AI yang dikenal boros listrik, Volta berani tampil beda dengan menerapkan sistem pendingin cairan atau liquid cooling yang super canggih. Teknologi ini diklaim mampu memangkas konsumsi daya pusat data secara signifikan, sehingga biaya operasional pun ikut terdongkrak efisiensinya. Tentu saja, hal ini menjadi nilai jual yang sangat kuat di mata Anthropic.
Komitmen Lingkungan Jadi Prioritas
Bagi Anthropic, menekan jejak karbon atau carbon footprint dari proses pelatihan model kecerdasan buatan bukanlah sekadar gimmick belaka. Ini merupakan salah satu prioritas utama perusahaan. Dengan menjalin kerja sama bersama Volta, mereka tetap bisa melakukan komputasi berskala raksasa secara efisien tanpa perlu mengorbankan komitmen pelestarian lingkungan yang sudah mereka gaungkan sejak awal. Kesepakatan durasi enam tahun ini pertama kali dilaporkan Bloomberg, yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui langsung seluk-beluk transaksi tersebut. Menariknya, baik Anthropic maupun Volta sama-sama memilih bungkam dan menolak memberikan komentar resmi soal laporan ini. Sikap tutup mulut ini justru semakin memicu spekulasi dan keingintahuan publik.
Pengumuman Misterius Volta Infra
Volta sendiri hanya mengumumkan secara terbatas bahwa mereka telah menandatangani kesepakatan senilai US$10 miliar dengan sebuah laboratorium AI ternama, namun tanpa menyebut secara gamblang siapa kliennya. CEO Volta, Ricard Boada, dengan hati-hati enggan mengonfirmasi identitas klien tersebut secara langsung ketika ditanya oleh awak media. Sikap diplomatis ini tentu saja membuat banyak pihak penasaran, meski sudah menjadi rahasia umum bahwa laboratorium AI yang dimaksud tidak lain adalah Anthropic.
Pusat Data di Norwegia
Kapasitas cloud yang diperjanjikan dalam kesepakatan kolosal ini akan dipasok dari sebuah pusat data yang terletak di Tydal, Norwegia, dengan kapasitas total mencapai 133 megawatt. Fasilitas megah ini dikembangkan secara bersama-sama dengan Bitdeer Technologies Group, sebuah perusahaan penambang kripto yang kini mulai mengalihkan sebagian besar fasilitasnya dari operasi penambangan Bitcoin menuju infrastruktur AI. Peralihan strategis ini menunjukkan bagaimana lanskap industri teknologi terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Pusat data tersebut akan ditenagai sepenuhnya oleh listrik tenaga air, sehingga memastikan keberlanjutan energi yang bersih dan terbarukan. Selain itu, fasilitas ini juga akan dilengkapi dengan chip generasi terbaru buatan Nvidia, yaitu Vera Rubin, yang merupakan penerus dari arsitektur Blackwell yang selama ini mendominasi pasar.
Saham Bitdeer Melonjak!
Kabar gembira ini langsung berdampak positif pada pasar saham. Saham Bitdeer melonjak sekitar 14 persen setelah kabar kesepakatan ini mencuat ke publik. Lonjakan ini mencerminkan optimisme pasar yang begitu besar terhadap transformasi bisnis perusahaan yang semula fokus pada penambangan kripto, kini mulai merambah ke sektor infrastruktur AI yang jauh lebih menjanjikan. Investor pun tampak antusias menyambut langkah diversifikasi ini.
Perjalanan Singkat Volta Infra
Volta sendiri baru didirikan pada Januari 2026 oleh para mantan eksekutif Brookfield Asset Management, sebuah perusahaan manajemen aset ternama. Meski usianya masih sangat muda, perusahaan ini telah berhasil mengumpulkan pendanaan sebesar US$300 juta atau sekitar Rp 5,4 triliun lewat putaran pendanaan awal dan Seri A. Dengan valuasi yang mencapai angka fantastis US$2,4 miliar atau sekitar Rp 43,2 triliun, Volta menjelma menjadi unicorn dalam waktu yang sangat singkat.
Deretan investor Volta pun tak main-main. Ada nama besar seperti Andreessen Horowitz, Altimeter Capital, Azora, serta Nvidia sendiri yang turut menyuntikkan dana bersama miliarder Michael Dell. Volta juga tercatat sebagai bagian dari program Nvidia Cloud Partner, yaitu konsorsium penyedia layanan cloud yang memakai GPU Nvidia di pusat data mereka. Afiliasi dengan Nvidia ini tentu menjadi nilai tambah yang sangat kredibel bagi Volta.
Ekspansi Agresif Volta
Volta menyebut bahwa mereka telah mengamankan daya listrik hingga 1 gigawatt untuk kebutuhan jangka pendeknya di kawasan Amerika Utara dan Eropa, dengan fasilitas di Tydal, Norwegia, sebagai lokasi pertama yang beroperasi. Tidak berhenti di situ, perusahaan juga turut mengumumkan program infrastruktur AI terpisah senilai US$5 miliar atau sekitar Rp 90 triliun bersama manajer aset Azora untuk mendanai proyek-proyek pusat data di masa mendatang. Ekspansi agresif ini menunjukkan bahwa Volta tidak main-main dalam membangun ekosistem infrastruktur AI yang mumpuni.
Bagian dari Ekspansi Besar-besaran Anthropic
Kesepakatan dengan Volta ini menambah panjang daftar kerja sama penyediaan layanan cloud yang belakangan gencar dijalin oleh Anthropic. Sebelumnya, mereka juga telah menjalin kolaborasi dengan SpaceX milik Elon Musk, produsen chip Advanced Micro Devices (AMD), serta Akamai Technologies. Raksasa AI ini memang sedang dalam mode ekspansi besar-besaran untuk mengamankan kapasitas komputasi yang dibutuhkan. Bahkan, Anthropic dilaporkan juga tengah menjajaki kesepakatan untuk menyewa pusat data milik Meta Platforms, yang nilainya diperkirakan bisa mencapai angka yang sama fantastisnya, yakni US$10 miliar selama dua tahun ke depan.
Pendanaan dan Rencana IPO
Anthropic sebelumnya berhasil mengumpulkan pendanaan sebesar US$65 miliar atau sekitar Rp 1.170 triliun tahun ini untuk menutupi biaya pengembangan AI yang terus membengkak. Dengan dana sebesar itu, mereka berani melakukan investasi jangka panjang dalam infrastruktur cloud yang andal. Perusahaan bahkan disebut-sebut tengah mempertimbangkan opsi untuk melantai di bursa saham atau IPO sesegera mungkin tahun ini, sebagaimana dihimpun dari laporan Bloomberg. Jika terealisasi, IPO ini akan menjadi salah satu yang paling dinantikan di sektor teknologi.
Pertumbuhan eksplosif Anthropic dan kemitraan strategisnya dengan pemain-pemain kunci seperti Volta Infra menunjukkan bahwa persaingan di industri AI semakin memanas dan penuh kejutan. Startup tujuh bulan yang mampu mengamankan kontrak Rp 180 triliun membuktikan bahwa inovasi dan komitmen terhadap keberlanjutan adalah kunci sukses di era digital ini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










