Dentmas.id – Dunia teknologi lagi digemparkan! Andrew Tulloch, salah satu jenius di balik layar kecerdasan buatan (AI) sekaligus pendiri startup Thinking Machines Lab (TML), secara mengejutkan memutuskan untuk hengkang dan memilih bergabung kembali dengan raksasa media sosial, Meta. Konon, kabar pengunduran dirinya ini ia konfirmasi langsung lewat sebuah pesan internal kepada seluruh karyawan TML pada tanggal 10 Oktober 2025 lalu. Bahkan, seorang juru bicara TML pun akhirnya membenarkan kepergian sang bintang AI ini. Alasan pribadi menjadi dalih yang mereka ungkapkan ke publik untuk menutupi drama sebenarnya.
Dari Penolakan Fantastis ke Kepututan Mengejutkan
Nah, yang bikin cerita ini makin panas, ternyata sebelumnya Tulloch dikenal sebagai sosok yang sangat idealis. Bayangkan, pada akhir Juli 2025 silam, CEO Meta Mark Zuckerberg sendiri dikabarkan mati-matian mencoba merekrut belasan talenta top dari TML, termasuk salah satu pendirinya, Mira Murati, dengan menawarkan paket kompensasi yang nilainya sulit dibayangkan. Namun, dengan santainya Murati menolak tawaran mentereng itu dan bahkan dengan pedas berkata bahwa “tidak ada satu pun dari TML yang akan menerima tawaran itu.” Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Ternyata, Tulloch justru berbalik arah dan memutuskan untuk bergabung dengan Meta, sehingga tentu saja langkahnya ini memantik banyak spekulasi dan tanda tanya besar.
Nilai Kontrak Ditutup Rapat, Tapi Tawaran Sebelumnya Bikin Melongo
Sampai saat ini, pihak Meta masih menutup rapat-rapat berapa nilai kompensasi yang berhasil mereka gulirkan untuk merayu Tulloch. Akan tetapi, The Wall Street Journal sebelumnya pernah membocorkan bahwa pria ini pernah ditawari paket gaji yang mencengangkan, mencapai 1.5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 24.8 triliun, plus bonus yang tak kalah besarnya, namun saat itu ia tolak! Belum jelas juga apakah nantinya ia akan ditempatkan di tim Superintelligence Lab yang legendaris itu atau justru di divisi lain. Yang pasti, kehadiran Tulloch kembali ke Meta semakin mengukuhkan ambisi Zuckerberg untuk mengumpulkan semua ahli AI terbaik di dunia dalam satu atap.
Pulang Kampung: Perjalanan Karir Tulloch Berakhir di Meta Lagi
Sebenarnya, kita tidak bisa menyebut Andrew Tulloch sebagai “pendatang baru” di Meta. Pasalnya, ia sudah menghabiskan waktu tidak sedikit, yaitu 11 tahun, untuk mengabdi di AI Research Group Facebook sebelum akhirnya memilih mengundurkan diri pada tahun 2023 dan hengkang ke OpenAI. Kemudian, di awal tahun 2025, bersama Mira Murati (mantan petinggi OpenAI), ia pun mendirikan Thinking Machines Lab. Startup ini bahkan sukses mengumpulkan dana segar hingga 2 miliar dollar AS dan meluncurkan produk pertamanya yang bernama Tinker, sebuah API yang fungsinya untuk “menyempurnakan” model AI. Namun, pada akhirnya, Tulloch memutuskan untuk kembali ke “rumah lamanya”, Meta, tempat ia telah membangun karier selama hampir satu dekade.
Perang Bajak Talent: Inilah Para Jagoan AI yang Dirayu Meta
Di sisi lain, Mark Zuckerberg memang sedang tidak main-main dalam perlombaan pengembangan AI. Ia jelas tidak ingin ketinggalan dari pesaing utamanya seperti OpenAI dan Google. Sebagai bukti, pada Juni 2025 lalu, Zuck dengan gesit mengakuisisi Scale AI, sebuah perusahaan pelabelan data, dan sekaligus merekrut CEO-nya, Alexandr Wang, untuk memimpin pengembangan AI di Meta. Tak berhenti sampai di situ, hanya dalam hitungan minggu, ia secara resmi meluncurkan unit bisnis anyar bernama Meta Superintelligence Labs (MSL). Unit ini secara khusus fokus pada pengembangan model AI dasar, termasuk model open-source Llama dan proyek penelitian Fundamental AI Research. Alexandr Wang dari Scale AI pun langsung ditunjuk untuk memimpin MSL, didampingi oleh mantan CEO GitHub, Nat Friedman, serta sederet jagoan AI lain yang berhasil dibajak dengan iming-iming paket kompensasi yang luar biasa besarnya.
