Dentmas.id – Lewat kebijakan pembatasan ekspor yang ketat, pemerintah Amerika Serikat secara resmi menutup akses China untuk membeli atau memiliki GPU paling canggih Nvidia saat ini, yaitu Blackwell. Akibatnya, raksasa teknologi China merasakan pukulan telak bagi ambisi AI mereka. Namun demikian, larangan ini ternyata tidak sepenuhnya mematikan. Selanjutnya, mari kita telusuri bagaimana ceritanya chip super ini akhirnya bisa “menyelinap” ke tangan China.
GPU Nvidia Blackwell, Jantungnya Revolusi AI yang Diperebutkan
GPU Nvidia Blackwell sendiri memegang peranan yang sangat vital dalam industri AI. Pasalnya, Blackwell secara khusus dirancang untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI modern, termasuk untuk melatih model bahasa besar (LLM) seperti GPT. Bahkan, kecepatannya diklaim berkali-kali lipat lebih tinggi dari generasi sebelumnya (H100). Oleh karena itu, komponen mutakhir ini berpotensi membuat sistem AI menjadi lebih cepat, pintar, dan efisien.
Skema Pintar: Sewa, Bukan Beli
Meskipun dilarang memiliki Blackwell secara langsung, sebuah laporan terbaru membongkar fakta mengejutkan bahwa China ternyata masih bisa menggunakan chip ini. Caranya adalah melalui kerja sama penyewaan dengan perusahaan telekomutikasi Indonesia, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH). Dengan kata lain, Indosat berubah menjadi “jembatan” yang tak terduga.
Laporan eksklusif ini dipublikasikan oleh outlet media ternama, Wall Street Journal (WSJ). Lebih detail lagi, WSJ mengungkapkan bahwa sebuah startup pengembang AI asal Shanghai, INF Tech, yang fokus pada aplikasi keuangan dan kesehatan, berhasil memperoleh akses ke 2.300 GPU AI Nvidia Blackwell yang sangat didambakan itu melalui Indosat Ooredoo. Artinya, larangan AS berhasil mereka akali dengan skema yang cerdik.
Rantai Pasokan yang Cerdik dan Penuh Tanda Tanya
Lalu, bagaimana alur pastinya? Semuanya bermula dari California, tempat Nvidia menjual chip terbarunya kepada sebuah perusahaan bernama Aivres. Perlu diketahui, Aivres ini merupakan salah satu mitra resmi pembangun server AI. Yang menjadi sorotan, sejumlah pihak menuduh bahwa sebagian kepemilikan Aivres dikuasai oleh Inspur, perusahaan teknologi China yang sudah masuk daftar hitam AS sejak 2023. Walaupun demikian, klaim ini masih perlu pembuktian lebih lanjut.
Di sisi lain, Aivres sendiri berstatus sebagai perusahaan yang berbasis di AS. Alhasil, mereka tidak terdampak oleh pembatasan ekspor, asalkan mereka tetap mematuhi semua aturan yang berlaku di sana. Nah, dari sinilah Indosat Ooredoo akhirnya mendapatkan chip Nvidia Blackwell yang sangat langka itu.
Transaksi Fantastis dan Pemasangan di Jakarta
Konon kabarnya, Indosat Ooredoo dilaporkan membeli sebanyak 32 rak server Nvidia GB200 atau GPU Blackwell dari Aivres. Bayangkan, setiap raknya dapat menampung 72 chip Nvidia Blackwell, sehingga total GPU yang berhasil mereka dapatkan mencapai 2.304 unit! Bahkan, perusahaan telekomunikasi ini kabarnya menggelontorkan dana fantastis, sekitar 100 juta dollar AS atau setara dengan Rp 1,6 triliun, hanya untuk transaksi mega ini.
Akan tetapi, ada satu syarat menarik yang diterapkan oleh Indosat. Ternyata, perusahaan ini hanya bersedia melakukan pembelian GPU Blackwell jika mereka sudah mendapatkan komitmen transaksi yang pasti dari pelanggannya, yang dalam hal ini adalah startup AI asal China, INF Tech. Jadi, bisa dikatakan bahwa pembelian ini didorong oleh permintaan yang sudah pasti.
Setelah kontrak dengan perusahaan China itu resmi mereka tandatangani, Indosat Ooredoo langsung merampungkan transaksi pembeliannya. Hebatnya, puluhan rak server GPU Nvidia Blackwell ini konon sudah selesai mereka instalasi di Jakarta sejak Oktober 2024 lalu. Dengan demikian, infrastruktur AI super cepat itu sudah siap beroperasi.
Klaim Kepatuhan dan Posisi Netral Indosat

Singkatnya, INF Tech hanya menyewa akses ke GPU Nvidia Blackwell dari Indosat Ooredoo. Oleh karena skema ini, walaupun INF merupakan perusahaan China, secara hukum transaksi ini tergolong sah. Alasannya, kepemilikan fisik chip tetap berada di Indonesia di bawah kendali Indosat.
Menanggapi laporan WSJ, INF dengan tegas menyatakan bahwa pihaknya selalu mematuhi semua kontrol ekspor AS dan tidak melakukan riset apapun yang terkait dengan urusan militer. Pernyataan ini mereka sampaikan untuk meredam kecurigaan.
Sementara itu, CEO Indosat Ooredoo, Vikram Sinha, juga angkat bicara. Ia menegaskan bahwa pihaknya bekerja sama dengan berbagai perusahaan multinasional, namun selalu memastikan bahwa semua pelanggannya tunduk pada aturan yang berlaku. Lebih lanjut Vikram menambahkan, “Setiap pelanggan di luar Indonesia wajib tunduk pada aturan yang sama, baik itu perusahaan AS maupun China. Jika mereka mematuhi semua peraturan, maka kami akan mendukungnya,” ujarnya. Pernyataan ini secara jelas menegaskan posisi Indosat yang berusaha netral dan patuh hukum.
Dengan demikian, seluruh cerita ini memperlihatkan sebuah celah dalam kebijakan embargo teknologi AS. Meskipun larangan diberlakukan, dunia bisnis yang dinamis ternyata menemukan caranya sendiri untuk memenuhi permintaan pasar. Akhirnya, Indosat tidak sengaja menjadi pemain kunci dalam peta persaingan teknologi AI global antara AS dan China.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Exposenews.id










