Dentmas.id – Bayangkan, sebuah kecerdasan buatan yang sama sekali buta terhadap internet, smartphone, bahkan Perang Dunia II. Kedengarannya mustahil di era serba digital ini, bukan? Namun, para peneliti justru sengaja menciptakan AI “kuno” yang hanya mengandalkan pengetahuan dari masa lampau. Mereka memperkenalkan model AI bernama Talkie atau 13B 1930 LM yang dijuluki sebagai “vintage large language model” (LLM). Inilah inovasi yang berani melawan arus dengan menarik kita mundur ke sembilan dekade silam!
Tim pengembang yang terdiri dari Alec Radford, Nick Levine, dan David Duvenaud ini sengaja membatasi pengetahuan AI mereka. Mereka hanya melatih model tersebut menggunakan teks berbahasa Inggris yang terbit sebelum tahun 1931. Bayangkan, tanpa akses ke Wikipedia atau berita terkini, Talkie hanya mengandalkan dokumen-dokumen kuno. Akibatnya, chatbot ini sama sekali tidak mengenal peristiwa besar seperti Perang Dunia II, penemuan internet, atau bahkan perkembangan AI modern yang justru melahirkannya. Inilah yang membuat Talkie sangat berbeda dengan chatbot AI modern seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude yang selalu haus akan data terkini.
Pendekatan unik ini membuat Talkie seolah-olah “hidup” pada era sebelum Perang Dunia II (1935-1945). Karena itu, proyek ini pun disebut sebagai upaya menghadirkan pengalaman “time travel” atau mesin waktu melalui AI. Alih-alih mengetahui berbagai peristiwa modern, Talkie hanya mengenal dunia berdasarkan pengetahuan yang tersedia hingga 1930. Artinya, AI ini tidak mengetahui kejadian-kejadian besar setelah tahun tersebut, seperti Perang Dunia II, internet, smartphone, hingga perkembangan AI modern. Bayangkan betapa uniknya berdialog dengan mesin yang menganggap tahun 2026 sebagai masa depan yang tak terbayangkan!
Mengapa Memilih Tahun Sebelum 1931? Ini Dia Alasannya!
Tentu saja, pemilihan tahun sebelum 1931 bukanlah keputusan yang diambil secara sembarangan. Tim peneliti menjelaskan bahwa sebagian besar karya yang diterbitkan pada tahun tersebut kini telah memasuki domain publik karena aturan masa berlaku hak cipta di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat. Dengan begitu, data pelatihan dapat digunakan secara legal tanpa menimbulkan persoalan hak cipta yang selama ini menjadi salah satu perdebatan terbesar dalam pengembangan AI generatif. Sungguh langkah cerdas untuk menghindari masalah hukum yang kerap membelit industri AI!
Untuk melatih Talkie, para peneliti mengumpulkan sekitar 260 miliar token yang berasal dari berbagai dokumen terbitan sebelum televisi hadir secara luas. Data tersebut mencakup surat kabar era 1920-an yang penuh dengan gaya bahasa khas, jurnal ilmiah era Victoria (sekitar tahun 1837-an) dengan diksi yang elegan, dokumen paten yang penuh dengan istilah teknis kuno, hingga putusan pengadilan yang mencerminkan nilai-nilai hukum masa lalu. Bayangkan betapa kayanya data sejarah yang menjadi santapan AI ini!
Bisa “Berpikir” Seperti Orang Zaman Dulu! Seru, Kan?
Konsep AI seperti Talkie pertama kali diperkenalkan oleh peneliti AI ternama, Owain Evans. Ia menyebut model semacam ini sebagai vintage LLM yang membawa angin segar di tengah hiruk-pikuk AI modern. Tujuannya bukan sekadar membuat chatbot bernuansa jadul yang sekadar bergaya retro, melainkan menghadirkan AI yang benar-benar memiliki sudut pandang sesuai periode sejarah tertentu. Dengan demikian, pengguna bisa bertanya mengenai ilmu pengetahuan, budaya, politik, hingga kehidupan sehari-hari berdasarkan pemahaman yang dimiliki masyarakat pada masa itu. Wah, seperti punya teman ngobrol dari masa lalu!
