Dentmas.id – Ambisi Elon Musk untuk mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) ternyata sudah melampaui batas imajinasi kita semua. Melalui SpaceX, perusahaan dirgantara legendaris miliknya, Musk secara resmi mengajukan rencana super nekat: membangun pusat data AI raksasa yang berbasis di luar angkasa! Jadi, lupakan saja data center konvensional di darat yang boros lahan, karena Musk akan memindahkan awan komputasinya ke orbit Bumi.

Baca Juga: Kebocoran Data! Blueprint iPhone dan Vision Pro Tersebar, Apple Masih Bungkam
Rencana gila ini pertama kali tersingkap ke publik melalui dokumen pengajuan yang SpaceX kirimkan ke Federal Communication Commission (FCC) Amerika Serikat, tepatnya pada Jumat (30/1/2026). Yang paling bikin mata terbelalak, dalam dokumen itu SpaceX meminta izin untuk meluncurkan hingga satu juta satelit! Angka fantastis ini hampir 100 kali lipat lebih banyak dari total satelit yang saat ini beroperasi di atas kepala kita. Sebelumnya, memang sempat beredar kabar burung tentang ide gila ini di internal SpaceX. Gagasan orbital ini semakin kuat mencuat bersamaan dengan desas-desus bahwa Elon Musk sedang mempersiapkan SpaceX untuk Go Public di bursa saham.
Dari Bumi ke Orbit: Mengejar Komputasi AI yang Tak Terbatas

Lalu, apa sebenarnya tujuan di balik mega proyek ini? Jawabannya sederhana namun monumental: memenuhi kebutuhan komputasi AI yang sedang meledak-ledak! Berdasarkan dokumen pengajuan yang berhasil diungkap oleh media ternama PCMag, pusat data orbital ini secara khusus akan mereka fungsikan untuk menyediakan kapasitas komputasi superbesar bagi perkembangan AI. SpaceX dengan tegas berargumen bahwa pusat data di orbit adalah solusi final untuk menjawab permintaan daya komputasi AI yang terus melonjak tak terkendali. Oleh sebab itulah, mereka memberanikan diri meminta izin membangun sistem satelit dalam skala yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.
Baca Juga: Di Balik Euforia AI, Cisco Temukan Kerentanan Kritis di Infrastruktur Perusahaan Indonesia
Mari kita jabarkan lebih detail: dalam dokumen tersebut, SpaceX menyatakan akan mengerahkan armada satelitnya yang mencapai satu juta unit. Armada raksasa ini akan beroperasi pada lapisan-lapisan orbit yang sempit, dengan rentang ketinggian hanya sekitar 50 kilometer untuk setiap lapisan. SpaceX terus mendesak bahwa pusat data orbital adalah cara paling efisien secara energi untuk memuaskan dahaga komputasi AI. Klaim efisiensi ini konon berasal dari rencana pemanfaatan sistem tenaga surya secara maksimal di ruang hampa. Menurut mereka, biaya operasional dan pemeliharaan sistem surya di luar angkasa justru jauh lebih rendah dibandingkan di Bumi yang penuh gangguan cuaca. Selain itu, potensi kecepatan pemrosesan data juga dikatakan lebih optimal karena lebih dekat dengan sumber dan tujuan transmisi data global.
Baca Juga: Snap Resmi Pisahkan Divisi Kacamata AR ke dalam Perusahaan Mandiri ‘Specs Inc.’
Tantangan Regulasi: Mimpi Satu Juta Satelit Vs Realitas Persetujuan FCC

Namun, tunggu dulu! Jangan terlalu heboh dulu, karena rencana spektakuler SpaceX ini belum tentu mendapat lampu hijau sepenuhnya dari regulator. Faktanya, berdasarkan track record pengajuan-pengajuan sebelumnya, FCC tercatat beberapa kali memotong habis jumlah satelit yang diminta SpaceX. Sebagai contoh nyata, pada awal Januari 2026 ini saja, FCC hanya menyetujui permintaan SpaceX untuk menambah sekitar 7.500 satelit Starlink, yang melanjutkan 7.500 satelit sebelumnya di tahun 2022.
Jumlah persetujuan ini jelas jauh lebih kecil dibandingkan pengajuan awal SpaceX pada tahun 2020, di mana mereka meminta izin untuk mengorbitkan hampir 30.000 satelit sekaligus. Dengan kata lain, meski Elon Musk dikenal dengan ambisinya yang melangit, FCC tetap memegang kendali penuh atas lalu lintas di angkasa. Kekhawatiran utama regulator biasanya berkisar pada risiko tabrakan, sampah antariksa, dan gangguan terhadap astronomi. Oleh karena itu, perjalanan satu juta satelit menuju orbit masih akan melalui proses panjang negosiasi dan evaluasi yang sangat ketat. Pada akhirnya, meskipun idenya brilian, rencana ini harus dihadang oleh realitas birokrasi dan keamanan operasional luar angkasa.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