Lalu, siapa sajakah para jagoan yang berhasil diboyong Meta? Berikut ini adalah daftar nama-nama yang berhasil dihimpun dari CNBC, beserta sekilas pengalaman hebat mereka di bidang AI:
- Trapit Bansal – Tidak tanggung-tanggung, ia merupakan salah satu pembuat langsung model AI o-series legendaris milik OpenAI.
- Shuchai Bi – Ia berperan penting dalam menciptakan model suara untuk GPT-4o dan o4-mini, dan bahkan sempat memimpin pasca-pelatihan multimodal di OpenAI.
- Huiwen Chang – Ahli yang satu ini mengembangkan kemampuan pembuatan gambar di GPT-4o dan juga menciptakan arsitektur MaskGIT dan Muse untuk teknologi teks-ke-gambar selama di Google Research.
- Ji Lin – Kontribusinya sangat besar dalam pengembangan model o3/o4-mini, GPT-4o, GPT-4.1, hingga GPT-4.5, serta fitur pembuatan gambar di GPT-4o.
- Joel Pobar – Dia pernah menangani inferensi di Anthropic dan sebelumnya menghabiskan 11 tahun di Meta untuk mengerjakan berbagai proyek penting.
- Jack Rae – Ia dulu memimpin tim pre-training untuk Gemini dan pengembangan kemampuan penalaran di Gemini 2.5, serta memproyek LLM awal seperti Gopher dan Chinchilla di DeepMind.
- Hongyu Ren – Namanya tercatat sebagai salah satu pencipta GPT-4o, 4o-mini, o1-mini, o3-mini, o3, dan o4-mini, dan pernah memimpin tim post-training di OpenAI.
- Johan Schalkwyk – Dia adalah mantan Google Fellow dan juga kontributor awal untuk proyek rahasia “Sesame”.
- Pei Sun – Fokusnya berada di area post-training, pemrograman, dan pengembangan penalaran untuk Gemini di Google DeepMind, dan juga menciptakan dua generasi terakhir model persepsi untuk Waymo.
- Jiahui Yu – Ia terlibat dalam pembuatan o3, o4-mini, GPT-4.1, dan GPT-4o, memimpin tim persepsi di OpenAI, dan juga memimpin proyek multimodal untuk Gemini.
- Shengjia Zhao – Pria ini merupakan salah satu pembuat ChatGPT dan pengembang GPT-4, semua model “mini”, 4.1, dan o3, serta memimpin pengembangan data sintetik di OpenAI.
Apple Pun Tak Luput: Talenta Inti AFM Berpindah ke Markas Meta
Tidak hanya dari OpenAI dan Google, ternyata Meta juga dengan agresif membajak talenta-talenta kunci dari Apple. Salah satu nama yang paling anyar dilaporkan hengkang adalah Bowen Zhang. Menurut sumber anonim yang diwawancarai Bloomberg, Zhang diketahui pamit dari Apple pada Jumat, 25 Juli 2025 lalu. Selama di Apple, ia bekerja dalam tim inti Apple Foundation Model (AFM) yang bertanggung jawab penuh atas teknologi dasar Apple Intelligence. Dengan kepergiannya, Zhang resmi menjadi talenta AI keempat Apple yang berhasil direkrut oleh Meta.
Sebelum Zhang, sudah ada tiga jagoan AI Apple lainnya yang lebih dulu membelot. Yang pertama adalah Tom Gunter, seorang peneliti senior model AI yang hengkang pada 30 Juni 2025 dan kemudian dikonfirmasi bergabung dengan tim AI Meta pada 17 Juli 2025. Pentolan berikutnya yang mengejutkan adalah Ruoming Pang, yang bukan orang sembarangan karena ia menjabat sebagai kepala AFM di Apple! Kabar bergabungnya Pang ke Meta mencuat pada 7 Juli 2025, dan konon Zuck memberikan tawaran kompensasi yang sangat menggiurkan, yaitu 200 juta dollar AS atau sekitar Rp 3.2 triliun, hanya untuk merayunya. Talenta ketiga yang ikut bergabung adalah Mark Lee, yang mengundurkan diri bersama Tom Gunter dan memilih untuk mengikuti jejak bosnya, Ruoming Pang, untuk berkarier di Meta.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Exposenews.id










