Dentmas.id – Pernah bayangkan suara Anda tiba-tiba muncul di produk teknologi raksasa dunia tanpa sepengetahuan? Nah, itulah yang sekarang dialami David Greene, mantan penyiar radio Amerika Serikat. Ia menggugat Google karena merasa suaranya digunakan secara sepihak untuk melatih kecerdasan buatan mereka. Bukan main-main, gugatan ini langsung menyasar raksasa teknologi itu beserta perusahaan induknya, Alphabet.
Bukan Penyiar Biasa, Ia Sudah Melegenda di Dunia Radio
David Greene sendiri bukan penyiar kaleng-kaleng. Ia pernah menjadi host program Morning Edition di NPR dan membawakan acara Left, Right & Center di stasiun radio KCRW. Jadi, suaranya sudah akrab di telinga banyak pendengar setia di Amerika. Karena itu, saat teknologi AI Google mulai meniru suaranya, ia langsung merasa ada yang tak beres.
Pada dokumen gugatan yang resmi diajukan ke Pengadilan Tinggi California di Santa Clara County, Greene dengan tegas menuduh Google menggunakan suaranya tanpa izin. Ia menyebut perusahaan itu memanfaatkan suaranya untuk mengembangkan, melatih, dan menyempurnakan produk siaran berbasis AI bernama NotebookLM. Produk ini sejatinya dirancang sebagai asisten riset yang membantu pengguna mengolah dokumen digital. Namun, belakangan fiturnya berkembang cukup drastis.
Fitur Baru Google Memicu Kecurigaan Para Penyiar
Pada musim gugur 2024, Google memperkenalkan fitur anyar bernama Audio Overviews. Fitur ini memungkinkan sistem menghasilkan konten audio bergaya podcast secara otomatis dari file yang diunggah pengguna. Menariknya, suara yang dihasilkan terdengar begitu alami, mirip seperti pembawa acara sungguhan. Di sinilah masalah mulai muncul bagi Greene.
Tak lama setelah fitur itu dirilis, Greene mulai menerima pesan dari sejumlah orang. Mereka menghubunginya dan bertanya apakah ia diam-diam bekerja sama dengan Google. Pasalnya, salah satu suara pria dalam podcast yang dihasilkan NotebookLM terdengar sangat mirip dengan suara khas Greene. Ia pun kaget dan merasa ada yang janggal karena ia tak pernah memberi izin sama sekali.
Google Membantah, Tapi Tak Bisa Membuktikan
Mendapat tuduhan serius ini, Google langsung buka suara. Juru bicara perusahaan dengan tegas membantah semua tuduhan Greene. Mereka menyebut klaim mantan penyiar itu tidak berdasar dan jauh dari fakta. Menurut Google, suara pria yang muncul di fitur Audio Overviews berasal dari aktor profesional berbayar. Mereka merekrut aktor tersebut secara khusus untuk proyek itu, bukan mengambil suara Greene tanpa izin.
Namun, Greene tak tinggal diam mendengar bantahan itu. Ia merasa penjelasan Google kurang masuk akal karena perusahaan itu tidak mengungkap identitas aktor profesional yang dimaksud. Karena itu, ia memutuskan mengambil langkah investigasi mandiri. Greene menyewa perusahaan forensik independen yang memang berspesialisasi di bidang pengenalan suara.
Bukti Forensik Membuat Kasus Ini Makin Panas
Perusahaan forensik itu kemudian membandingkan suara Greene dengan sampel suara dari fitur Audio Overviews NotebookLM. Mereka menggunakan metode ilmiah dan teknologi canggih untuk menganalisis kemiripan kedua suara tersebut. Hasilnya pun cukup mengagetkan dan menguatkan kecurigaan Greene.
Analisis forensik menunjukkan tingkat keyakinan antara 53 hingga 60 persen bahwa suara Greene digunakan untuk melatih sistem AI NotebookLM. Skala penilaiannya sendiri berkisar dari minus 100 hingga 100 persen. Artinya, hasil ini cukup signifikan untuk menunjukkan adanya kemiripan yang tak bisa diabaikan begitu saja. Greene pun makin yakin untuk melanjutkan gugatannya ke pengadilan.
Kasus ini tentu belum tahu bagaimana kelanjutannya di meja hijau. Namun yang jelas, gugatan Greene ini menambah panjang daftar kontroversi seputar penggunaan suara profesional di industri teknologi AI. Banyak selebritas, artis, dan penyiar mulai resah karena suara mereka rentan digunakan tanpa izin untuk melatih mesin pintar.
Sebelum kasus Greene, pada 2024 lalu aktris Hollywood Scarlett Johansson juga pernah bersuara lantang. Ia keberatan dengan suara AI di chatbot milik OpenAI yang dinilai sangat mirip dengan suaranya. Saat itu, OpenAI langsung bertindak cepat dengan menarik suara kontroversial tersebut dari platform mereka. Mereka tak mau ambil pusing menghadapi amarah publik dan sang aktris ternama.
Sementara di sisi lain, ada perusahaan teknologi yang justru memilih jalur aman dengan bekerja sama secara resmi. ElevenLabs, misalnya, memilih menjalin kemitraan lisensi dengan sejumlah selebritas terkenal. Mereka menggandeng aktor kawakan Matthew McConaughey dan Michael Caine untuk menggunakan suara mereka secara sah. Langkah ini tentu lebih elegan dan menghindarkan mereka dari gugatan hukum di kemudian hari.
Kini, semua mata tertuju pada pengadilan California. Publik penasaran apakah Google bisa membuktikan bahwa suara di NotebookLM benar-benar berasal dari aktor profesional. Atau justru sebaliknya, Greene berhasil membuktikan bahwa suaranya dipakai secara diam-diam. Apapun hasilnya, kasus ini akan menjadi preseden penting bagi perlindungan hak suara di era kecerdasan buatan.
Yang jelas, teknologi AI memang membawa kemudahan luar biasa. Tapi di sisi lain, ia juga membuka kotak pandora baru terkait etika dan hak cipta. Suara, yang selama ini dianggap sebagai identitas pribadi, ternyata bisa direplikasi dan dimanfaatkan tanpa sepengetahuan pemiliknya. Jika tidak diatur dengan baik, bukan tak mungkin kita semua bisa jadi korban berikutnya.
Jadi, sudah siapkah Anda jika suatu hari suara Anda tiba-tiba muncul di asisten digital tanpa izin? Mungkin kita semua perlu lebih waspada dan mulai memikirkan perlindungan atas identitas suara kita sendiri. Karena di era serba digital ini, suara bukan sekadar alat bicara, tapi juga aset berharga yang layak dilindungi hukum.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