Selain sebagai simulasi sejarah yang mengasyikkan, model seperti Talkie juga dinilai berguna untuk meneliti bagaimana bahasa berkembang dari waktu ke waktu. Kosakata, gaya penulisan, hingga makna sebuah kata terus berubah sepanjang sejarah. Model AI dengan batas waktu tertentu dinilai dapat membantu peneliti memahami perubahan tersebut secara lebih akurat daripada sekadar membaca buku sejarah. Dengan Talkie, para linguis bisa mengamati secara langsung bagaimana frasa-frasa kuno digunakan dalam konteks yang autentik!
Meski Idenya Menarik, Talkie Juga Punya Kekurangan
Meski idenya sangat menarik dan inovatif, Talkie belum sepenuhnya akurat seperti yang diharapkan. Para penelitinya dengan jujur mengakui bahwa tantangan terbesar justru berasal dari proses penyusunan data pelatihan itu sendiri. Sebagian besar sumber berasal dari hasil pemindaian (scan) buku dan koran berusia puluhan hingga ratusan tahun yang sering kali buram dan sulit dibaca. Akibatnya, kualitas data sangat bergantung pada teknologi Optical Character Recognition (OCR) yang mengubah dokumen, foto, atau file PDF menjadi teks yang bisa dicari, disalin, dan diedit. Teknologi ini pun masih memiliki banyak keterbatasan!
Menurut tim peneliti, hasil OCR mentah membuat performa model hanya mencapai sekitar 30 persen dibandingkan jika menggunakan data transkripsi yang bersih dan ditulis langsung oleh manusia. Bayangkan, dari seratus persen kemampuan ideal, Talkie hanya mampu mencapai tiga puluh persen karena keterbatasan data! Setelah melalui proses pembersihan data yang panjang dan melelahkan, performanya meningkat hingga sekitar 70 persen, tetapi masih jauh dari ideal. Artinya, masih ada ruang besar untuk perbaikan di masa depan.
Selain itu, tim peneliti juga harus memastikan tidak ada informasi yang diterbitkan setelah tahun 1930 “bocor” ke dalam data pelatihan agar perspektif historis model tetap terjaga. Proses penyaringan ini seperti menyaring pasir untuk mencari emas, tetapi justru sebaliknya—mereka harus membuang “emas” modern agar mendapatkan “pasir” kuno yang autentik. Dalam pengujian awal, Talkie juga masih menunjukkan gejala halusinasi seperti chatbot AI lainnya yang sering mengada-ada saat tidak mengetahui jawaban pasti.
Menarik untuk Peneliti, Bukan untuk Pengguna Umum
Meski masih memiliki berbagai kekurangan, para peneliti menilai proyek ini tetap menarik. Proyek ini membuka peluang baru yang belum pernah tergarap sebelumnya untuk mempelajari sejarah secara interaktif, evolusi bahasa secara dinamis, hingga menguji sejauh mana AI mampu memahami konteks suatu zaman secara mendalam. Model ini juga tersedia secara terbuka di platform Hugging Face melalui link berikut dan GitHub di link ini, sehingga para peneliti dari seluruh dunia bisa ikut mengembangkannya.
Namun, perlu diingat bahwa Talkie disebut lebih cocok dimanfaatkan oleh kalangan peneliti dibandingkan pengguna umum yang mengharapkan jawaban akurat, sebagaimana dihimpun dari Gizmodo dan Gadget Review. Jadi, jika Anda mencari asisten digital yang bisa membantu pekerjaan modern, Talkie jelas bukan pilihan tepat. Tetapi, bagi para sejarawan, linguis, atau penggemar sejarah yang ingin merasakan sensasi berkomunikasi dengan “manusia” dari masa lalu, Talkie bisa menjadi jendela waktu yang paling revolusioner!
Dengan demikian, Talkie hadir sebagai bukti bahwa inovasi tidak selalu harus bergerak maju. Kadang, melihat ke belakang dengan cara yang cerdas justru dapat membuka wawasan baru yang tak terduga. Bagaimana menurutmu, Sobat Gadget? Tertarik untuk mencoba “time travel” digital ini?
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










